Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BKKBN: Stunting Perlambat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Rabu, 10 Agustus 2022 | 19:00 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Ibu-ibu menyusui, hamil, dan yang memiliki balita antusias mengikuti edukasi soal stunting.

Jakarta, Beritasatu.com - Stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak ternyata memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Stunting bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, dalam keterangan pers tertulis, Rabu (10/8/2022).

Hasto menjelaskan bahwa stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan dapat menurunkan produktifitas seseorang.

Tidak hanya itu, secara makro dampak yang ditimbulkan dari stunting adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya angka kemiskinan, dan terjadinya ketimpangan sosial. Pernyataan Hasto ini berdasarkan pengalaman dan bukti internasional.

Hasto menyebut, kerugian yang dialami negara dari adanya stuntingadalah hilangnya 11% Growth Domestic Product (GDP) hingga berkurangnya pendapatan orang dewasa hingga 20%. Selain itu, jurang kesenjangan sosial juga semakin terbuka lebar akibat stunting dan mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup, serta timbulnya kemiskinan antar generasi.

Selanjutnya, Hasto menyebutkan, berdasarkan data Organization for Economic Cooperation and Development-Programme for International Student Assessment (OECD-PISA) tahun 2012, tingkat kecerdasan anak Indonesia ada diurutan ke 64 terendah dari 65 negara.

Dikatakannya, OECD-PISA melakukan penelitian dari 510.000 pelajar usia 15 tahun di 65 negara, termasuk Indonesia di dalamnya yang meliputi bidang membaca, matematika, dan science.

Untuk menekan tingginya prevalensi stunting yang saat ini masih di angka 24,4%, Hasto menuturkan, BKKBN telah melakukan berbagai intervensi melalui kegiatan pendampingan keluarga, mulai dari calon pengantin (catin), ibu hamil, pasca persalinan, anak 0-5 tahun dengan anak 0-2 tahun prioritas.

Kepada calon pengantin, Hasto berpesan supaya laki-laki yang ingin menikah mengurangi kebiasaannya untuk merokok, menjaga pola makannya agar dapat menghasilkan sperma yang berkualitas 75 hari sebelum pernikahan.

Sementara pada perempuan, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat untuk mengukur lingkar lengan atas, berat badan dan tinggi badan juga kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.

"Semua hal tersebut sangat penting menjadi perhatian seluruh keluarga di Indonesia, supaya dapat menghasilkan kehamilan berkualitas dan berbagai masalah mendapatkan penanganan langsung oleh pihak medis sejak awal," ucapnya.

Selain itu, lanjut Hasto, juga dapat mengurangi terjadinya risiko kematian pada ibu dan bayi maupun terjadinya kekurangan gizi pada anak sejak dalam kandungan yang menyebabkan stunting.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI