Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat Tidak Terbatas Usia

Rabu, 20 Juli 2022 | 18:46 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / FER
Anggota Komisi X DPR, Desy Ratnasari (ketiga dari kanan) bersama Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando (kedua dari kiri), Wakil Bupati Sukabumi, Iyos Somantri (ketiga dari kiri), Bunda Literasi Kabupaten Sukabumi, Yani Jatnika Marwan Hamami (tengah) pada acara Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Universitas Nusa Petra, Sukabumi, Rabu, 20 Juli 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Kegemaran membaca menjadi salah satu cara tingkatkan indeks literasi manusia yang tidak terbatas pada usia. Melalui buku, didapat informasi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Dengan membaca, tercipta individu yang hebat dan cerdas.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR, Desy Ratnasari pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) yang digelar di Universitas Nusa Petra, Kabupaten Sukabumi, Rabu (20/7/2022).

“Contoh, ibu-ibu yang suka ngaji. Ada tujuan kan, awalnya untuk apa. Lama-lama suka dengerin, jadi ada manfaatnya untuk kehidupan. Sama dengan urusan dunia melalui perpustakaan. Paling tidak, kita bisa membantu anak-anak kita dalam mengerjakan tugas,” ujarnya.

Legislator Fraksi PAN ini menambahkan, sumber daya manusia yang berdaya saing dan unggul, memiliki skill dan tidak terbatas oleh usia. Menurutnya, kemampuan inilah yang harus dimunculkan melalui perpustakaan.

“Saya mengharapkan perpustakaan menjadi tempat taklim dan pembelajaran bagi semua lapisan masyarakat. Menjadi manusia berdaya saing itu tidak terbatas pada usia. Maka itu, kemampuan literasi tidak cukup sekedar bisa baca, tetapi dimanfaatkan dan diterapkan,” tambah Desy.

Pada kesempatan tersebut, ia juga memuji kinerja Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, yang dinilai inovatif. Meski tidak memiliki anggaran yang tidak besar, namun dapat dimanfaatkan dengan baik. “Inovasi yang dilakukan beliau hebat. Harus kita contoh,” urainya.

Bicara literasi ada kaitannya dengan kegemaran baca. Namun, perlu dicermati pula kondisi perbukuan di Tanah Air.

Kepala Perpusnas menjelaskan kondisi literasi di Indonesia terkendala oleh kurangnya buku. Di sebutkan bahwa satu buku ditunggu oleh 90 orang. Sementara standar internasional menyebutkan seharusnya ada tiga buku baru per orang setiap tahunnya.

“Oleh karena itu, saya mengajak kepada seluruh perguruan tinggi agar turut andil dalam mengatasi kekurangan terbitan buku ini,” pesan Syarif Bando.

Dia menambahkan, pengetahuan tidak hanya didapatkan di bangku kuliah dengan memenuhi satuan kredit semester (SKS). Mahasiswa, harus mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya dari perpustakaan.

“Saya yakin perguruan tinggi sanggup menghasilkan lulusan yang berliterasi tinggi yang mampu menghasilkan barang dan jasa sekaligus menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sukabumi, Iyos Somantri, mengakui daerahnya membutuhkan tempat memenuhi kebutuhan masyarakat, terkait literasi dan melakukan kegiatan membaca. Terlebih literasi dan membaca memiliki peran penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami siap menerima bantuan dana alokasi khusus untuk membuat kantor perpustakaan yang representatif. Lahan pun kami sudah siapkan, termasuk detail engineering design-nya atau DED,” urainya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI