Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Junjung Etika Berinternet Saat Beraktivitas di Ruang Digital

Kamis, 11 Agustus 2022 | 06:34 WIB
Oleh : Iman Rahman Cahyadi / CAH
Ilustrasi media sosial.

Mataram, Beritasatu.com – Ruang digital yang tanpa batas memungkinkan manusia berinteraksi dengan berbagai kultur yang berbeda. Interaksi antar-budaya ini pada akhirnya memunculkan standar baru etika. Dibutuhkan sikap untuk menjunjung tinggi etika digital atau etiket berinternet (netiket) saat beraktivitas di ruang digital.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Baiq Nelly Yuniarti, menyampaikan hal tersebut pada webinar literasi digital ”Indonesia Makin Cakap Digital” yang dihelat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI untuk komunitas digital yang ada di wilayah Bali – Nusa Tenggara, Rabu (10/8/2022).

Nelly menyatakan, interaksi di ruang digital juga membutuhkan kompetensi literasi digital terkait netiket. Di antaranya, kompetensi mengakses informasi sesuai netiket, menyeleksi dan menganalisis informasi saat berkomunikasi, memahami netiket upaya membentengi diri dari tindakan negatif, dan memproduksi serta mendistribusikan informasi di platform digital.

”Selain itu, juga kompetensi memverifikasi pesan sesuai standar netiket, berpartisipasi membangun relasi sosial dengan menerapkan netiket, serta berkolaborasi data dan informasi dengan aman dan nyaman di platform digital,” sebut Nelly pada diskusi virtual bertajuk ”Menjadi Pejuang Anti-Hoax di Dunia Digital”.

Menurut Nelly, kompetensi literasi digital menjadi sebuah kebutuhan lantaran di dunia digital acapkali juga dijumpai adanya konten negatif. ”Jenis konten negatif menurut UU ITE, yakni pelanggaran kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan pengancaman, penyebaran hoaks, maupun ujaran kebencian (hatespeech),” jelasnya.

Nelly menambahkan, ada beberapa tindakan etis terkait konten negatif. Di antaranya dengan menganalisis, memverifikasi, dan tidak perlu mendistribusikan konten negatif. ”Produksi konten yang bermanfaat dan positif,” tandasnya.

Kegiatan webinar yang merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten itu selalu membahas setiap tema dari sudut pandang empat pilar utama. Yakni, digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Dari sudut pandang budaya digital (digital culture), pengajar Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi NW, Lombok Timur, Rizky Wulandari menyebutkan beberapa tantangan budaya digital. Di antaranya, lunturnya wawasan kebangsaan, kesopanan, serta hilangnya budaya Indonesia.

”Tantangan lain, media digital menjadi panggung budaya asing, minimnya hak-hak digital, kebebasan ekspresi yang kebablasan, berkurangnya toleransi dan penghargaan pada perbedaan, hilangnya batas-batas privasi, pelanggaran hak cipta dan karya intelektual,” sebut perempuan yang akrab disapa Kiky itu.

Untuk itu, Kiky memberikan tips empat cara sederhana dan menghargai orang lain. Yakni, tidak mengabaikan sopan santun, menerima perbedaan pada setiap orang, mau menyimak dan menjadi pendengar, serta menyadari batasan.

Sejak dilaksanakan pada 2017, Gerakan Literasi Digital Nasional telah menjangkau 12,6 juta warga masyarakat. Pada tahun 2022, Kominfo menargetkan pemberian pelatihan literasi digital kepada 5,5 juta warga masyarakat.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI