Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Ajaran Zuhud Kala Ramadan

Kamis, 6 Mei 2021 | 09:00 WIB
Oleh : AB
Deden Saeful Ridhwan.

Oleh: Deden Saeful Ridhwan*

Advertisement

Rasulullah SAW, sebagaimana kita ketahui selalu hidup dalam kondisi kurang. Tidak ada istilah lebih bagi beliau. Soal kebutuhan sehari-hari, ia sudah terbiasa hidup menderita dan hidup sederhana, serta hanya menghabiskan waktunya untuk ibadah.

Muhamad Al-Ghazali, dalam kitabnya Fiqhus Sirah mengemukakan bahwa setiap tahun Nabi meninggalkan Makkah untuk menghabiskan bulan Ramadan di dalam gua Hira. Di tempat itu, Nabi memutuskan hubungan dengan segala macam kehidupan duniawi dan memusatkan seluruh pikiran dan hatinya yang sangat rindu kepada Allah. Nabi bersembah sujud, mengasah hati, menjernihkan roh dan jiwa dengan seluruh kemampuan dan kesanggupannya.

Dalam berbagai cerita dan terdapat pula dalam hadis, selalu saja diceritakan tentang kondisi kehidupan keluarganya yang serbasusah. Ia tidur di atas daun pelepah kurma, sehingga pipinya tampak bergaris. Rasulullah menegaskan,"Kami adalah golongan yang tidak makan, kecuali lapar, dan jika kami makan tidaklah sampai kekenyangan."

Jadi, bagaimanapun kondisi beliau, tetap tidak mau menumpuk harta untuk dirinya atau keluarganya. Sebenarnya, apabila ia mau, maka seluruh penjuru timur dan barat bisa menjadi miliknya. Rasul mampu berbuat itu, tetapi tidak mau dilakukan. Ia tidak pernah membiarkan harta itu berdiam di rumahnya sekejap pun. Ajaran sufi berupa zuhud telah dipraktikkan sedemikian lama oleh Nabi selama masa hidupnya.

Di antara keempat sahabat Rasulullah SAW yang paling senior adalah Abu Bakar as-Siddiq. Dialah yang paling banyak tahu dan paham tentang Rasulullah SAW. Contoh-contoh serta ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah semasa hidupnya diteruskan oleh mereka (Khalifah al-Rasyidah). Ia hidup dengan sehelai kain, bahkan Abu Bakar pernah memegang lidahnya sendiri dan berkata,"Lidah inilah senantiasa mengancamku." Abu Bakar juga berkata,"Apabila manusia ini telah dimasuki ujub (sombong) karena suatu dari hiasan dunia ini, maka Tuhan akan murka kepadanya sampai perhiasan ini ditinggalkannya." Pada akhir pembicaraan, Abu Bakar berkata,"Maka barang siapa telah sampai kepada tarap makrifat, dialah orang yang sepi mengingat sesuatu selain dari Allah."

Khalifah yang paling berpengaruh pada masa sahabat adalah Umar ibn Khattab. Ia dikenal sebagai khalifah yang sering keluar masuk kampung dengan penyamaran sebagai rakyat biasa. Hanya dengan satu pakaian yang suatu ketika terdapat banyak tambalan. Diceritakan dalam suatu pidatonya, ia memberikan nasihat agar seluruh rakyat mentaatinya. Maka, berdirilah seseorang dan berkata,"Saya tidak dapat taat kepadamu ya amirul mu’minin. Bagaimana kami bisa taat, semua harta benda telah dikirim ke Yaman dan telah dibagi-bagi, padahal tuan hanya mendapat satu bagian saja, dan tuan sama sekali tidak ada pakaian untuk ganti. Maka, jika tuan tidak mengambil satu pakaian lagi, kami tidak akan taat."

Dalam kondisi demikian, Umar tidak dapat menolak dan menjawab sanggahan itu, lalu meminta putranya (Abdullah) untuk menjawab. Berdirilah Abdullah, lalu berkata,"Dari hal pakaian persalinan biarlah saya yang menanggung."

Pelajaran yang dapat kita dapati dari kisah di atas adalah tingkat kezuhudan Khalifah Umar yang begitu mulia telah melakukan semua itu dengan hati yang tulus. Ajaran Umar adalah “sabar dan rida” yang merupakan bagian dari sufisme. Khalifah Umar bin Khattab mengungkapkan,"Seluruh kebaikan dalam hidup pokok pangkalnya adalah rida, jika sanggup maka lakukanlah, jika tidak, maka bersabarlah."

Selanjutnya khalifah ketiga adalah Usman Ibn Affan. Meskipun Allah Swt telah melimpahkan lapangan rezeki yang banyak, tetapi Usman lebih mengutamakannya untuk jalan Tuhan, seperti membiayai pasukan muslim dan perbaikan sosial lainnya. Dalam kehidupannya, ia sama sekali tidak pernah lepas dari Al-Qur’an.

Khalifah keempat adalah Ali bin Abi Thalib. Seluruh kitab yang dikarang dan berhubungan dengan tasawuf, tidak ada satu pun yang tidak menyebutkan tentang kezuhudan Ali bin Abi Thalib. Meskipun ia seorang khalifah, ia lupa akan pakaian yang membungkus tubuhnya sudah terlalu amat jelek dan kusam. Apabila sobek, maka dijahitlah pakaian itu dengan tangannya sendiri. Orang bertanya kepadanya,"Mengapa sampai demikian ini ya amirul mu'minin?” Beliau menjawab,"Untuk mengkhusyukkan hati dan untuk menjadi teladan bagi yang beriman.”

Semoga di bulan Ramadan tahun ini, kita dapat menjaga dan istikamah serta dapat menjalankan apa yang sudah dipraktikkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya yang senantiasa melakukan perbuatan terpuji yang seyogyanya menjadi contoh untuk umatnya. Amalan zuhud akan membawa kita menjadi manusia yang mendapatkan “malam penentuan” atau “malam kepastian”, yakni lailatulqadar atau pada ayat lain dalam Al-Qur’an disebut “malam yang diberkahi” (lailah mubarakah).

*Pengurus LP Ma’arif NU PBNU dan Dosen STIT Islamic Village Tangerang




REKOMENDASI



BERITA TERPOPULER


#1
Ini Perbedaan Tempat Tidur Isolasi dan Intensif bagi Pasien Covid-19 di Rumah Sakit

#2
Satgas Covid-19 Kota Bekasi Menandai Rumah Warga Jalani Isolasi Mandiri

#3
Israel Kembali Gempur Gaza Balas Balon Api dari Palestina

#4
3 Dosen UNS Meninggal Akibat Covid-19, Jamal Wiwoho: Mereka Dosen Terbaik

#5
Fuad Alkhar Meninggal karena Positif Covid-19

#6
90% Nakes Kudus yang Dilindungi Vaksin Sembuh dari Covid-19

#7
Watubun: Tak Benar PDIP Bolehkan Ganjar Maju Pilpres dari Parpol Lain

#8
Kasus Wanaartha, Saksi Ahli: Barang Bukti Milik Pemegang Polis

#9
Dalam Waktu Dekat, Terbuka Kemungkinan Anies Tarik Rem Darurat di Jakarta

#10
Kemkes: Pasien Terinfeksi Varian Baru Tidak Memiliki Gejala Khusus

TERKINI


NASIONAL | 19 Juni 2021

KESEHATAN | 19 Juni 2021

BOLA | 19 Juni 2021

NASIONAL | 19 Juni 2021

HIBURAN | 18 Juni 2021

MEGAPOLITAN | 18 Juni 2021

BOLA | 18 Juni 2021

NASIONAL | 18 Juni 2021

BOLA | 18 Juni 2021

POLITIK | 18 Juni 2021