SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Paruh Pertama, Fabio Quartararo 60% Podium, 30% Menang, 0% Jatuh

Senin, 20 Juni 2022 | 05:34 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA
Pembalap Yamaha Fabio Quartararo melakukan selebrasi setelah menjuarai Grand Prix Jerman di Sirkuit Sachsenring, 19 Juni 2022.

Beritasatu.com – Grand Prix Jerman menandai usainya paruh pertama musim 2022 MotoGP, di mana juara dunia Fabio Quartararo makin menunjukkan kinerja impresif yang membuatnya makin kokoh di puncak klasemen dan berpeluang mempertahankan gelarnya.

Dari 10 balapan yang telah digelar musim ini, Quartararo finis di atas podium enam kali, termasuk tiga kali menjadi juara grand prix.

Advertisement

Pembalap Yamaha itu juga satu dari hanya dua pembalap yang tidak pernah gagal mendapat poin sejauh ini, sebagai bukti bahwa dia makin matang dan percaya diri di setiap balapan.

Satu lagi adalah pembalap veteran Aprilia Racing, Aleix Espargaro, yang berada di posisi dua klasemen.

Namun, dalam duel head-to-head Quartararo unggul tujuh melawan tiga atas Espargaro, atau tujuh kali dia finis di depan rivalnya tersebut. Plus, Espargaro baru satu kali menang yaitu di Grand Prix Argentina.

Reaksi Fabio Quartararo setelah menjuarai Grand Prix Jerman di Sirkuit Sachsenring, 19 Juni 2022.

Quartararo menyadari betul bahwa untuk menjadi juara dunia, menang saja tidak cukup. Selain mendulang poin, dia harus berusaha untuk tidak kehilangan poin atau menjaga diri agar tidak jatuh.

Dalam sejumlah balapan seperti di Qatar, Argentina, dan Amerika Serikat, pembalap Prancis itu tidak memaksakan diri untuk mengejar rombongan terdepan dan hanya berprinsip damage limitation karena kinerja motornya kurang meyakinkan.

Quartararo cukup sabar menanti sampai setelan motornya sempurna dan sesuai yang dia kehendaki – dia baru bisa menang setelah grand prix kelima di Portugal.

Kematangan seperti ini tidak dimiliki oleh Enea Bastianini. Meskipun sudah menang tiga kali, pembalap Gresini Racing itu hanya berada di posisi empat, tertinggal 72 poin dari Quartararo. Dia bahkan satu tangga di bawah Johann Zarco yang belum pernah menang musim ini.

Pasalnya, Bastianini sudah jatuh tiga kali. Artinya, meskipun tiga kali meraih poin maksimal, dia juga tiga kali mendapat nol poin, impas.

Contoh lain adalah pembalap Ducati Fransesco Bagnaia. Dia menang dua kali, tetapi jatuh empat kali. Jaraknya dari puncak klasemen sekarang sebanyak 91 poin.

Analisis ini menunjukkan bahwa tidak membuat kesalahan sama pentingnya dengan menang balapan.

Fabio Quartararo (kiri) menyalip Fransesco Bagnaia saat Grand Prix Jerman di Sirkuit Sachsenring, 19 Juni 2022.

Quartararo juga tidak mudah cemas atau grogi.

Saat seri kedua di Sirkuit Mandalika, dalam cuaca cerah dan terik Quartararo tidak ada lawan dan mampu merebut pole position. Saat balapan hendak dimulai, ternyata hujan turun dengan deras.

Apakah dia panik? Sebaliknya, dia justru tertawa dan ikut bercanda ketika pawang hujan melakukan ritual di sepanjang jalur pit stop beberapa saat sebelum balapan.

Sepanjang paruh pertama musim ini, Quartararo sudah menunjukkan kualitas pembalap yang komplet: kencang tetapi sabar, percaya diri tetapi tahu kapan harus menahan diri, dan agresif tetapi juga penuh perhitungan.

Jika paruh kedua nanti dia tetap seperti ini, gelar juara dunia akan tetap dipegangnya.

Berikut ini statistik Quartararo yang dihimpun Beritasatu.com dari 10 balapan:

Grand Prix Finis Poin Klasemen
Qatar 9 7 9
Indonesia 2 20 3

Argentina

8 8 5
Amerika 7 9 5
Portugal 1 25 1
Spanyol 2 20 1
Italia 4 13 1
Prancis 2 20 1
Catalunya 1 25 1
Jerman 1 25 1


Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

TERKINI