7 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan Gizi Sarapan

7 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan Gizi Sarapan
Ilustrasi sarapan. ( Foto: Freedigitalphotos/ tiverylucky )
/ FER Minggu, 29 November 2015 | 23:35 WIB

Semarang - Ahli gizi dari Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Jawa Tengah, Agus Sartono, menyebutkan, 7 dari 10 anak Indonesia kekurangan gizi sarapan yang memengaruhi kemampuan menangkap pelajaran dan aktivitas fisik.

"Kebanyakan orang tua sekarang kan sibuk, anak-anak juga sibuk, tidak sempat sarapan. Akhirnya, memilih sarapan cepat, seperti mengonsumi mi instan tanpa dilengkapi lauk pauk yang bergizi," katanya di Semarang, Minggu (29/11).

Sementara itu, lanjutnya, kondisi di Jateng, sebenarnya sudah lebih baik, yakni empat dari 10 anak, namun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sarapan sehat sebelum pukul 09.00 WIB harus terus digalakkan.

"Kalau kebiasaan sarapan kurang bergizi atau tidak sarapan itu tidak segera dibenahi, Indonesia akan tertinggal dari negara-negara tetangga dalam menciptakan generasi tangguh," kata Agus.

Terkait dengan hal itu Energen bekerja sama dengan Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia mengkampanyekan "Gerakan Nasional Sarapan Sehat Sebelum Jam 9" di Semarang.

"Kampanye ini kami lakukan serentak di empat kota, yakni Tangerang, Semarang, Malang, dan Samarinda," kata Assistant Brand Manager Energen, Melatie Emmanuelle, di Stadion Diponegoro Semarang.

Kampanye "Gerakan Nasional Sarapan Sehat Sebelum Jam 9" yang digelar di Stadion Diponegoro Semarang itu dihadiri setidaknya ribuan peserta yang diramaikan pula dengan pembagian "doorprize".

Kegiatan kampanye gerakan nasional sarapan sehat itu terbagi atas empat kegiatan utama, yakni "Sarapan Sehat", "Jalan Sehat", "Edukasi Sarapan Sehat", dipungkasi dengan "Komitmen Sarapan Sehat".

Mela, sapaan akrab Melatie menjelaskan gerakan itu ditujukan memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya sarapan sebelum pukul 09.00 WIB dan makanan yang dikonsumsi harus menyehatkan.

"Kenapa (sarapan) harus sebelum jam 9? Karena saat tidur metabolisme tubuh tetap bekerja, sementara asupan energi berkurang. Makanya, sebelum beraktivitas butuh sarapan terlebih dulu," katanya.

Ia mengatakan sarapan saja juga tidak cukup kalau makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi nutrisi menyehatkan yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

"Kami ingin semakin banyak keluarga membiasakan sarapan yang menyehatkan, seperti Energen yang memiliki kandungan yang mencukupi kebutuhan nutrisi, seperti susu, telur, sereal, dan 'sigmafit'," katanya.

Kampanye gerakan yang dilakukan di empat kota ini merupakan kelanjutan dari gerakan serupa yang dicanangkan Maret lalu yang juga serentak di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

"Di kegiatan sebelumnya yang juga berlangsung di empat kota, kami berhasil mengajak 25 ribu orang untuk hadir. Kali ini, kami menargetkan lebih banyak peserta, yakni sebanyak 35 ribu orang," kata Mela.

Sumber: ANTARA