SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Jokowi Dinilai Punya Pengaruh Besar Damaikan Rusia-Ukraina

Kamis, 7 Juli 2022 | 19:47 WIB
Oleh : Fana F Suparman / FFS
Joko Widodo saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (foto kiri) dan saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin (foto kanan).

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat pertahanan dan militer, Robi Sugara mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berperan sebagai negosiator kelas dunia yang memiliki pengaruh signifikan untuk mendamaikan Rusia dan Ukraina.

Posisi Jokowi sebagai Presidensi G-20 memiliki kekuatan besar dalam melakukan diplomasi baik untuk misi perdamaian, ekonomi, energi, kesehatan maupun pangan.

Advertisement

“Indonesia itu kan menganut kebijakan politik luar negerinya masih nonblok. Saat ini Jokowi punya kepentingan yang terdekat adalah pergelaran G-20 yang akan dilaksanakan di Indonesia di mana kita menjadi presidennya untuk yang G-20 tentu segala upaya yang dilakukan oleh Jokowi saat ini dalam hubungan diplomatiknya lewat para diplomat itu untuk kemudian yang sukseskan acara G-20 nya,” ujar Robi dalam keterangannya Kamis (7/7/2022).

Robi mengatakan, dalam kunjungannya ke Rusia, Jokowi juga turut mengundang Presiden Vladimir Putin untuk hadir pada acara G-20. Demikian juga saat kunjungannya ke Ukraina, Jokowi mengajak Presiden Volodymyr Zelensky.

Robi berharap Putin dan Zelensky hadir pada pertemuan puncak G-20 di Bali. Dengan kehadiran kedua pemimin itu diharakan dapat membuka dialog untuk mengakhiri perang.

“Saya inginnya ditingkatkan setelah G-20 target sekarang kan bahwa setelah nanti acara G-20 sukses diadakan di Indonesia, setelah itu saya kira intensitasnya dalam berhubungan dengan Rusia dan Ukraina itu juga saya kira ditingkatkan kalau perlu menggalang banyak sekali dukungan,” ucapnya.

Menurut Robi, pemerintah bisa memanfaatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk merumuskan langkah-langkah dan strategi menciptakan perdamaian kedua negara tersebut.

“Saya kira bisa lewat BRIN sebagai core-nya. Ke depan harus ditingkatkan komunikasinya hubungan diplomasinya antara Rusia dan Ukraina secara khusus. Saya kira fokus membincang soal perdamaian.” katanya.

Perdamaian Rusia dan Ukraina, kata Robi, perlu melibatkan peran masyarakat sipil dan komunitas lintas agama yang turut menjadi korban dari perang yang terjadi.

“Sebagaimana Indonesia pernah melakukan di berbagai negara seperti Afganistan dan di Filipina kemudian di beberapa negara, Lebanon itu peran masyarakat sipil jika misalkan di situ melibatkan beberapa komunitas agama karena akan selalu bersentuhan peperangan tersebut.” Sambungnya.

Robi turut mengapresiasi upaya yang telah dilakukan Jokowi sebagai langkah awal untuk menciptakan perdamaian dunia sebagai amanat konstitusi negara.

“Ini baru permulaan, tetapi kita harus apresiasi ya, harus kita dorong karena saya kira perang itu apa pun itu alasannya, saya kira tidak bisa dibenarkan karena korbannya adalah masyarakat sipil,” tegasnya.

Dosen hubungan internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, Jokowi dapat memasukkan dalam road map perdamaiannya yang melibatkan kelompok keagamaan atau komunitas agama sebagai bentuk keseriusan menjadi juru damai dunia.

“Peningkatan komunikasi, jadi Jokowi bikin road map untuk kemudian upaya-upaya perdamaian lewat kementerian luar negerinya, Presiden bisa memanggil beberapa tokoh pemimpin agama yang itu bisa melakukan komunikasi yaitu diundang ke istana, meskipun misalnya belum ada yang implementasinya tetapi pemanggilan itu atau rapat itu di istana itu saya kira memiliki dampak yang besar,” ucapnya

Jokowi, katanya, bisa mengambil inspirasi dari langkah Soekarno yang saat itu menghadapi gejolak antara Timur dan Barat. Presiden pertama Indonesia itu membuat gerakan nonblok di Bandung dengan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika tahun 1955 yang dihadiri oleh negara-negara Asia dan Afrika yang baru memperoleh kemerdekaan.

Pada konteks sekarang, yang bisa dilakukan Jokowi adalah dengan memfasilitasi ruang dialog tokoh-tokoh dunia dari berbagai latar belakang agama untuk sama-sama menyerukan perdamaian dunia.

“Saya kira (Jokowi) bisa fasilitasi misalnya para tokoh pimpinan tokoh agama itu di seluruh dunia. Tokoh agama dari misalnya Al-Azhar di Mesir, Vatikan kemudian Kristen Ortodok kemudian Yahudi di Israel berbagai kelompok Budha Hindu itu mereka bahas masalah perdamaian. Kalau kelompok agama yang berbicara itu adalah kebaikan, kasih sayang dan perdamaian,” paparnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI