16% Kredit CIMB Niaga Telah Direlaksasi
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

16% Kredit CIMB Niaga Telah Direlaksasi

Kamis, 16 Juli 2020 | 11:59 WIB
Oleh : Prisma Ardianto / AB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank CIMB Niaga Tbk telah melakukan relaksasi terhadap 15-16% dari total portofolio kredit yang disalurkan. Seiring dengan itu, perseroan juga berhasil menjaga dana pihak ketiga (DPK) tetap stabil, sekaligus terus mengupayakan peningkatan rasio dana murah (current account saving account/CASA).

Presiden Direktur CIMB Niaga Tigor M Siahaan mengatakan kebijakan relaksasi kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat membantu perbankan dan nasabah. Melalui kebijakan itu, banyak dari nasabah yang tertolong. Sedangkan bagi perseroan, sejumlah risiko bisnis bisa berhasil ditekan.

“Relaksasi itu diberlakukan selama satu tahun dan diberikan penangguhan kemudahan kepada nasabah untuk tidak melakukan amortisasi. Sampai sekarang, 15- 16% kredit yang diberikan relaksasi,” ungkap Tigor saat company visit secara virtual dengan BeritaSatu Media Holdings, Rabu (15/7/2020).

Tigor menyampaikan sampai akhir tahun diperkirakan perbankan nasional memiliki kemampuan untuk memberi relaksasi hingga 25% dari portofolio kredit. Saat ini masih terdapat 75% debitur yang memiliki likuiditas relatif baik untuk tetap membayar cicilannya, sehingga kondisi perbankan tidak terlalu terpuruk. Ketika kondisi menjadi lebih baik, para debitur yang masih mampu menjaga likuiditas tersebut diharapkan turut membantu menggenjot perekonomian.

Tigor memaparkan, hampir seluruh sektor pada portofolio kredit perseroan terkena dampak pandemi Covid-19. Pada awal mula penyakit itu mencuat di Indonesia, dan berlanjut diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sektor pariwisata, restoran, dan transportasi, langsung terpukul. Ketika itu, para pengusaha sektor tersebut hampir tidak mendapat pemasukan.

Kondisi itu diperparah ketika dilema menerpa para pengusaha untuk melanjutkan usaha atau menutup usaha sementara. Ketika ketiga sektor itu berhenti, para pengusaha masih perlu mengeluarkan dana perawatan dan biaya operasional lainnya.

“Setidaknya sekarang itu mereka mengusahakan untuk tetap bertahan, bisa membayar gaji. Kita memang mendengar banyak bisnis online sukses, tetapi bisnis sekarang kompetisinya sangat berat. Ada bahkan yang sama sekali tidak ada pendapatan. Pencapaian 10-30% pendapatan dari kondisi normal saja buat beberapa sektor sudah bagus,” ucapnya.

Pihaknya lebih suka menggunakan istilah relaksasi daripada restrukturisasi. Menurutnya, yang kini sedang dijalankan adalah proses relaksasi. Adapun proses relaksasi yang direalisasikan adalah dengan penangguhan pokok angsuran, sementara bunga masih tetap dibayarkan oleh para debitur.

“Dari total portofolio kita, kebanyakan relaksasi di cicilan pokok. Beberapa ada juga penangguhan bunga. Mostly, banyak dari nasabah yang masih sanggup membayar bunga, tetapi pokoknya yang dirasa berat, termasuk pada bisnis KPR, credit card, personal loan, KPM, itu banyak yang terdampak juga,” katanya.

Secara umum, lanjut Tigor, nasabah yang menerima relaksasi sudah pasti merupakan debitur yang tidak memiliki masalah angsuran sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Relaksasi juga diberikan hanya kepada debitur yang mengajukan diri, meskipun perseroan turut berinisiatif menawarkan program itu. Ketika masa relaksasi yang diberikan sudah usai, pihaknya akan meninjau kembali kemampuan bayar dari debitur terkait. Jika diperlukan, maka debitur tersebut akan kembali mendapat relaksasi, bahkan restrukturisasi.

“Kita tidak mau juga proyeksi meleset, misal kita sudah proyeksikan di bulan September harus direstrukturisasi, ternyata masih mampu direlaksasi, kami tidak mau seperti itu. Jadi istilahnya kita beri oksigen dulu atau direlaksasi dulu, tidak bayar apa-apa, kalau nanti diperlukan maka direstrukturisasi,” terangnya.

Di sisi lain, sambung Tigor, sampai saat ini biaya-biaya relaksasi masih menggunakan dana sendiri. Namun, belakangan mencuat kabar bahwa pemerintah akan menyodorkan penjaminan pada kredit lewat Askrindo dan Jamkrindo. Rencana itu, menurut dia, akan ditujukan bagi perusahaan yang kehabisan modal usaha, dan butuh pendanaan segar.

“Pemerintah melihat hal itu. Ini belum mulai, yang saya dengar ini akan segera. Tahun 2020 dan 2021 ini akan challenging, kalau 2021 itu take off terlalu optimistis, masih akan konsolidasi. Kita juga masih perlu melihat dari seluruh yang direstrukturisasi itu mana saja yang bisa bertahan,” katanya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Tak Bagi Dividen, Bank Mayapada Perkuat Permodalan

Bank Mayapada membuka kemungkinan untuk melakukan dua aksi korporasi penambahan modal tahun ini.

EKONOMI | 16 Juli 2020

BI Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan Jadi 4%

Bank Indonesia masih membuka ruang penurunan suku bunga.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Hingga Mei, Produksi Emas Nasional 9,98 Ton

Rata-rata produksi emas nasional per tahun sekitar 100 ton.

EKONOMI | 16 Juli 2020

New Normal, Pencarian Properti Kembali Naik

Pada masa transisi menuju normal baru atau new normal ini, tren pencarian di sektor properti mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Pandemi Covid-19, 102 Pesawat Menganggur di Soekarno-Hatta

Akibat pandemi Covid-19, sebanyak 102 pesawat tidak beroperasi dan hanya terparkir di Bandara Soekarno-Hatta.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Perlindungan Anggota Lemah, Koperasi Perlu Lembaga Penjamin Simpanan

Koperasi membutuhkan kehadiran pemerintah untuk bersama-ama memberikan perlindungan terhadap simpanan anggota.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Menteri BUMN Buka Jalan Bagi Pemerintah Wujudkan The Good of Mankind

BUMN di bawah kepemimpinan Erick Thohir memiliki peluang mewujudkan the good of mankind dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat sesuai amanah konstitusi.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Seluruh Bursa Regional Terkoreksi, IHSG Justru Menguat 0,44%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menguat 0,44% dan menjadi satu-satunya indeks di bursa regional yang ditutup di zona hijau.

EKONOMI | 16 Juli 2020

6 Serikat Buruh Konsisten Perjuangkan RUU Cipta Kerja

Dibentuknya tim teknis pembahas klaster ketenagakerjaan ini merupakan dorongan dan tuntutan dari serikat pekerja/serikat buruh.

EKONOMI | 16 Juli 2020

Triwulan II 2020, Jumlah Penduduk Miskin Diprediksi Lampaui 5,1 Juta

Ekonom Akhmad Akbar Susamto memprediksi jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan pada triwulan II 2020 akan melampaui 5,1 juta orang.

EKONOMI | 16 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS