Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Soal Ustaz Abdul Somad Ditolak Singapura, Ini Respons BNPT

Kamis, 19 Mei 2022 | 09:49 WIB
Oleh : Yustinus Paat / WM
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid angkat bicara soal penolakan kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) dan rombongannya ke Singapura karena UAS disebut menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi. Pertama, kata Ahmad, Pemerintah, termasuk BNPT, menghormati setiap kebijakan yang diambil negara lain dan tidak ada upaya intervensi terkait penolakan kedatangan UAS dan rombongan tersebut.

"Tentu permintaan klarifikasi terhadap hal itu sudah dilakukan oleh stakeholder terkait, dalam hal ini KBRI Singapura. Namun, terpenting saya melihat kebijakan yang dilakukan oleh Singapura sebagai bentuk prediksi atau antisipasi dini terhadap potensi ancaman kepada negaranya," kata Ahmad dalam keterangannya, Kamis (19/5/2022).

Ahmad mengatakan, terdapat perbedaan upaya pencegahan aksi teror antara Indonesia dan Singapura. Pencegahan di Indonesia, kata dia, dilakukan dengan prinsip preventive strike yakni pencegahan ancaman aksi teror sebagaimana dilakukan oleh Densus 88.

Sementara di Singapura, jelas dia, pencegahan lebih di hulu atau pre-emptive strike, yakni pencegahan terhadap potensi ancaman aksi yang disebabkan oleh pandangan, doktrin dan ideologi.

"Hal ini dilakukan karena Singapura memiliki landasan regulasi Bernama ISA atau Internal Security Act yang mencakup pelarangan ideologi, pandangan, dan pemahaman radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme," terang Ahmad.

Singapura, lanjut Ahmad, berani mengambil langkah itu karena jelas ceramah, sikap dan pandangan yang ekslusif, intoleran merupakan watak dasar dari muncul pemahaman radikal terorisme akibat doktrin al-wala wa bara maupun takfiri.

"Inilah yang dilihat oleh Pemerintah Singapura sebagai pandangan yang mengajarkan segregasi yang tidak relevan dan membahayakan negaranya yang multiras-etnik," tegas dia.

Menurut Ahmad, kasus penolakan UAS tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Terutama, kata dia, mencegah aksi-aksi teror di bagian hulu.

"Saya melihat ini justru menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk juga melakukan pencegahan sejak hulu dengan melarang pandangan, pemahaman dan ideologi radikal yang bisa mengarah pada tindakan teror dan kekerasan," kata Ahmad.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI