Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Insiden Anak Ridwan Kamil, Ini Pandangan dari Dokter

Sabtu, 28 Mei 2022 | 16:48 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / YUD
Area bebas berenang di Sungai Aare,  Bern, Swiss.

Jakarta, Beritasatu.com- Terkait insiden yang menimpa anak Ridwan Kamil, dr Erfen Gustiawan menyatakan agar berhati-hati saat berenang di sungai bebas. Insiden hilangnya anak sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz yang terbawa arus Sungai Aare, di Bern, Swiss pada Kamis (26/5/2022) yang suhu airnya mencapai 16 derajat Celsius, menjadi peringatan agar masyarakat luas waspada dan berhati-hati bila ingin berendam atau berenang di sungai bebas.

Menanggapi hal ini, dr Erfen Gustiawan dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta mengatakan suhu yang berbeda-beda mempengaruhi daya tahan seseorang yang terjebak di air dingin. Memang sungai Aare paling nyaman untuk melakukan berendam dan berenang di saat musim panas karena suhunya berkisar 13-22 derajat Celsius.

"Dengan range suhu seperti itu, seseorang bisa bertahan 2-7 jam sebelum lelah atau tidak sadarkan diri. Tetapi seseorang bisa bertahan hidup 2-40 jam kalau rata-rata suhu 16-22 derajat Celsius. Namun kalau seperti suhu sungai hari ini di kisaran 10-16 derajat Celsius, maka hanya ada waktu 1-2 jam sebelum akhirnya lelah atau pingsan dan bisa bertahan hidup 1-6 jam saja," katanya kepada Beritasatu.com, Sabtu (28/5/2022).

Menurutnya, semua gejala tersebut memang terkait hipotermia dan bagi orang atau masyarakat yang terbiasa cuaca tropis, berenang di Sungai Aare negara Swiss tepat saat musim panas dan terkenal akan kesejukannya.

"Namun kita wajib berhati-hati jika usai hujan karena akan ada arus deras termasuk sampah-sampah yang ikut hanyut. Bukan hanya hati-hati di negara dingin tetapi di mana pun kita harus menguasai medan," kata Sekretaris Umum Persatuan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) ini.

Lebih lanjut Erfen menyarankan, bagi yang ingin berwisata alam seperti berenang di alam terbuka seperti sungai, danau atau laut harus mengerti dan memahami cuaca setempat, mitigasi bencana, peringatan khusus bahkan kalau perlu mengetahui rumah sakit terdekat. Namun biasanya di negara maju informasi tersebut cukup lengkap termasuk Sungai Aare ini.

"Cuma memang penjaga banyak dikurangi Swiss terkait dana dari pemerintah daerah. Tetapi memang yang terpenting kita doakan ananda Pak Emil bisa selamat. Semua tergantung takdir juga, walau semua bisa kita cegah dengan informasi ilmiah," jelasnya.

Erfen pun membenarkan pernyataan Duta Besar (Dubes) RI untuk Swiss Muliaman D Hadad terkait kondisi suhu tersebut bisa menyebabkan hipotermia dan berakibat jantung serta organ vital lainnya gagal berfungsi. Hipotermia terjadi jika suhu tubuh manusia turun di bawah 35 derajat Celsius.

Ia menjelaskan untuk hipotermia terbagi beberapa derajat keparahan. Pertama, suhu 35-32 derajat Celsius dan ini yang paling ringan. Kedua, suhu 32-28 derajat Celsius untuk level sedang. Ketiga, suhu 28-24 derajat dan menjadi level tinggi. Keempat, suhu 24-15 derajat celsius dan kemungkinan seseorang bisa meninggal.

Jika di bawah itu hipotermia menjadi yang sukar diselamatkan. Memang dalam kasus tertentu tenggelam di air dingin, ada kemungkinan hidup terutama jika ada keberuntungan atau orang yang fisiknya terlatih.

"Kadang jika berhasil ditemukan maka kita jangan menyerah dulu karena terkadang akibat suhu dingin bisa membuat korban seakan sudah wafat, padahal belum. Tetapi saya yakin negara Swiss memiliki peralatan lengkap dan sumber daya manusia (SDM) lengkap. Pihak mereka sudah biasa menangani kasus seperti ini karena ini bukan yang pertama terjadi dan sudah banyak juga korban sebelumnya yang hanyut terbawa arus sungai Aare," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI