SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kalaupun Gagal, Misi Lawatan Jokowi ke Eropa Tetap Harus Diapresiasi

Jumat, 1 Juli 2022 | 14:34 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Peneliti CSIS, Departemen Ekonomi, Dandy Rafitrandi

Jakarta, Beritasatu.com- Peranan Indonesia sebagai jembatan komunikasi antara G7, G-20, Ukraina, dan Rusia tetap harus diapresiasi kalaupun misi lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal membuahkan hasil. Oleh karena itu, upaya Indonesia tidak boleh berhenti pada lawatan Presiden Joko Widodo saja.

Hal itu dikatakan Peneliti Departemen Hubungan Internasional CSIS, Dandy Rafitrandi dalam Media Briefing Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bertema “Memaknai Lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa” di Jakarta, Jumat (1/7/2022).

Advertisement

“Kita harus fokus pada what’s next? Apa follow up dari lawatan ini? Apakah hasil lawatan ini akan teralisasi atau ditranslate ke dalam agenda-agenda konkret G-20. Jadi yang harus kita fokuskan sekarang adalah jaminan dari Presiden Putin untuk menjamin rantai pasok pangan dan pupuk,” ujarnya.

Dandy menekankan Indonesia harus bisa meningkatkan komitmen dan memobilisasi sumberdaya yang ada di G-20 untuk muncul dalam agenda yang konkret. Dalam jangka pendek, Indonesia juga harus punya strategi dalam mengamankan pasokan pangan dan pupuk. Jika tahun ini, warga dunia bicara soal akses pangan, tapi tahun depan, orang akan berbicara kehilangan pangan itu.

“Kita harus melibatkan negara-negara G20 karena next presidency adalah India. Indonesia harus tahu bagaimana membawa India on board ungtuk memahami pangan dan energi. Indonesia bisa memperlihatkan bagaimana negara-negara berkembang memiliki andil untuk bisa mendamaikan dan menurunkan tensi konflik Rusia-Ukraina,” tambahnya.

Selain pangan dan pupuk, kata Dandy, G-20 bisa mulai memfokuskan bantuan kemanusiaan, untuk rekontruksi di Ukraina. Indonesia mungkin bisa ikut membicarakannya di KTT G-20.

“Mungkin kita juga bisa membicarakan endgame dari sanksi terhadap Rusia. Sampai berapa lama sanksi yang diberikan?Apa term and condition-nya? Sebagai presiden G-20, Indonesia tentu tidak ingin ada tensi ke depannya. Itu artinya apakah Indonesia harus erbicara dengan G7 yang masih menerapkan sejumlah sanksi. Kita harus sadari sanksi tersebut juga berdampak signifikan pada Rusia,” paparnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI