Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BPOM: Obat Bahan Alam Berpotensi Besar untuk Dikembangkan

Kamis, 4 Agustus 2022 | 22:41 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Penny K Lukito.

Jakarta, Beritasatu.com - BPOM menyatakan bahwa obat dari bahan alam memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan pada saat ini. Hal tersebut dikemukakan olehKepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito. Penny mengatakan bahwa obat bahan alam berpotensi besar untuk dikembangkan.

Hal ini mengingat besarnya permintaan masyarakat terhadap obat bahan alam saat ini. Bahkan, WHO memprediksi permintaan tanaman obat dapat mencapai nilai USD 5 triliun pada tahun 2050.

Penny menyebutkan, penjualan jamu dan obat herbal nasional di Indonesia diperkirakan dapat mencapai Rp23 triliun pada tahun 2025. Potensi ini juga membuka peluang bagi jamu yang berorientasi ekspor agar bisa menjadi komoditi andalan di pasar global.

“Potensi pengembangan yang besar tersebut perlu didukung dengan kemampuan penyediaan dan pasokan bahan baku yang memenuhi standar/persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu, serta kuantitas,” ujarnya pada acara konvensi nasional “Kemandirian Nasional dalam Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam sebagai Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Saing Produk” di Kabupaten Sukoharjo, Surakarta, Kamis (4/8/2022).

Penny menyebutkan, bagi produsen Fitofarmaka, konsistensi kandungan senyawa aktif dalam bahan baku alam merupakan aspek fundamental agar produk yang diproduksi memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu.

“Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan menjaga stabilitas ketersediaan bahan baku obat bahan alam, baik dari sisi jumlah, kontinuitas, mutu, maupun harganya melalui berbagai upaya intervensi dari hulu ke hilir. Hal ini dilakukan agar produk obat bahan alam dapat diproduksi dengan harga yang relatif murah dan bermutu secara kontinu,” ujar Penny.

Selanjutnya, Penny menuturkan, obat bahan alam asli Indonesia merupakan produk kesehatan warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, obat bahan alam telah dikembangkan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka.

Dikatakannya, hingga Juli 2022, terdapat 1.161 sarana obat bahan alam yang telah memproduksi lebih dari 14.000 item produk obat bahan alam dalam bentuk jamu, obat herbal terstandar, maupun fitofarmaka.

“Saat ini industri obat bahan alam masih menghadapi tantangan. Ketersediaan bahan baku obat bahan alam sebesar 25% dari total kebutuhan masih diperoleh melalui impor,” ucapnya.

Penny menyebutkan aspek pemenuhan terhadap standar/persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu, serta kuantitas pasokan bahan baku obat bahan alam dari dalam negeri juga belum dapat dipenuhi secara konsisten. Hal ini karena sebagian besar bahan baku berasal dari tumbuhan liar, belum massif dibudidayakan dan masih adanya keterbatasan teknologi pengolahan.

Demikian juga pelaku usaha, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) obat tradisional, masih menghadapi keterbatasan alternatif sumber pengadaan bahan baku obat bahan alam dalam negeri.

Untuk itu, Penny menyebutkan, pemberdayaan Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) ke depannya sangat diperlukan karena berperan penting dalam percepatan pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka, terlebih dengan telah terbitnya Formularium Fitofarmaka.

Menurut Penny, berbagai tantangan tersebut memengaruhi aspek keamanan, manfaat, dan mutu obat tradisional, sehingga berdampak pada daya saing obat tradisional produksi nasional, terutama produk UMKM.

Dikatakannya, BPOM telah mengadakan pelatihan peningkatan pemahaman supplier bahan baku obat bahan alam di Sukoharjo yang diikuti oleh 46 supplier dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

”Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman supplier terhadap persyaratan bahan baku obat bahan alam yang harus dipenuhi agar dapat menyediakan bahan baku bermutu bagi UMKM secara konsisten,’ ucapnya.

Selain FGD, BPOM juga menyelenggarakan Virtual Expo Ekstrak Obat Bahan Alam yang berlangsung sejak 4 hingga 11 Agustus 2022.

Penny menuturkan melalui Virtual expo ini, diharapkan dapat memfasilitasi kerja sama antara IEBA dan UMKM obat tradisional dalam penyediaan dan pemenuhan kebutuhan ekstrak tanaman obat sebagai bahan baku obat tradisional yang berkualitas dan berdaya saing.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI