Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Andy Yentriyani: Penghapusan Diskriminasi Perempuan Masih Hadapi Tantangan

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:01 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Perwakilan tim juri yang juga menjabat sebagai Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani berbicara saat penganugerahan BeritaSatu Inspiring Woman 2022, Kamis, 19 Mei 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Kesetaraan gender merupakan salah satu komitmen konstitusional bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip nondiskriminasi. Secara khusus, Indonesia turut menggagas penghapusan segala bentuk diskriminasi perempuan dan menjadikannya sebagai bagian dari hukum nasional melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita.

Menjelang empat dekade UU tersebut diberlakukan, tentu ada banyak kemajuan yang dicapai, tetapi masih ada juga tantangan yang perlu diatasi.

Hal tersebut disampaikan Andy Yentriyani saat memberi sambutan mewakili dewan juri dalam acara penganugerahan penghargaan Inspiring Women 2022 yang disiarkan oleh Beritasatu News Channel, Kamis (19/5/2022).

Andy Yentriyani yang kini menjabat ketua Komnas Perempuan menyebutkan terdapat enam sektor yang menjadi kategori kepemimpinan perempuan. Keenam sektor yang merupakan indikator dasar kepemimpinan perempuan meliputi bidang kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, antikekerasan terhadap perempuan, ekonomi, serta politik dan pemerintahan.

“Ini adalah sektor-sektor yang penting dan memengaruhi kualitas hidup perempuan dan masyarakat pada umumnya, sekaligus dapat menjadi indikator basic (dasar) kepemimpinan perempuan,” kata Andy.

Andy menyebutkan pada aspek kesehatan menunjukkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang membutuhkan layanan kesehatan lebih banyak dan lebih sering dibandingkan laki-laki.

“Ini antara lain karena perempuan membutuhkan layanan kesehatan yang spesifik terkait peran dan fungsi maturitasnya. Kita masih prihatin terkait dengan angka kematian ibu di Indonesia yang masih lebih dari 110/100.000 kelahiran. Masih menjadi kematian ibu terbesar di kawasan ASEAN,” paparnya.

Selanjutnya, Andy menyoroti masih banyak perempuan pekerja yang masih kesulitan untuk mengakses hak cuti untuk menstruasi. Bahkan ada perusahaan yang mensyaratkan perempuan untuk tidak menikah ataupun hamil selama masa kontraknya.

Andy menuturkan kondisi tersebut sangat memprihatinkan, apalagi saat bersamaan sebagai ibu tentu peran tersebut menjadi hak utama yang harus dipenuhi perempuan.

Sementara di sektor pendidikan, Andy menuturkan rata-rata lama sekolah di Indonesia masih sangat rendah hanya 8,9 tahun serta rata-rata lama sekolah anak perempuan lebih pendek 0,6 tahun dari anak laki-laki.

Andy mengatakan upaya untuk membuat lebih lama perempuan bersekolah sangat penting untuk memastikan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia khususnya perempuan dapat bersaing di tengah arus globalisasi.

Pertumbuhan teknologi khususnya dibidang komunikasi dan informasi, kata Andy menghadirkan kebutuhan berdaya manusia yang mumpuni diberbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saat ini masih sedikit digeluti oleh perempuan ilmuwan dan peneliti di Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan Andy, dengan kapasitas yang rendah perempuan gampang dieksploitasi menjadi tergantung pada pihak lain dan rentan kekerasan. Pasalnya, Komnas Perempuan mencatat pada tahun 2021, kasus kekerasan gender terhadap perempuan yang dilaporkan langsung ke meningkat 80% dari tahun sebelumnya atau sebanyak 3.838 kasus dan terjadi peningkatan 72% dari kasus kekerasan seksual.

Untuk itu, Andy menuturkan upaya pencegahan harus diperkuat dengan kondisi pelaporan terus meningkat maka upaya juga menjadi penting. Oleh karena itu, Andy bersyukur inisiatif di masyarakat terus berkembang untuk menangani kasus kekerasan gender ini.

Kendati demikian, Andy menuturkan dari segenap keterbatasan bahkan di masa krisis perempuan mampu menunjukkan kemampuannya dengan ketekunan dan kegigihannya. Sebagaimana terlihat pada situasi pandemi, kekuatan perempuan menjadi penopang kelangsungan hidup keluarga dan komunitasnya.

“Kekuatan ini mereka ajukan dengan mambangun kemandirian ekonomi, solidaritas maupun pengambilan ruang kebijakan sering disebut sebagai rana politik,” pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI