SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

IDI: Ganja Sebagai Pengobatan Medis Perlu Kajian Mendalam

Senin, 4 Juli 2022 | 19:42 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Ketua Umum PB IDI Adib Khumaidi berbicara saat Rapat Kerja Pengurus yang diadakan di Giesmart Plaza Jakarta.

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), M Adib Khumaidi mengatakan ganja untuk pengobatan medis perlu melalui tahapan kajian yang mendalam.

“Obat baru untuk memenuhi standar pelayanan, maka harus berbasis clinical evidence based,” kata Adib usai acara Konferensi Asosiasi Dokter Medis Sedunia (World Medical Association) tahun 2022 yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (4/7/2022).

Advertisement

Adib menuturkan perlu kajian ilmiah mendalam untuk memenuhi standar keamanan dan efek samping termasuk juga penentuan obat tersebut, yakni masuk sebagai obat utama atau hanya sebagai sampingan, yakni hanya menjadi satu bagian dari pengobatan yang sudah ada.

Dikatakan dalam proses membuat sebuah justifikasi ilmiah atau atau dalam dunia kedokteran maka aspek-aspek ini menjadi suatu bagian yang perlu diperhitungkan.

Lebih lanjut, Adib menuturkan ketika ada masukan ganja sebagai pengobatan medis, maka kajain ilmiah serta praktik pengobatan yang telah dilakukan negara lain seperti Australia.

Dalam hal ini, memastikan ganja sebagai pengobatan medis ini yang digunakan negara tersebut sebagai pengobatan utama karena pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

“Ini yang harus kita pahami, karena di dalam penatalaksanaan sebuah penyakit ada namanya golden standard. Masuk ke dalam pengobatan yang mana. Dan semua itu harus melewati suatu proses evidence based,” paparnya.

Oleh karena itu, Adib menuturkan usulan ganja menjadi obat ini harus dikaji secara ilmiah. Dalam hal ini, IDI dalam menentukan evidence based melalui riset.

“Jadi saya enggak bicara perubahan regulasi atau apa, tetapi bicara dari sudut pandang ilmiahnya. Sudut pandang di dunia kedokteran, maka ini menjadi sangat penting,” ucapnya.

“Karena kepentingan kita sekali lagi adalah keselamatan pasien,” sambungnya.

Adib juga menegaskan tidak bisa menjustifikasi sesuatu pengobatan tanpa ada dasar- dasar ilmiah. Apalagi kepentingan pengobatan adalah keselamatan pasien.

“Jadi IDI sebenarnya mendorong Kementerian Kesehatan, kami (IDI) siap untuk berkolaborasi untuk benar-benar membuat suatu kajian based onriset tentang ini. Yang paling penting pengobatan-pengobatan yang sudah memenuhi standar kita lakukan,” pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI