Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Sekjen PDIP Sampaikan Pandangan Geopolitik Soekarno

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:52 WIB
Oleh : Markus Junianto Sihaloho / CAR
Hasto Kristiyanto.

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkap pandangan geopolitik Soekarno. Menurut Hasto, pandangan Bung Karno banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Berbeda dengan pandangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta blok komunisme-leninisme.

“Saya menyampaikan ini sesuai pesan Ibu Megawati Soekarnoputri, saat pelantikan Dewan Perwakilan Luar Negeri Partai atau DPLN PDI Perjuangan, harus diceritakan pandangan geopolitik Soekarno,” kata Hasto Kristiyanto pada pelantikan DPLN PDIP yang dilanjutkan pendidikan kader pratama, Sabtu (4/12/2021).

Advertisement

Hasto memulainya dengan menceritakan sejarah PDIP yang dimulai dari pembentukan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927. Tanggal tersebut dipilih untuk mengambil semangat perjuangan AS melepaskan diri dari kolonialisme Inggris. Soekarno menyatakan bahwa PNI merupakan wadah pengorganisasian rakyat untuk melepaskan diri dari penjajahan.

Pada 1956, Bung Karno ke AS dan bertemu Presiden Eisenhower dan menyampaikan mengenai makna di balik pendirian PNI pada tanggal tersebut. Dalam kunjungan itu, Bung Karno juga menyebut AS sebagai negara ide, perpaduan revolusioner antara Jefferson, Lincoln, dan Thomas Alfa Edison.

“Tapi di situ juga Soekarno menyampaikan prinsip soal pandangan geopolitik Indonesia berbasis pembangunan persaudaraan dunia, memperjuangkan prinsip koeksistensi damai, dan hal tersebut berbeda dengan pandangan geopolitik Barat, AS dan Eropa,” kata Hasto.

Hasto mengatakan AS dan Eropa mengutamakan sea power atau harus menguasai lautan. Sementara Jerman dengan pandangan harus menjamin keberlangsungan bangsanya melalui cara penguasaan ruang hidup yang akhirnya memicu Perang Dunia II.

Bung Karno, kata Hasto, memahami ini. Bung Karno lantas menegaskan Indonesia memiliki Pancasila yang merupakan sintesa berbagai pemikiran Barat dan Timur, serta pemikiran asli Nusantara.

“Sehingga Bung Karno memahami bahwa penjajahan hanya menciptakan ketidakadilan dan penderitaan, yang digerakkan oleh kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme. Kesemuanya bertujuan untuk memperebutkan sumber bahan baku atau pasar bagi kepentingan perekonomian negara maju,” ucap Hasto.

Terbukti, terjadilah ekspansi memperebutkan bahan baku untuk kepentingan industri di Eropa. Mereka juga mencari pasar produknya. Inggris menjadikan India bagi perluasan pasar industrinya. Belanda menguasai Indonesia untuk kepentingan penguasaan sumber daya alam.

“Soekarno melihat realitas penjajahan yang menyengsarakan ini, maka beliau membangun PNI untuk mendidik dan mengorganisir rakyat. Atas dasar hal tersebut DPLN juga punya tanggung jawab untuk mengorganisir WNI di luar negeri dan bersama-sama menjalankan fungsi rekrutmen, pendidikan politik, serta bertindak sebagai mata dan telinga partai di luar negeri,” tegas Hasto.

Hasto mengatakan semangat Bung Karno untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari penjajahan dan menggelorakan kepemimpinan Indonesia bagi dunia harus menjadi spirit DPLN PDIP.

“Politik luar negeri bebas aktif itu tidak ekspansionis. Ia berpihak pada perdamaian dunia. Pascaperang dunia II, ada konsolidasi kekuatan blok dunia atas dasar komunisme-leninisme dipimpin Soviet, dan kapitalisme-liberalisme oleh AS. Terjadilah perang dingin. Semua berebut pengaruh. Fenomena inilah yang kini nampak terjadi di Laut Cina Selatan,” kata Hasto.

“Namun, Soekarno melihat keduanya tetap memiliki benih-benih penjajahan. Makanya Bung karno, tahun 1960-an menggagas blok baru yang ingin membangun dunia tata baru bebas perang dan penjajahan, sehingga lahirlah Gerakan Non-Blok,” imbuh Hasto.

Intisari dari pandangan geopolitik serta politik bebas aktif Indonesia dan dijalankan Soekarno ini adalah politik yang berpihak pada kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

“Bung Karno lalu menjadikan Konferensi Asia Afrika sebagai momentum mencanangkan doktrin politik luar negeri Indonesia tersebut,” tegas Hasto.

Momentum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung dijadikan Bung Karno untuk menggalang dukungan internasional bagi pembebasan Irian Barat. Dari 10 Dasa Sila bandung, 7 butirnya adalah untuk pembebasan Irian Barat.

“Setelah KAA, Indonesia mendapat legitimasi kuat, sehingga dilaksanakan Deklarasi Djuanda pada 1957. Dengan deklarasi ini, laut membungkus wilayah kepulauan kita, sehingga Indonesia adalah negara kelautan yang ditebari pulau-pulau, kata Bung Karno,” ucap Hasto.

“Tanpa perang, Bung Karno membawa Indonesia memiliki wilayah yang naik 2,5 kali lipat. Ini semua dilakukan tanpa perang. Kita adalah negara kepulauan terbesar dunia, yang menatap masa depan dunia di Pasifik,” kata Hasto.

Setelah Deklarasi Djuanda, Indonesia kembali menggagas Gerakan Non-Blok. Di sana, Soekarno berhasil menyediakan persenjataan yang dibutuhkan militer Indonesia untuk pembebasan Irian Barat.

“Namun yang utama, Indonesia punya peran penting bagi kemerdekaan bangsa dunia. Maroko, Tunisia, Aljazair, Sudan, dan lain-lain. Sampai Bung Karno mendapat gelar pahlawan pembebas kemerdekaan bangsa-bangsa Islam,” demikian Hasto.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA


POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 27 Januari 2022

POLITIK | 26 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
Wiyanto Halim, Kakek Korban Pengeroyokan Ternyata Punya Perusahaan di Singapura

#2
Indonesia vs Timor Leste, Shin Tae-yong: Jangan Lengah!

#3
Setelah Tujuh Presiden, Kedaulatan Angkasa Riau Kembali ke Pertiwi

#4
Pendeta Jefry Tommy Tambayong Meninggal Dunia

#5
Kasus Harian Covid-19 Tembus 7.000, Prof Zubairi Sarankan Level PPKM Dinaikkan

#6
Xavi Tegaskan Dembele Tak Akan Dimainkan Jika Tetap di Barcelona

#7
Update Covid-19: Waspada, Kasus Harian Tembus 8.000

#8
KPK Tetapkan Eks Dirjen Keuangan Daerah Tersangka Suap Dana PEN Kolaka Timur

#9
Eks Bupati Kepulauan Talaud Divonis 4 Tahun Penjara

#10
Perjanjian Ekstradisi Diteken, Puan: Sita Aset Buronan RI di Singapura!

TERKINI


DUNIA | 27 Januari 2022

MEGAPOLITAN | 27 Januari 2022

MEGAPOLITAN | 27 Januari 2022

EKONOMI | 27 Januari 2022

KESEHATAN | 27 Januari 2022

EKONOMI | 27 Januari 2022

KESEHATAN | 27 Januari 2022

NASIONAL | 27 Januari 2022

NASIONAL | 27 Januari 2022

HIBURAN | 27 Januari 2022