Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Refly Harun: Pres-T Berpotensi Lahirkan Calon Tunggal di Pilpres 2024

Kamis, 27 Januari 2022 | 22:16 WIB
Oleh : Yustinus Paat / JAS
Refly Harun.

Jakarta, Beritasatu.com - Kuasa Hukum Gatot Nurmantyo, Refly Harun, mengatakan aturan presidential threshold atau pres-T berpotensi melahirkan calon tunggal pada Pilpres 2024.

Refly Harun mengungkapkan pihaknya menguraikan permohonan uji materi presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden 20% kursi di DPR dari berbagai pendekatan. Salah satu pendekatannya, kata Refly, adalah pendekatan politik yang menunjukkan potensi lahirnya calon pasangan presiden dan wakil presiden tunggal di Pilpres 2024.

“Kami juga melihat pendekatan atau perspektif politiknya, Yang Mulia, kami lihat misalnya soal fakta politik hari ini, dominasi dari kekuatan yang hari ini berkuasa, itu sudah mencapai hampir 82% kalau kursi (di DPR), dengan kurang-lebih 84% kalau basisnya adalah suara,” ujar Refly dalam sidang perbaikan perkara 70/PUU-XIX/2021 yang diajukan Gatot Nurmantyo sebagaimana dikutip Beritasatu.com dari Youtube MK, Kamis (27/1/2022).

Mencermati fakta politik saat ini, kata Refly, terbuka kemungkinan lahir calon tunggul di Pilpres 2024. Apalagi, kata dia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu memungkinkan kontestasi Pilpres dengan calon tunggal.

“Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, maka bukan tidak dimungkinkan bisa adanya calon tunggal. Karena dikatakan bahwa tahapan akan diteruskan kalau memang tetap ada calon tunggal. Jadi itu yang kami khawatirkan dan ini potensial melanggar prinsip bahwa Undang-Undang Dasar 1945 menganut two-round system,” jelas Refly.

Selain menggunakan pendekatan politik, kata Refly, pihaknya juga menggunakan pendekatan sosiologis. Secara faktual, tutur dia, sekarang ini telah terjadi pembelahan di masyarakat yang ditengarai disebabkan karena penerapan presidential threshold pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019 yang hanya menghasilkan dua pasangan calon.

"Salah satunya kami menengarai karena penerapan presidential threshold ini sejak 2014 dan kemudian 2019, di mana hanya menghasilkan dua calon dan pembelahan masyarakat itu sangat terasa terjadi. Salah satunya, kami kutip pernyataan dari so-called pendukung Presiden Jokowi yang kemudian secara diameteral memang seolah-olah membelah antarkubu pendukung dan kubu yang bukan pendukung, ya, sampai saat ini terasa,” ungkap dia.

Pendekatan lain yang digunakan Refly adalah pendekatan perbandingan atau comparative approach dengan mengungkapkan data puluhan negara yang tidak menerapkan presidential threshold untuk pencalonan. Lalu, Refly juga menggunakan pendekatan teks dengan mengupas pasal-pasal dari UUD 1945 yang menyatakan bahwa presidential threshold bertentangan konstitusi.

Pasal-pasal tersebut menjadi batu uji Refly Harun dalam menggugat Pasal 222 UU Pemilu yang mengatur tentang ambang pencalonan presiden. Pasal tersebut adalah Pasal 6 ayat (2), 6A ayat (2), 6A ayat (3), 6A ayat (4), 22E ayat (1), 28D ayat (1), 28D ayat (3), 28J ayat (1), dan 28J ayat (2) UUD 1945.

“Yang paling utama adalah Pasal 6A ayat (2) yang secara jelas dan tegas memberikan standing kepada partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum,” tandas dia.

Lebih lanjut, Refly mengungkapkan pendekatan terakhir dalam mengurai pokok permohonannya, yakni pendekatan sejarah atau historical approach. Dengan pendekatan ini, kata dia, pihaknya mencermati perdebatan-perdebatan di dalam proses perubahan konstitusi.

“Sepanjang pengetahuan kami atau sependek pengetahuan kami, termasuk studi yang saya lakukan. Tidak pernah ada perdebatan, atau perkataan, atau persinggungan mengenai presidential threshold selama proses perubahan konstitusi atau constitution amendement atau amendemen konstitusi, yang ada adalah threshold tetapi dalam konteks electoral threshold pada waktu itu, yaitu untuk konteks pemilihan legislatif,” pungkas Refly.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI