Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Soal Puncak Gelombang Keempat Covid-19, Ini Respons Satgas

Jumat, 12 Agustus 2022 | 22:20 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Wiku Adisasmito.

Jakarta, Beritasatu.com - Prediksi puncak gelombang keempat Covid-19 sebelumnya, diperkirakan terjadi pada medio Juli-Agustus 2022. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sempat menyebutkan bahwa puncak Covid-19 subvarian Omicron di Indonesia mencapai sekitar 20.000 kasus.

Merespons hal tersebut, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan untuk saat ini, puncak penambahan angka kasus positif selama satu atau dua minggu sebelumnya mencapai kisaran 6.000. Hal ini menunjukkan pola ketahanan masyarakat terhadap virus kemudian ditambah herd immunity masyarakat yang tinggi sebesar 98,5%.

“Walaupun tidak signifikan kenaikan kasus (seperti saat) gelombang Covid-19 akibat Varian Delta maupun Omicron lalu, kita harus tetap berhati-hati. Masyarakat diharapkan terus melakukan pola hidup bersih dan sehat untuk menjaga diri dari tertularnya kasus,” kata Wiku saat menjawab pertanyaan media melalui keterangan tertulis, Jumat (12/8/2022).

Sebelumnya, Satgas Covid-19 menyebutkan bahwa puncak gelombang keempat bisa terjadi jika sebagian besar masyarakat Indonesia abai protokol kesehatan dan muncul varian yang lebih ganas.

"Prediksi 20.000 kasus per hari bakal terjadi jika masyarakat abai prokes atau muncul varian yang lebih ganas," kata Kepala Sub Bidang Dukungan Kesehatan Darurat Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Brigjen TNI (Purn) Alexander Kaliaga Ginting kepada Beritasatu.com, Kamis (11/8/2022).

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus Covid-19 di Indonesia kembali mengalami peningkatan. Beberapa hari terakhir menunjukkan angka positif harian Covid-19 di Indonesia bergerak di antara 5.500 hingga 6.000 kasus ke atas.

Sedangkan untuk kasus sembuh, melaporkan penambahan 4.850 orang. Ini artinya angka sembuh masih tetap mendominasi daripada angka yang penyakit kritis. Artinya pasien yang meninggal dunia karena infeksi Covid-19 juga bertambah sebanyak 18-22 orang.

"Dengan demikian terbukti bahwa virulensi varian Omicron tidak seberat virus Covid varian Delta. Demikian juga angka hospitalisasinya tidak tinggi," ungkap dr Alexander.

Menurutnya, puncak varian Omicron baik BA.1 BA.2 maupun BA.4, BA.5 tidaklah setinggi puncak varian Delta yang mencapai 56.757 kasus dalam sehari pada 15 Juli 2021 lalu yang terjadi pada gelombang kedua. Paling maksimal 20% dari puncak tertinggi.

"Semua ini adalah dampak pencapaian vaksinasi satu, dua dan booster pertama, kendati baru 57 juta (booster) dan penerapan protokol kesehatan serta pengawasan pengendalian PPKM Level 1," urai dia.

Untuk menjaga penularan yang lebih tinggi paling utama adalah kepatuhan terhadap protokol kesehatan (prokes) seperti memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan bila bergejala jangan ke luar rumah.

"Kami di Satgas Covid-19 baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, Kecamatan dan kelurahan/desa termasuk dinas kesehatan (dinkes) setempat bekerja terus menerus mengingatkan masyarakat luas agar patuh prokes dan mengimbau vaksinasi serta lainnya," pungkas dr Alexander.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI