Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Jelang Tahun Politik, ASN Kemenag Diingatkan Jaga Kerukunan

Minggu, 14 Agustus 2022 | 13:07 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / JEM
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi saat memberikan pengarahan dan pembinaan ASN Kemenag di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 13 Agustus 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan agar aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) harus dapat menjaga kerukunan dan persatuan baik interen maupun antarumat beragama menjelang datangnya tahun politik.

Hal itu ia sampaikan dalam agenda pengarahan dan pembinaan ASN Kemenag di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (13/8/2022).

“Saya tegaskan, menjelang tahun politik, jangan sampai gara-gara berbeda pandangan, berbeda pilihan politik, suami-istri bertengkar, tetangga tidak berteguran, antarsaudara tidak rukun. Kita sebagai penghulu, penyuluh agama, guru, kita mesti menjaga kerukunan dan perdamaian antar umat beragama, dan antar kelompok masyarakat” kata Zainut, dalam keterangan pers tertulis, Minggu (14/8/2022).

Sebagaimana diketahui, Indonesia akan memasuki tahun politik yaitu perhelatan Pemilu Serentak 2024, di mana akan memilih para calon anggota legislatif dan juga calon presiden dan wakil presiden.

Zainut menuturkan, menjaga kerukunan sangat penting karena Indonesia masyarakatnya majemuk. Dalam hal ini, berbeda adat istiadat, bahasa, suku, agama, dan beda pilihan politiknya.

"Di dalam masyarakat yang majemuk ini kita harus memberikan pemahaman yang moderat, baik moderat dalam berpolitik maupun beragama," tegas Zainut.

Kemenag, lanjut Zainut, memiliki program prioritas salah satunya moderasi beragama. Moderasi yang dimaksud bukan memoderatkan agama, karena agama sejatinya nilai-nilainya sudah moderat, yang perlu dimoderatkan adalah perilaku dan cara umat dalam menjalankan agamanya, supaya tidak ekstrem, baik ekstrem kiri maupun kanan, dalam kata lain tidak radikal juga tidak liberal.

“Indonesia ini merupakan negara damai atau darusalam dan juga negara yang cinta damai. Meskipun kita berasal dari agama, golongan, atau kelompok yang berbeda, tetapi kehidupan masyarakat kita tetap harmonis, penuh toleransi dan saling menghormati," ujarnya.

Zainut menambahkan bahwa sikap toleransi itu harus terpelihara agar tidak mudah dipecah belah dan diadu domba.

"Hal ini penting saya tekankan di saat kita menghadapi tahun politik yang penuh dinamika. Kita tidak boleh menganggap hanya kelompok kita yang paling benar, sementara kelompok lain itu salah,” ujarnya.

Zainut menjelaskan dalam internal umat Islam saja mempunyai banyak perbedaan. Baik perbedaan mazhab, organisasi, bahkan pilihan politik.

Menurutnya, perbedaan-perbedaan tersebut diperbolehkan selama tidak menyinggung permasalahan pokok atau agama.

"Ada yang pakai qunut ada yang enggak, ada yang memelihara jenggot ada yang enggak, ada yang bercelana cingkrang ada yang enggak, perbedaan-perbedaan furuiyah itu diperbolehkan,” jelasnya.

Menurut Zainut, hal tersebut dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Imam Syafii itu berbeda pandangan dalam banyak hal dengan gurunya, Imam Malik. Imam Syafii mengajarkan qunut saat subuh sementara Imam Malik tidak.

"Tetapi ketika Imam Syafii datang ke kotanya Imam Malik, beliau tidak pakai qunut karena beliau menghormati gurunya,” ujar Zainut.

“Kecuali jika sudah menyinggung permasalahan ushul, seperti ada nabi setelah Nabi Muhammad, baru kita persoalkan, kerana itu bukan lagi perbedaan, melainkan penyimpangan,” pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI