Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Pelaku Wisata Pulau Komodo Masih Gunakan Tarif Lama

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:58 WIB
Oleh : Afry Magung / FFS
Aktivitas wisatawan di Pelabuhan Labuan Bajo, Rabu, 3 Agustus 2022.

Labuan Bajo, Beritasatu.com - Pemberlakuan tarif masuk Pulau Komodo, Pulau Padar serta kawasan perairan sekitar Taman Nasional (TN) Komodo masih menyisakan polemik di kalangan para pelaku wisata di Labuan Bajo dan Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Tarif baru masuk Pulau Komodo yang telah disetujui menjadi sebesar Rp 3,75 juta hingga kini belum memiliki payung hukum yang jelas. Untuk itu, para pelaku wisata masih gunakan tarif lama atau yang diatur Kementerian KLHK dalam PP Nomor 14 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku Pada Kementerian Kehutanan. PNBP dalam aturan ini merupakan tarif yang selama ini dibayarkan para pelaku wisata ketika melakukan aktivitas Wisata didalam Kawasan Taman Nasional Komodo.

Demikian disampaikan sejumlah pelaku wisata dalam kegiatan dialog "Aspirasi Pembatasan Jumlah serta Kenaikan Tarif Taman Nasional Komodo" yang digelar oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Kamis (4/8/2022).

"Pada dasarnya kami itu bingung, soalnya yang satu bicara seperti ini yang satunya bicara seperti ini, sedangkan payung hukumnya belum kuat kalau dari DPRD. Jadi kita sempat bingung. Tetapi sebenarnya saat ini dari pelaku wisata akan mengikuti pemberlakuan berdasarkan tarif tiket dari PP Nomor 12 Tahun 2014 di mana itu sesuai dari Kementerian Lingkungan Hidup. Jadi kami akan berbasis saja dari PP 12 Tahun 2014 itu," kata Marsiah, Perwakilan DPC Gahawisri Labuan Bajo.

Bersama pelaku wisata lainnya, Marsiah mengaku akan tetap menggunakan tarif yang sesuai dengan peraturan perundang undangan. Kondisi ini, katanya, telah diberlakukan kepada wisatawan yang pada saat ini tengah berwisata ke Taman Nasional Komodo.

"Ya sudah ada (wisatawan yang mengunjungi TNK), kita sudah beroperasi kembali juga seperti normal, jadi itu tidak ada kendala. Tarifnya tetap yang lama," ujarnya.

Selain itu, Marsiah menyampaikan keengganannya untuk membayar biaya sebesar Rp 3,75 juta yang ditawarkan oleh PT Flobamor. Hal ini karena Marsiah menganggap biaya itu bukanlah tarif baru melainkan paket wisata baru di Taman Nasional Komodo.

"Betul karena angka 3,75 juta itu bukan tarif, setahu kami itu adalah paket wisata bukan tarif," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama BPOLBF, Shana Fatina menyampaikan diskusi bersama para pelaku pariwisata ini merupakan upaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menjaring berbagai aspirasi dari pelaku pariwisata.

Saran serta masukan dalam diskusi ini diharapkan mampu memberikan petimbangan bagi pengambil kebijakan agar menghasilkan sebuah kebijakan yang tidak membebani para pelaku pariwisata di Labuan Bajo.

"Kami sudah ditugaskan oleh Pak Menteri untuk menggali aspirasi dari bawah, apa yang dirasakan, apa yang dibutuhkan, kendala-kendala seperti apa, sehingga ini menjadi kanal untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk pembuat kebijakan dalam menetapkan terkait tarif ini," ujar Shana.

Shana menyampaikan, aksi mogok massal yang dilakukan para pelaku wisata sebagai bentuk penolakan pemberlakuan tarif baru masuk Pulau Komodo, Pulau Padar dan kawasan perairan sekitar TN Komodo pada Senin (1/8/2022) lalu berdampak sangat luas. Tidak hanya bagi pariwisata Labuan Bajo, tetapi juga bagi pariwisata di NTT.

Untuk itu, BPOLBF akan berupaya agar hasil diskusi bersama para pelaku wisata ini dapat dikomunikasikan kembali dengan stakeholder terkait.

"Karena ini sudah berpengaruh terhadap stakeholder dan ekosistem pariwisata bahkan terhadap brand image Labuan Bajo itu sendiri ya, maka kita juga akan lebih aktif juga untuk nanti berkomunikasi dan mendetailkan dengan teman-teman Pemprov NTT, PT Flobamor dan semua tentunya karena ini lintas kementrian, ada KLHK ada Kemenparekraf, ke Kemenko Marves dan lain lain. Jadi kita pikir kami akan mencoba menggali aspirasi dari masing masing stakeholder menyampaikan seperti apa dan kemudian mudah-mudahan bisa menjadi masukan untuk membuat kebijakan melihat dari sisi semuanya dan lebih holisitik dalam mengambil keputusan karena tentunya kita semua sayang Labuan Bajo. Kita semua sayang dengan Komodo," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI