Bekerja dengan Hati
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

William Sabandar

Bekerja dengan Hati

Selasa, 3 Maret 2020 | 09:28 WIB
Oleh : Muawwan Daelami / AB

Kerja keras dan jujur ternyata belum cukup untuk mengantarkan seseorang ke puncak kesuksesan. Ada satu lagi kunci sukses yang tak boleh diabaikan, yaitu bekerja dengan hati. Bagaimana caranya agar seseorang bisa bekerja dengan sepenuh hati?

“Harus menyenangi pekerjaan. Jika saya senang terhadap pekerjaan saya maka saya akan punya passion. Jika punya passion, saya dapat bekerja dengan hati,” kata Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) William Sabandar di Jakarta, baru-baru ini.

Bekerja keras, berupaya untuk selalu jujur, dan senantiasa bekerja dengan hati adalah nilai-nilai yang terpatri kuat dalam kehidupan William Sabandar. Nilai-nilai itu pula yang selalu dipegangnya dalam meniti karier.

Berkat kerja keras, berupaya untuk selalu jujur, dan bekerja dengan hati, pria kelahiran Makassar, 4 November 1966 itu mampu menunaikan berbagai tugas penting yang diembannya dengan baik, termasuk memimpin langsung rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh-Nias pascabencana tsunami dan gempa bumi pada akhir 2004.

Eksekutif yang memulai karier dari bawah sebagai pegawai kontrak di Departemen Pekerjaan Umum (sekarang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/Kempupera) ini juga dipercaya menjadi Utusan Khusus Sekjen ASEAN merangkap kepala operasi rekonstruksi Myanmar pascabencana badai Nargis yang menewaskan hampir 150.000 orang pada 2008.

Willy, panggilan akrab William Sabandar, meyakini bahwa seseorang yang bekerja dengan hati akan memiliki banyak hal positif, seperti empati, simpati, rasa memiliki perusahaan, tanggung jawab, dan integritas. Itu sebabnya, seseorang yang bekerja dengan hati bakal mencurahkan segenap kemampuannya untuk menghasilkan karya terbaik.

Willy sukses mengantarkan PT MRT Jakarta menyelesaikan proyek MRT Fase I. Padahal, MRT Fase I merupakan proyek yang panjang dan sulit, baik secara target, waktu, maupun ketersediaan dananya. Banyak target proyek metro di dunia tidak tercapai. Tak cuma itu, PT MRT Jakarta juga dapat mengoperasikan MRT dengan baik.

Kecuali tengah mengejar target-target yang diamanatkan kepada PT MRT Jakarta, doktor transportasi jebolan University of Canterbury, Selandia Baru, ini sedang meletakkan dasar-dasar korporasi yang kuat, berlandaskan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

“Itu yang akan menjadi warisan saya jika suatu saat nanti saya tidak di sini lagi. Kalau sistemnya sudah kuat, siapa pun pemimpinnya akan mampu menjalankan perusahaan dengan sehat,” ujarnya.

Seperti apa perjalanan karier Willy? Bagaimana ia membangun sistem di PT MRT Jakarta hingga seperti sekarang? Apa saja kebijakan strategis yang pernah diterapkannya? Apa pula prinsip dan nilai-nilai filosofis yang membawanya pada kesuksesan? Berikut penuturannya:

Bagaimana Anda mengawali karier?
Saya mengawali karier dari bawah sebagai pegawai kontrak di Kempupera yang dulu bernama Departemen Pekerjaan Umum. Kemudian saya diangkat menjadi pegawai negeri sipl (PNS). Saya mengerjakan proyek jalan di Maluku.

Pelan-pelan, karier saya semakin baik dan dipercaya memimpin proyek di perencanaan dan pengawasan jalan di Maluku selama kurang lebih tujuh tahun sebagai inisiatif dari proyek nasional Kempupera. Selama di sana, saya ikut mendesain perencanaan transportasi yang mengintegrasikan moda transportasi darat, laut, dan udara.

Yang Anda kerjakan selanjutnya?
Saya melanjutkan studi di University of New South Wales, Australia, mengambil program civil engineering dan lulus tahun 2000. Dua tahun studi di Australia, saya tidak langsung pulang ke Indonesia karena waktu itu kondisi negara masih awal-awal reformasi. Saya pun memutuskan lanjut S-3, mengambil bidang transportasi perdesaan di University of Canterbury, Selandia Baru hingga selesai pada 2005 dengan judul disertasi Transportasi dan Ekonomi Perdesaan.

Ketika saya lulus S-3, kebetulan bencana tsunami juga terjadi di Aceh dan Nias. Pilihan waktu itu, bertahan di Selandia Baru atau kembali ke Indonesia, tetapi karena panggilan negara kuat sekali, saya akhirnya memilih pulang dan memenuhi ajakan Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, Kuntoro Mangkusubroto untuk membantu dan memimpin rekonstruksi di Nias.

Hasilnya seperti apa?
Empat tahun saya tinggal di Aceh-Nias. Saya kira, sekarang infrastruktur dan kondisi sosial masyarakat di sana sudah jauh lebih baik dan bisa sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia. Kalau ke sana sekarang, kita bisa lihat bangunan-bangunan yang dibangun saat rekonstruksi cukup bertahan dengan baik.

Bahkan karena hasil rekonstruksi di Aceh-Nias itu dinilai bagus, pemerintah menunjuk saya menjadi Utusan Khusus Sekjen ASEAN merangkap kepala operasi rekonstruksi Myanmar pascabencana badai Nargis yang menewaskan hampir 150.000 orang. Saya kerjakan operasi itu bersama Pemerintah Myanmar, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan lembaga donor, sampai 2010.

Sepulang tugas kemanusiaan di Myanmar, saya bergabung dengan Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Di situ, saya diminta menangani bidang perubahan iklim, seperti deforestasi dan degradasi lahan. Jadi, pengurangan emisi dari deforestasi dan land degradation adalah inisiatif yang saya pimpin ketika itu.

Saya juga pernah diminta menjadi staf ahli di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), membantu menteri untuk urusan energi baru dan terbarukan. Saya saat itu menjabat sebagai ketua task force energi terbarukan.

Kapan persisnya Anda bergabung dengan PT MRT Jakarta?
Pada 2016 setelah dari Kementerian ESDM, Gubernur Jakarta (waktu itu Basuki Tjahaja Purnama) meminta saya membangun dan menangani MRT. Jadi, saat itu kondisi MRT memang sedang banyak masalah dan proyeknya agak terlambat karena ada kontrak yang tidak bisa diselesaikan tepat waktu. Mungkin karena melihat pengalaman saya mengatasi krisis, saya ditunjuk memimpin MRT sampai sekarang.

Karier Anda sesuai cita-cita waktu kecil?
Waktu kecil, saya sebenarnya bercita-cita menjadi insinyur, tetapi karena pengalaman saya yang banyak berurusan dengan pembangunan, saya berefleksi bahwa mungkin ini waktu bagi saya untuk membantu, karena membantu itu satu-satunya cara yang paling baik. Apalagi pengalaman saya sewaktu di Nias juga, saya lihat tidak ada satu pun bangunan yang tegak di sana dan semuanya dipenuhi reruntuhan.

Hal paling membanggakan selama Anda bertugas di Aceh-Nias?
Hal paling memuaskan bagi saya adalah ketika melihat masyarakat Nias-Aceh bahagia dan punya harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Lebih bangga lagi, ketika saya sadar bahwa rekonstruksi itu bukan saja membangun perubahan secara fisik, tetapi juga membangun mental dan kepercayaan diri masyarakat. Itu bisa kita lakukan, ketika pemimpin turun ke lapangan, rajin berdialog bersama masyarakat, rajin melihat permasalahan di bawah, dan langsung melakukan leadership atau intervensi-intervensi strategis di lapangan.

Bagaimana Anda membangun PT MRT Jakarta hingga seperti sekarang?
Pertama, yang saya bangun yaitu komunikasi terbuka, mulai dari level pimpinan, staf, tim, dan seluruh karyawan. Komunikasi merupakan aspek paling penting untuk menjaga kekompakan tim.

Kedua, kami menjaga good corporate governance.Governance dari korporasi juga fondasi paling elementer yang saya kerjakan ketika memimpin PT MRT. Kalau perusahaan ingin sehat dan berkembang dengan baik, sistem atau tata kelolanya harus bagus.

Ketiga, setiap orang di dalam perusahaan harus punya target dan kinerja yang jelas. Dengan begitu, mereka akan punya achievement orientation. Jadi, semua orang tahu bahwa mereka mengarah ke tujuan yang sama. Tugas saya dan teman-teman direksi adalah mengarahkan supaya kapal ini bergerak dalam orkestrasi dan sinergitas yang bagus, menuju tujuan yang baik.

Terobosan paling monumental Anda di MRT?
Pertama, kami bisa menyelesaikan proyek MRT Fase I karena itu merupakan proyek yang cukup panjang dan sulit, baik secara target, waktu, maupun ketersediaan dananya. Banyak proyek metro di dunia tidak tercapai, tetapi MRT Fase I tercapai.

Terobosan kedua, operasional MRT bisa berjalan baik. Kami bisa berubah dan berpindah dari perusahaan yang tadinya hanya fokus pada konstruksi proyek, menjadi perusahaan yang operasionalnya berbasis operasi dan komersial.

Ketiga, upaya meletakkan dasar korporasi yang kuat yang diikat dengan GCG, sudah mulai terlihat hasilnya. Itu yang akan menjadi warisan saya jika suatu saat nanti saya tidak di sini lagi. Kalau sistemnya sudah kuat. Siapa pun pemimpinnya akan mampu menjalankan perusahaan dengan sehat.

Bagaimana Anda melihat respons dan dampak MRT bagi masyarakat?
Saya melihat adanya apresiasi dan perubahan budaya masyarakat dalam bertransportasi umum. MRT itu mengutamakan on time performance, jadi sekarang masyarakat lebih menghargai waktu. MRT juga menimbulkan lifestyle baru dalam bertransportasi. Penggunanya jadi naik kelas.

Sekarang orang bangga naik transportasi publik. Ini sesuai visi kami, MRT is more than just transport infrastructure. It is about lifestyle. Kita membangun infrastruktur transportasi, ya. Namun, outcome-nya adalah untuk meningkatkan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Itu bisa terjadi. Karena pembangunan transportasi publik yang semakin baik maka sistem transportasinya akan semakin baik. Ekonominya pun akan semakin tumbuh dan masyarakat akan mendapatkan manfaat dari pembangunan yang dibawa MRT. Dampak lainnya adalah penurunan biaya transportasi bagi masyarakat.

Mimpi Anda untuk MRT ke depan?
Mimpi saya, 230 km jaringan MRT bisa dibangun dalam 10 tahun ke depan. Ada pengintegrasian dengan seluruh moda transportasi lain, seperti Transjakarta. Jaringan Transjakarta dikembangkan sehingga semua penduduk Jakarta bisa bertransportasi dengan nyaman dari titik awal sampai titik tujuan. Di mana pun berada, mereka bisa terfasilitasi oleh transportasi publik. Pada 2020 kami targetkan bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah ini untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang ramah, aman, dan nyaman bagi masyarakat untuk menggunakan transportasi publik.

Apa kunci sukses menurut Anda?
Kerja keras, jujur, dan terakhir menyenangi pekerjaan. Jika saya senang maka saya punya passion terhadap pekerjaan yang saya kerjakan, sehingga saya dapat bekerja dengan hati. Seseorang yang bekerja dengan hati biasanya memiliki empati tinggi, rasa memiliki perusahaan, tanggung jawab, dan integritas. Ia juga akan bekerja secara total.

Peran keluarga terhadap karier Anda seperti apa?
Keluarga sangat instrumental dalam kehidupan pribadi saya. Tanpa dukungan keluarga, saya enggak akan bisa mengerjakan yang sudah ada. Istri saya, misalnya, dia berkorban penuh, rela menunda karier kedokterannnya saat saya memutuskan sekolah di luar negeri, bekerja di Nias dan Myanmar. Istri saya baru mulai melaksanakan tugas kedokterannya setelah anak-anak mulai besar. Pada fase-fase awal, praktis istri saya berperan sebagai orang tua tunggal.

Pesan Anda untuk generasi milenial dan masyarakat, khususnya para pengguna MRT?
Untuk milenial, sekarang adalah saat terbaik untuk membangun bangsa. Dunia sedang melihat Indonesia, apakah benar bisa menjadi negara superpower atau negara terbesar keempat atau kelima pada 2045. Maka, manfaatkanlah masa muda Anda sebagai kesempatan untuk mendedikasikan semua yang Anda miliki untuk negara ini.

Pesan saya kepada pengguna MRT, MRT jangan hanya dilihat sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga perlu dilihat sebagai sarana Indonesia melihat kemajuan pembangunan. Budaya yang kita bangun di MRT akan menunjukkan kita sebagai bangsa yang naik kelas. Gunakan transportasi publik lebih banyak dan pelihara taransportasi publik dengan baik supaya kita tidak hanya dilihat sebagai bangsa yang bisa membangun, tapi juga bisa memelihara.

Harapan Anda ke depan?
Saya berharap apa yang sudah dibangun di Jakarta ini menjadi contoh bagi kota-kota besar lain di Indonesia agar bisa membangun sistem transportasi publik yang baik. Kota yang maju atau negara yang maju selalu dicerminkan oleh bagusnya sistem transportasi publik. Semua orang naik transportasi publik, tanpa membedakan golongan sosial dan ekonominya. Tidak ada segregasi yang kaya naik transportasi pribadi dan yang miskin naik transportasi publik.



Sumber:Investor Daily


BAGIKAN


BERITA LAINNYA

Berjuang untuk Konservasi Lingkungan

Ida Saparida, dinobatkan sebagai pahlawan konservasi oleh Disney Conservation Fund.

FIGUR | 9 Februari 2020

Bawa Kopi Janji Jiwa Mendunia

Billy akan membuka cabang di beberapa negara di Asia Tenggara tahun depan.

FIGUR | 26 Desember 2019

Sang Dermawan

Penghargaan kepada TP Rachmat merupakan apresiasi terhadap kontribusinya bagi sesama.

FIGUR | 7 Desember 2019

Anak PKH yang Sukses Berlaga di Kompetisi Sains Dunia

Berayahkan seorang tukang becak penerima PKH, Anton sukses membuktikan bahwa ia mampu bersaing di berbagai kompetisi sains internasional.

FIGUR | 30 November 2019

Menikmati Pertemanan dengan Bakteri

Pratiwi Pujilestari Sudarmono astronot perempuan pertama di Indonesia kini berprofesi menjadi profesor ahli mikrobiologi

FIGUR | 28 November 2019

Bangun Pendidikan Daerah 3T dengan Aplikasi

Ia melibatkan komunitas anak muda Maluku Tenggara untuk terlibat langsung melatih para guru agar melek teknologi.

FIGUR | 15 November 2019

Dari Sales ke Kursi CEO

Salah satu kiat yang ia yakini adalah menerapkan komunikasi yang terjaga baik.

FIGUR | 6 November 2019

Selalu Bekerja dengan Hati Senang

17 tahun berkarier dalam industri tepung, Budianto Wijaya, Presiden Director PT Bungasari Flour Mills Indonesia, mengaku hati yang senang adalah kunci sukses.

FIGUR | 10 Oktober 2019

Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT

Anak-anak didikannya banyak diterima di perguruan tinggi terbaik di NTT. Bahkan sebagai besar berhasil diterima di Universitas Nusa Cendana.

FIGUR | 10 September 2019

Kardinal Baru Indonesia

Gereja Indonesia dinilai sebagai gereja hidup, yakni benar-benar hadir di masyarakat.

FIGUR | 6 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS