Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BRIN: Pangan dan Energi Jadi Fokus Pengembangan Riset

Kamis, 11 Agustus 2022 | 21:56 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko (tengah) menerima cindra mata dari Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kanan) didampingi Direktur Komersil BSMH Damai Argakasih Lazuardinur (kiri) saat media visit ke redaksi di Jakarta, Kamis 11 Agustus 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Fokus pengembangan riset yang dilakukan BRIN di Indonesia pada saat ini adalah bidang pangan dan energi. Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, Kamis (11/8/2022).

Khusus untuk bidang pangan, BRIN mempercepat pengembangan bibit tanaman seperti sorgum hingga menyiapkan teknologi pasca panen.

“Aktivitas riset kami saat ini fokus untuk pangan karena kita berkejaran dengan waktu. Sebagaimana kita bisa mempercepat pengembangan berbagai bibit, misalnya untuk sorgum juga pada teknologi pasca panen,” kata Handoko di Kantor Redaksi BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Kamis (11/8/2022).

Handoko menuturkan, pentingnya teknologi pasca panen, karena sejauh ini masih menjadi masalah untuk Indonesia yakni panen dengan hasil melimpah tetapi tidak dapat disimpan lama. Padahal, jika dapat disimpan, menurut Handoko, bisa menyelesaikan setengah masalah ekonomi di Indonesia.

Kendati demikian, Handoko menegaskan, bidang pangan yang dimaksud juga termasuk kesehatan. “Jadi problem kita yang rill sekarang. Rapat terbatas di Istana Negara, bolak balik setiap minggu ratas jagung, sorgum, minyak, dan itu semua pangan. Karena situasi tidak terkendali. Kita kita tidak bisa memprediksi. Ini masalah basic ya, tetapi dari sisi riset ternyata riset pangan enggak gampang,” ucapnya.

Handoko menuturkan tuntutan untuk riset pangan tidak mudah karena saat ini telah menggunakan teknologi yang canggih dan harga alatnya mahal. Ia mencontohkan negara Thailand yang saat ini sangat fokus dalam pengembangan riset pangan.

“Saya beli alat untuk Cryo-EM senilai Rp 300 miliar hanya satu alat untuk melihat reaksi molekuler real time dari materi bio-nya. Tetapi kalau enggak ada itu, kita enggak bisa bikin yang Thailand bikin,” ucapnya.

Dikatakan Handoko, untuk memastikan bibit unggul dari tanaman tentu membutuhkan molekuler seperti antigen PCR untuk mendeteksi lebih awal. Dengan begitu, sejak awal dapat dipastikan hasil panen dari perkebunan tersebut.

Akan tetapi, untuk memastikan tanaman tersebut dapat memberi hasil panen yang baik, misalnya untuk sawit memerlukan reagen enzim. Handoko menuturkan, hingga saat ini enzim masih impor dan harga untuk satu jenis enzim mencapai Rp 500 juta dan pengadaan ini membutuhkan waktu lama.

Selanjutnya, Handoko mengatakan riset bidang energi lebih sulit dari pangan karena tidak ada alternatif, misalnya untuk mesin atau terkait biodiesel 40 (B40).

“Kita sekarang sedang memproses ke B40 dan butuh supportSDM untuk mempercepat B40. Kita diminta untuk menguji supaya garansi seperti apa. Jadi banyak sekali tantangan kalau energi itu,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui pemerintah mulai memperluas penggunaan minyak sawit dalam bahan bakar diesel, solar dari sebelumnya menggunakan 30 persen campuran, kini naik menjadi 40% atau disebut biodiesel 40 (B40).

Handoko juga menjelaskan riset energi ini juga mencakup pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Namun, peran BRIN dari sisi eksperimental berbasis kerja sama swasta dengan manufaktur luar,



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI