SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Tak Terima Ditegur, Mahasiswi Aniaya Polisi di Jakarta Timur

Kamis, 30 Juni 2022 | 18:08 WIB
Oleh : Steve Yanto / FFS
Seorang mahasiswi diduga menganiaya anggota Polres Metro Jakarta Timur karena tidak terima ditegur saat melawan arah di bawah fly over Kampung Melayu, Jakarta, Kamis, 30 Juni 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Seorang mahasiswa berinisial HFR (23) diduga menganiaya anggota polisi berinisial RN. Penganiayaan itu diduga dipicu karena HFR tidak terima ditegur karena melawan arah di bawah fly over Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Ahsanul Muqaffi menuturkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, anggota polisi lalu lintas melihat HFR yang menggunakan sepeda motor melaju dari arah Jatinegara menuju Tebet dengan melawan arah di bawah fly over Kampung Melayu, Jatinegara.

Advertisement

"Akibat pelanggaran tersebut petugas memberhentikan motor yang dikendarai oleh pelaku," kata Ahsanul kepada wartawan, Kamis (30/6/2022).

Namun, HFR justru menabrak anggota kepolisian yang memberhentikan kendaraannya. Tak hanya itu, HFR juga memukul mulut hingga menendang kaki petugas kepolisian.

"Tiba-tiba saudari HFR langsung melakukan pemukulan pada petugas dengan tangan kanan sebanyak satu kali, selanjutnya menggigit, melakukan pemukulan pipi kanan dan bibir petugas hingga berdarah," ujar Ahsanul.

Tak hanya itu, HFR juga berusaha merampas senjata milik anggota polisi yang dianiaya tersebut. Beruntung, upaya HFR itu tidak berhasil.

Akibat penganiayaan itu, HFR ditangkap oleh anggota Unit Kriminal Umum Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur.

Ahsanul mengatakan, anggota polisi berinisial RN selaku korban telah membuat laporan resmi ke Polres Metro Jakarta Timur. Dalam laporan polisi tersebut, pelaku HFR disangkakan Pasal 212 dan 214 KUHP.

"Korban membuat laporan polisi ke Polres Metro Jakarta Timur dengan persangkaan Pasal 212 dan 214," ungkap Ahsanul.

Pasal 212 KUHP berbunyi, "Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya, diancam karena melawan pejabat, dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 4 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500."

Sementara Pasal 214 KUHP berbunyi:

(1) Paksaan dan perlawanan berdasarkan pasal 211 dan 212 jika dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(2) Yang bersalah dikenakan: (1) Pidana penjara paling lama 8 tahun 6 bulan, jika kejahatan dan perbuatan lainnya ketika itu mengakibatkan luka-luka; (2) Pidana penjara paling lama 12 tahun, jika mengakibatkan luka berat; (3) Pidana penjara paling lama 15 tahun, jika mengakibatkan orang mati.

Saat ini korban masih menjalani visum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. HFR yang telah diamankan juga telah menjalani tes urine dan menunjukkan hasil negatif. Dengan demikian, HFR tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau narkoba.

"(Hasil tes urine) negatif," ucap Ahsanul

Meski demikian, pemeriksaan terhadap pelaku masih berlanjut.

"Saat ini korban sedang dilakukan visum di RS Polri Kramat Jati. Sedangkan pelaku dilakukan pemeriksaan oleh penyidik," ujar Ahsanul.

Ahsanul menambahkan untuk saat ini belum ada tanda-tanda kasus tersebut berujung damai.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI