SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Hadapi Puncak Gelombang Baru Covid-19, Pakar Minta Pemerintah Benahi Hal Ini

Selasa, 28 Juni 2022 | 20:15 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / JEM
Virus Corona

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut puncak gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia diperkirakan terjadi pada minggu kedua atau ketiga Juli 2022, dengan angka kasus antara 17.000-18.000 atau 30% dari puncak Omicron pada Februari 2022.

Menanggapi hal ini, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menyarankan agar pemerintah membenahi kembali beberapa kebijakan penanganan yang pernah dilakukan dan ditegakkan sebelumnya guna menghadapi puncak gelombang Covid-19 berikutnya di Indonesia.

Advertisement

Menurutnya, pengalaman pencegahan dan penanganan Covid-19 ini sudah dipelajari dengan baik sejak tahun 2020 dan 2021. Jadi dari pendekatan kebijakan penanganan juga Indonesia sebenarnya sudah cukup baik dengan adanya PPKM level 1, 2, 3, dan 4.

PPKM tentu saja merupakan pendekatan yang proporsional dan memang spasial karena tergantung dari daerah atau kota di mana kasus memiliki transparansi yang lebih mengkhawatirkan. Maka pendekatan leveling itu memang ditujukan untuk pendekatan spasial.

"Tetapi memang kalau kita lihat dengan adanya kelonggaran dan pelonggaran oleh pemerintah, tentu saja ini mendapatkan tantangan baru laju vaksinasi, di dalam proses 3 bulan terakhir ini lambat sekali untuk vaksinasi booster yang baru sekitar 24%," katanya kepada Beritasatu.com, Selasa (28/6/2022).

Hal ini dinilai cukup mengkhawatirkan karena periode sasi vaksin setiap orang itu berbeda satu sama lain, bahkan ada sekelompok segmen yang sebenarnya sudah harus masuk ke vaksinasi keempat atau dosis kedua booster.

Maka dari itu, upaya untuk vaksinasi ini harus kembali difokuskan, digencarkan, dikampanyekan dan memang harus diorientasikan kembali. Bagaimana tenaga kesehatan beserta fasilitas layanan di bawah sudah siap untuk kembali melakukan vaksinasi secara masif.

Poin berikutnya sebenarnya adalah upaya tes testing dan tracing. Indonesia cukup lemah dalam testing dan tracing, apalagi kalau melihat kecepatan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini begitu cepat.

"Seperti halnya fenomena gunung es kalau kita tidak kuat melakukan testing dan tracing, maka kita sendiri yang akan kewalahan dan hanya akan menjadi kesempatan menunggu saja sampai pada puncak kasus," tegasnya.

Kemungkinan pencetus akan terjadi di akhir Juli bulan depan dan mudah-mudahan Indonesia bisa meminimalisir risiko dengan melakukan upaya-upaya paralel mulai dari peningkatan testing dan tracing, kembali pengawasan protokol kesehatan, adanya ruang-ruang publik yang dilakukan skrining menggunakan PeduliLindungi, kampanye dan juga upaya vaksinasi yang harus kembali dioptimalkan.

"Bahkan upaya skrining dan pembatasan mobilitas yang sewaktu-waktu harus dilakukan sesuai dengan kebijakan travelling dalam PPKM berbasis wilayah," tambah Hermawan.

Sementara untuk mobilitas internasional, justru harus lebih ketat karena Indonesia selalu berhadapan dengan kemungkinan adanya varian baru itu yang datangnya dari luar negara. Maka upaya skrining, swab antigen, PCR sampai upaya karantina dan juga tes whole genome sequencing (WGS) itu menjadi sesuatu yang wajib dilakukan kembali.

Terakhir mungkin yang paling penting adalah kebijaksanaan pemerintah dan juga kesadaran masyarakat berperilaku. Seringkali melihat acara-acara yang sifatnya seremonial hajatan dan bahkan konser ini sekarang begitu bebas dan semakin minim orang-orang menggunakan masker.

"Mudah-mudahan kembali hal itu digalakkan, diawasi dan ditegakkan agar kita tidak mengalami kejadian yang cukup mengkhawatirkan seperti pertengahan 2021 dan awal 2002 yang lalu," pungkas Hermawan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI