Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Terpapar Radikalisme, 16 ASN Gagal Jadi Eselon I

Rabu, 1 Desember 2021 | 23:19 WIB
Oleh : Carlos KY Paath / CAR
Tjahjo Kumolo.

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo mengungkap lebih dari 16 aparatur sipil negara (ASN) gagal menjadi eselon I. Hal ini disebabkan, karena rekam jejak digital suami maupun istri para ASN tersebut, kerap memantau tokoh radikal melalui media sosial (medsos).

“Masalah radikalisme, terorisme. Ini saya bikin stres, dua tahun (jadi) Menteri PANRB dalam sidang TPA, hampir di atas 16 calon eselon I yang sudah hebat, profesor, doktor, mulai dari bawah naik, ikut TPA, gagal jadi eselon I, gara-gara kelakuan istrinya atau suaminya,” kata Tjahjo saat acara Peningkatan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Advertisement

“Istrinya kalau malam, kerjanya buka medsos tokoh-tokoh radikal, tokoh-tokoh teroris. Gagal. Pokoknya yang berbau terorisme, radikalisme, itu ancaman bangsa,” tegas Tjahjo dalam kegiatan yang diselenggarakan Kemenko Polhukam tersebut.

Tjahjo menyatakan pengawasan juga dilakukan terhadap keluarga dari para ASN yang berbau radikal.

“Kita harus berani bersikap siapa kawan siapa lawan. Adalah perorangan, kelompok, dan golongan yang dia terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menyebar masalah radikalisme teroris, termasuk di eselon II eselon I, keluarganya yang berbau ini, atau suka buka medsos, di-drop,” kata Tjahjo.

Menurut Tjahjo, hampir tiap bulan Kementerian PANRB selalu menerbitkan surat keputusan (SK) pemberhentian terhadap ASN, khususnya yang terpapar radikalisme. Sebab, ada bukti rekam jejak digital para ASN yang dipecat tersebut.

“Hampir setiap bulan kami mengeluarkan SK ASN yang kita berhentikan karena terpapar radikalisme terorisme,” kata Tjahjo.

Sebelum melakukan penyadapan dan mengecek rekam jejak digital ASN, termasuk keluarga, pihaknya membuat izin terlebih dahulu. Tjahjo menyatakan pengecekan rekam jejak digital dilakukan, mulai dari menyaring dan mengecek akun medsos pribadi ASN.

“Otomatis izin dong. Ada perizinan kami membawa surat. ‘Eh kamu mau saya angkat jadi eselon I akan kami cek rekam jejakmu selama ini’. Rekam jejak digital sampai mati kan enggak akan hilang, makanya hati-hati kalau orang mau jadi pejabat,” ujar Tjahjo.

“Medsos kita saring. Benar enggak medsos asli atau tidak. Sekarang gampang orang badan siber polisi bisa tangkap orang dalam tempo satu menit bisa siapa yang memfitnah siapa yang membuat berita hoax,” demikian Tjahjo.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

NASIONAL | 18 Januari 2022

POLITIK | 18 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
IKN Sah Jadi Undang-Undang

#2
Ini Tanggapan Ahli Psikologi Forensik atas Vonis Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie

#3
Fraksi PKS Tolak RUU IKN, Ini Alasannya

#4
Studi: Dosis Keempat Vaksin Pfizer Gagal Tangkal Omicron

#5
KPK Ingatkan para Saksi Kasus Korupsi Bekasi untuk Kooperatif

#6
Sanksi Segera Dicabut, Merah Putih Siap Berkibar Kembali pada Februari 2022

#7
Bisnis Tabung Tanah, Ustaz Yusuf Mansur Digugat Rp 560 Juta

#8
Bila Tak Jadi Ibu Kota Negara, Seperti Apa Jakarta? Ini Jawaban Wagub DKI

#9
Survei LSI: Golkar dan Airlangga Berperan Penting Pulihkan Ekonomi

#10
Koleksi NFT Pertama Mobile Legends: Bang Bang Hadir di NFT Binance

TERKINI


EKONOMI | 19 Januari 2022

EKONOMI | 19 Januari 2022

EKONOMI | 19 Januari 2022

OLAHRAGA | 19 Januari 2022

BOLA | 19 Januari 2022

BOLA | 19 Januari 2022

OLAHRAGA | 19 Januari 2022

BERITA GRAFIK | 18 Januari 2022

BERITA GRAFIK | 18 Januari 2022

BERITA GRAFIK | 18 Januari 2022