Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kemenkes Laporkan 4 Kasus Subvarian Omicron BA.2.75

Senin, 25 Juli 2022 | 08:54 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / WM
ilustrasi omicron

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan saat ini sudah terdapat empat kasus Covid-19 subvarian Omicron BA.2.75 di Indonesia.

"Kasus BA.2.75 di Indonesia bertambah satu kasus atau satu orang yang berasal dari DKI Jakarta yang berhasil diidentifikasi berdasarkan pelacakan melalui whole genome sequencing (WGS) pada Jumat kemarin," kata Juru Bicara Kemenkes, dr Mohammad Syahril kepada Beritasatu.com, Senin (25/7/2022).

Dengan penambahan ini, berarti kasus subvarian Omicron yang dijuluki "Centaurus" ini total ada empat kasus. Ketiga kasus pasien Omicron BA.2.75 di DKI Jakarta merupakan kasus lokal, sementara satu di Bali adalah kasus impor. Hingga saat ini masih belum diketahui asal muasal penularan pertama BA.2.75 terjadi.

Subvarian Omicron BA.2.75 Centaurus ini pertama kali diidentifikasi pada Minggu (17/7/2022). Sebelumnya Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa telah ditemukan tiga kasus baru Covid-19 dari subvarian Omicron BA.2.75 di Indonesia. Adapun tiga kasus tersebut ditemukan di Jakarta ada 2 kasus dan Bali satu kasus.

Terkait tingkat kecepatan penularannya dibandingkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dan bedanya dengan varian sebelumnya, hal ini masih dalam investigasi karena data sekuensing masih sedikit.

Memang karakteristik dari BA.2.75 sampai saat ini belum banyak diketahui. Hanya diduga immune escape-nya lebih menonjol. Tapi sepertinya tingkat penularan dan keparahannya hampir sama seperti subvarian lainnya dari Omicron.

"Untuk ciri-ciri mereka yang tertular BA.2.75 adalah pada dasarnya gejala awal semua Covid-19 hampir sama. Namun yang berbeda hanya level severitas. Melihat dari kasus Omicron dan Delta, serta capaian vaksin, kemungkinan varian ini lebih ringan," urai dr Syahril.

Ketika ditanyakan, apakah Indonesia akan menghadapi ancaman gelombang berikutnya dengan varian baru ini, dr Syahril menjelaskan kemungkinan ada. Tetapi tidak akan setinggi dari varian Delta atau Omicron sebelumnya.

"Maka dari itu, masyarakat tetap harus menerapkan protokol kesehatan dimanapun berada dan vaksinasi hingga booster atau dosis ketiga, karena untuk tingkat kemanjurannya terhadap varian baru ini masih sangat efektif untuk mengurangi severitas," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI