SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Menkes Sebut 2 Strategi Agar Tak Muncul Klaster Iduladha

Senin, 4 Juli 2022 | 16:29 WIB
Oleh : Lenny Tristia Tambun / JEM
Budi Gunadi Sadikin.

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada dua strategi yang harus dilakukan pemerintah bersama masyarakat agar tidak memunculkan klaster Iduladha. Kedua strategi itu adalah tetap disiplin protokol kesehatan dan mempercepat vaksinasi booster.

“Untuk Iduladha, karena memang momentum pergerakan ekonomi lagi jalan dan kita lihat kasusnya masih terkendali, pesannya sama kepada masyarakat tadi, tetapi kebijakan pakai masker kalau di dalam ruangan, kalau di luar boleh dibuka, kalau ada kerumunan atau sakit masker dipakai,” kata Budi Gunadi Sadikin saat memberikan keterangan pers seusai menghadiri rapat evaluasi PPKM di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (4/7/2022).

Advertisement

“Cepat booster. Insyaallah itu merupakan respon yang cukup untuk menghadapi Iduladha dengan normal. Karena sama seperti Idulfitri, alhamdulillah bisa kita lewati dengan normal,” lanjut Budi Gunadi Sadikin.

Kedua strategi ini diperlukan, menurut Budi, karena sudah 81% kasus Covid-19 di Indonesia sudah merupakan subvarian Omicrot BA.4 dan BA.5. “Jadi bukan hanya di Jakarta saja. Jakarta sudah 650 BA.4 dan BA.5. Daerah-daerah lain pun sudah BA.4 dan BA.5,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Budi menegaskan, kebijakan mengenai pemakaian masker yang merupakan bagian dari penerapan protokol kesehatan tidak mengalami perubahan sama sekali. Pemerintah tetap mengizinkan masyarakat tidak menggunakan masker bila di luar ruangan. Sedangkan di dalam ruangan, di tengah kerumunan yang sangat padat dan sedang sakit, maka diwajibkan memakai masker.

“Tidak ada perubahan mengenai (kebijakan memakai) masker,” tegas Budi Gunadi Sadikin.

Lebih lanjut, Budi mengakui hingga saat ini tingkat vaksinasi booster di Indonesia masih rendah. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Tanah Air, tetapi juga di negara-negara lain. Hal ini terjadi karena kebanyakan masyarakat sudah merasa lebih kuat atau kebal terhadap virus Covid-19.

“Perlu kita ketahui data scientific-nya menunjukkan setelah 6 bulan terjadi penurunan. Jadi lebih baik, jauh lebih waspada kalau kita segera melakukan vaksinasi booster. Itu akan memberikan perlindungan. Hati-hati itu tidak ada buruknya,” papar Budi Gunadi Sadikin.

Ia menggambarkan lebih baik disuntik daripada hidungnya di colok-colok untuk melakukan tes PCR.

“Disuntik itu apa sih? Kalau saya sih mending di suntik daripada di colok-colok PCR karena hidungnya kan enggak enak sekali. Suntik ini kan sekali dalam 6 bulan. Ini kita lakukan untuk kehati-hatian dan sangat bermanfaat,” terang Budi Gunadi Sadikin.

Presiden Jokowi juga menyadari, lanjut Budi, bahwa masyarakat Indonesia enggan melakukan vaksinasi booster. Karena itu, pemerintah terpacu untuk mencari cara-cara baru atau terobosan baru agar semakin banyak masyarakat yang sukarela untuk mendapatkan vaksinasi booster.

“Sama seperti dulu, mau vaksinasi orangtua susah sekali. Tetapi begitu masuk mal mesti divaksinasi, orang tua mau semua. Kenapa? karena orang tua senang mengantar cucunya ke mal. Orang Indonesia kan perlu pendekatan-pendekatan sosial yang inovatif seperti itu. Jadi mungkin arahan beliau (presiden) cari pendekatan-pendekatan sosial yang inovatif agar masyarakat Indonesia jadi semangat di booster kembali,” jelas Budi Gunadi Sadikin.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

TERKINI