Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Profesional di Sri Lanka Tinggalkan Mobil, Beralih ke Sepeda

Kamis, 7 Juli 2022 | 22:41 WIB
Oleh : Surya Lesmana / LES
Antrean panjang Bajaj di sepanjang jalan untuk membeli bensin dari sebuah pompa bensin di Kolombo, Sri Lanka pada 6 Juli 2022.

Kolombo, Beritasatu.com – Ribuan warga Sri Lanka termasuk profesional kelas menengah telah meninggalkan mobil mereka di rumah dan beralih menggenjot sepeda untuk beraktivitas hingga berbelanja bahan makanan. Hal itu terjadi setelah negara itu mengalami krisis yang membuatnya tak mampu membayar impor bahan bakar.

dokter di Sri Lanka bernama Suchitha Kahaduwa, selama dua minggu terakhir, telah meninggalkan mobilnya di garasi dan melakukan perjalanan menemui pasiennya dengan sepeda. Ia menghabiskan berjam-jam setiap hari melintasi ibu kota komersial Kolombo mengendarai sepeda.

"Pertama, itu dua atau tiga jam dalam antrean bensin," kata Kahaduwa kepada Reuters. "Terakhir kali, sekitar tiga minggu yang lalu, saya berada dalam antrean bensin selama tiga hari.

"Membeli sepeda adalah tindakan putus asa."

Cadangan mata uang Sri Lanka mendekati nol, yang berarti impor pupuk, makanan dan obat-obatan untuk 22 juta penduduknya juga telah melambat.

Tidak ada pengiriman minyak yang tiba selama sekitar dua minggu dan pemerintah Sri Lanka, yang telah menutup sekolah, menyuruh pegawai negeri untuk bekerja dari rumah dan membatasi bahan bakar untuk layanan penting, belum bisa mengatakan kapan pengiriman berikutnya datang.

Akibatnya, jumlah sepeda di jalan-jalan Kolombo melonjak dan, dengan stok terbatas dan permintaan meroket, harga sepeda baru dan bekas naik lebih dari dua kali lipat, kata tiga pengecer.

Suku cadang dan aksesori seperti helm dan kunci sepeda juga tidak tersedia.

Salah satu pemilik toko, Victor Perera mengatakan bahwa dia menjual sekitar 20 sepeda sebulan hingga Mei, ketika penjualannya meningkat sepuluh kali lipat.

"Karena masalah bensin, semua orang minta sepeda," katanya.

Pasokan baru terbatas karena pihak berwenang telah membatasi impor untuk kebutuhan dasar untuk menghemat devisa yang tersisa selama mungkin.

"Impor sepeda dilarang. Jadi, importir menjual stoknya dengan harga tinggi," kata Perera. "Sekarang tidak ada lagi sepeda."

Pemerintah akan menyampaikan rencana restrukturisasi utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan Agustus dan kemudian melanjutkan pembicaraan tentang kemungkinan paket bailout US$ 3 miliar, yang menunjukkan bahwa krisis masih jauh dari selesai.

Jadi Kahaduwa dan banyak lainnya menetap untuk perjalanan panjang dengan mengayuh sepeda.

"Saya tidak berpikir masalah negara kita akan diselesaikan dalam waktu dekat," katanya, "Setidaknya saya banyak berolahraga sekarang."



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: yahoo/reuters


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI