Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Cacar Monyet, CDC Afrika Khawatirkan Penimbunan Vaksin

Jumat, 27 Mei 2022 | 13:18 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Ilustrasi penyakit cacar monyet.

Addis Ababa, Beritasatu.com- CDC Afrika mengkhawatirkan aksi penimbunan vaksin karena wabah cacar monyet. Seperti dilaporkan Al Jazeera, Kamis (26/55/2022), Pusat Pengendalian dan Pencegahan (CDC) Afrika berharap negara-negara kaya tidak akan menimbun vaksin, seperti yang dilakukan dengan vaksin Covid-19.

Cacar monyet sebagai infeksi virus ringan, merupakan penyakit endemik di 11 negara Afrika termasuk Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo dan Nigeria.

Sejak awal Mei, lebih dari 200 kasus virus yang dicurigai dan dikonfirmasi telah terdeteksi di setidaknya 19 negara, sebagian besar di Eropa.

Akhir pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pihaknya mengharapkan untuk mengidentifikasi lebih banyak kasus cacar monyet karena memperluas pengawasan di negara-negara di mana penyakit itu biasanya tidak ditemukan.

“Vaksin harus diberikan ke tempat yang paling membutuhkan dan merata, jadi berdasarkan risiko, dan bukan pada siapa yang dapat membelinya,” kata Ahmed Ogwell Ouma, penjabat direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika saat jumpa pers pada Kamis.

“Kami bekerja dengan semua negara anggota kami di benua itu untuk meningkatkan pengawasan terhadap cacar monyet,” katanya.

Tidak ada vaksin untuk cacar monyet saat ini tetapi vaksin cacar telah terbukti menawarkan perlindungan hingga 85 persen terhadap cacar monyet.

“Pasokan vaksin cacar yang tersedia akan diprioritaskan untuk petugas kesehatan dan daerah dengan kasus virus yang dikonfirmasi,” tambahnya.

Menurut Ouma, pemberian vaksin diprioritaskan pertama tenaga kesehatan yang berada di garda depan, kemudian masyarakat yang terkena dampak tempat wabah pertama kali dicirikan, sebelum mempertimbangkan masyarakat umum.

“Kami belum memiliki cukup stok untuk bisa masuk ke masyarakat umum,” ujarnya.

Li juga menyerukan lebih banyak tindakan oleh pejabat untuk memulai kembali pabrik setelah karantina.

"Kemajuannya tidak memuaskan. Beberapa provinsi melaporkan bahwa hanya 30% bisnis yang telah dibuka kembali, rasionya harus dinaikkan menjadi 80% dalam waktu singkat," kata Li.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI