Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Pakar Ungkap Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Taman Nasional Komodo

Minggu, 7 Agustus 2022 | 15:58 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / JEM
Kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar lingkungan yang juga akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Irman Firmansyah menyatakan berbagai aktivitas masyarakat di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menjadi pemicu terjadinya perubahan iklim di Taman Nasional Komodo (TNK).

"Aktivitas yang memicu terjadinya perubahan iklim, yakni yang mengeluarkan emisi ataupun karbon, seperti kendaraan bermotor atau transportasi di lokasi dan daerah terdekat sekitarnya, penggunaan energi, lahan pertanian, termasuk aktivitas manusia lainnya," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Minggu (7/8/2022).

Faktor-faktor tersebut, katanya, berdampak pada perubahan penggunaan lahan, desertifikasi atau penggurunan, hilangnya biodiversitas, ketersediaan air, frekuensi badai, dan terganggunya kesehatan lingkungan.

Menurutnya, situasi tersebut masih bisa dipulihkan karena daya dukung daya tampung TNK yang masih cukup baik. Karena itu, Irman mengingatkan jangan sampai perubahan itu terjadi melampaui kapasitas daya dukung daya tampung. Maka dari itu perlu aksi bersama dalam menjaga konservasi dan lingkungan yang ada.

Ia menegaskan kondisi perubahan iklim di Taman Nasional Komodo harus menjadi agenda prioritas untuk pemulihannya. Karena kalau tidak, hal ini bisa berdampak pada berkurangnya luas habitat dan ekosistem Komodo di alam liarnya.

"Hal itu tentu akan memengaruhi genetika komodo sendiri, apalagi disisi lain terjadinya perubahan lahan hutan gugur, ketersediaan air, berkurangnya produksi primer (oksigen)," ungkap dia.

Dikatakan, kondisi tersebut nantinya bisa membuat habitat komodo terancam punah. Kategori ini bukan sekedar jumlah, tetapi kelimpahan yang dikaitkan dengan habitat dan ekosistemnya. Kunjungan yang berlebihan dari wisatawan memiliki dampak negatif terhadap keberlangsungan ekosistem di kawasan wisata konservasi itu.

"Hasil kajian menunjukkan untuk menjaga kelangsungan hidup komodo ini, jumlah kunjungan harus dibatasi," kata dia.

Ketika ditanyakan butuh berapa biaya untuk pemulihan TNK, Head of System Dynamics Center IPB ini mengatakan hal itu tergantung banyaknya tekanan terhadap ekosistem tersebut dan berapa jasa ekosistem yang hilang.

Hal ini dipengaruhi banyaknya aktivitas manusia dan transportasinya. Untuk mempertahankan nilai yang hilang selama ini, diperkirakan mencapai Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun dari data selama 2013-2021.

"Jadi pembatasan jumlah pengunjung ke Taman Nasional Komodo menjadi solusi yang tepat karena menjadi esensi utama yang harus dilakukan. Jadi lebih utamanya sebagai konservasi komodo sebagai binatang purba, karena TN Komodo bukan wisata oriented, tetapi wisata survival. Untuk peningkatan jumlah wisatawan perlu integrasi beberapa titik wisata lainnya," pungkas Irman.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI