Open Minded
INDEX

BISNIS-27 510.733 (-1.34)   |   COMPOSITE 5813.99 (8.96)   |   DBX 1076.27 (11.92)   |   I-GRADE 169.305 (0.55)   |   IDX30 499.8 (-0.92)   |   IDX80 132.38 (-0.32)   |   IDXBUMN20 374.254 (2.01)   |   IDXG30 135.455 (0.05)   |   IDXHIDIV20 450.5 (-0.98)   |   IDXQ30 146.053 (-0.34)   |   IDXSMC-COM 250.881 (1.17)   |   IDXSMC-LIQ 309.077 (0.27)   |   IDXV30 131.098 (-0.19)   |   INFOBANK15 988.482 (5.02)   |   Investor33 429.242 (-0.7)   |   ISSI 170.543 (-0.37)   |   JII 620.021 (-3.74)   |   JII70 214.017 (-1.07)   |   KOMPAS100 1185.8 (-0.19)   |   LQ45 922.358 (-1.18)   |   MBX 1613.53 (0.24)   |   MNC36 321.576 (-0.73)   |   PEFINDO25 321.335 (-2.97)   |   SMInfra18 295.407 (1.45)   |   SRI-KEHATI 367.139 (-0.28)   |  

Muhammad Rachmat Kaimuddin

Open Minded

Senin, 9 Maret 2020 | 11:13 WIB
Oleh : Emanuel Kure / AB

Setiap orang punya kiat sukses yang berbeda-beda. Namun, ada satu kunci sukses yang sifatnya universal, yaitu open minded (berpandangan terbuka).

Open minded sangat penting bagi siapa pun yang ingin meraih impian besar. Dengan berpandangan terbuka, seseorang akan terus memperluas wawasan, memperbaiki diri, beradaptasi, dan menyerap ilmu-ilmu baru, sehingga ia mampu melahirkan ide-ide brilian, berkreasi, dan berinovasi.

Seseorang yang open minded tak pernah gentar ketika berhadapan dengan tantangan. Sebab dalam benaknya terpatri keyakinan kuat bahwa ia pasti bisa menghadapi tantangan tersebut.

Nilai-nilai itulah yang diterapkan Muhammad Rachmat Kaimuddin, chief executive officer (CEO) Bukalapak, salah satu perusahaan online marketplace terbesar di Tanah Air.

Rachmat Kaimuddin maklum jika Buklapak selama ini diidentikkan dengan Achmad Zacky, founder sekaligus CEO sebelumnya, yang dalam satu dekade terakhir sukses mengantarkan Bukalapak menyandang status unicorn (startup yang memiliki valuasi US$ 1-9 miliar).

Sukses yang dipetik Zacky tidak membuat Rachmat keder untuk mengambil tantangan baru. Ketika dipercaya melanjutkan milestone yang telah dibangun Zacky, mantan direktur keuangan dan perencanaan PT Bank Bukopin Tbk itu tak menampiknya.

“Saya melihatnya sebagai kesempatan sekaligus tantangan baru untuk membawa Bukalapak menjadi yang terbesar di Indonesia,” kata Muhammad Rachmat Kaimuddin di Jakarta, baru-baru ini.

Meski berlatar belakang bankir, Rachmat Kaimuddin yakin ia tidak akan sulit beradaptasi untuk memimpin Bukalapak. Rachmat melihat banyak kesamaan antara perbankan dan online marketplace, yaitu bagaimana mempertemukan penjual dengan pembeli dan mempertemukan kreditur dengan debitur.

“Intinya bagaimana saya open minded terhadap hal-hal baru,” tutur Rachmat yang pernah menjabat sebagai managing director PT Bosowa Corporindo Indonesia dan chief financial officer (CFO) Baring Private Equity Asia, Singapura.

Bagi Rachmat Kaimuddin, pemimpin perusahaan tak hanya dituntut memiliki kemampuan manajerial yang jempolan. Ia juga harus punya upaya lebih (extra effort) untuk mempelajari hal-hal baru. Hal-hal baru hanya bisa terserap jika ia selalu open minded. Dengan open minded, seorang CEO bisa terus mengasah diri, berkreasi, dan berinovasi. Hanya dengan open minded pula ia mampu mengambil tindakan yang tepat bagi perusahaan.

Apa yang mendorong Rachmat Kaimuddin banting setir dari bank ke e-commerce/online marketplace? Apa obsesinya? Apa pula strategi yang disiapkannya? Berikut pernyataannya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Background pendidikan saya adalah insinyiur elektro. Sempat belajar coding juga sih. Terus saya ambil manajemen bisnis untuk program MBA.

Awalnya saya memulai karier sebagai hardware design engineer di perusahaan di Amerika Serikat (AS). Begitu lulus kuliah dari AS, saya bekerja di sana kira-kira setahun. Setelah itu saya pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya mulai bekerja pada 2003.
Kebetulan, di Indonesia saya banyak mengerjakan hardware design. Kebetulan di Indonesia waktu itu industrinya belum ada. Akhirnya saya dapat pekerjaan di perusahaan konsultan manajemen, yaitu BCG (Boston Consulting Group).

Pada 2006, saya sekolah lagi, ambil MBA (master of business administrations) di AS. Saat itulah saya menemukan dunia baru, yaitu dunia investment. Saya tertarik di situ, lalu pada saat summer, saya ikut program International Finance Corporation (IFC) World Bank di Jakarta.

Sepulang dari AS, saya bekerja di perusahaan private equity fund. Awalnya di Indonesia, lalu di perusahaan Asia yang headquarter-nya di Hong Kong, tetapi saya kepala kantor di Indonesia. Salah satu tugas saya adalah mencari perusahaan untuk invest, kemudian kami bantu untuk mengembangkannya. Setelah bagus, sahamnya dijual. Dalam perjalanan itu, saya juga sempat diminta untuk menjadi direksi.

Pada 2014, saya diminta untuk bantu salah satu perusahaan konglomerasi di Indonesia timur, yaitu Bosowa Group. Kebetulan waktu itu Bosowa ingin beli saham di Bank Bukopin. Mereka cari orang untuk bantu di holding-nya, sekaligus juga menjadi komisaris di Bank Bukopin. Saya melakukan fungsi itu. Pada 2018, saya diminta pemegang saham untuk full time di Bukopin. Lalu pada akhir 2019, saya ke Bukalapak.

Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di dunia e-commerce/online marketplace?
Saya secara pribadi enggak terlalu melihat perbedaan antara dunia keuangan dan e-commerce. Saya lebih melihat persamaannya. Di banking dan e-commerce, dua-duanya saya sebut bisnis intermediary.

Di bank, kami menyimpan uang masyarakat di deposito dan menyalurkannya sebagai pinjaman. Ibaratnya mempertemukan deposan dan kreditur. Di e-commerce, kami mempertemukan penjual dan pembeli. Persamaannya di situ. Selain itu, kami harus menjaga transaksi terjadi.

Di bank banyak sekali transaksinya setiap hari, begitu pula di e-commerce. Dari sisi itu, saya melihat ada persamaan yang cukup fundamental. Filosofinya, kami mempertemukan dua pihak yang saling membutuhkan.

Khusus untuk Bukalapak, sebenarnya saya sangat tertarik karena misi Bukalapak itu kan ingin membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), atau dalam hal ini mass market, barangkali dari sisi merchant. Memang visi awalnya adalah memberdayakan UMKM di seluruh Indonesia, melalui teknologi.

Sebelumnya saya memang mengagumi teman-teman di Bukalapak karena berhasil menjadikan Bukalapak sangat bermanfaat bagi banyak orang. Maka ketika ditawari, saya anggap ini matching dan opportunity yang datang, ya saya ambil.

Kiat Anda dalam meraih kesuksesan?
Kalau di Bukalapak, saya belum berani bilang sukses, karena saya di sini mungkin baru sekitar dua bulan. Namun, saya memang beberapa kali diberi kepercayaan oleh orang-orang.

Yang pasti, kalau untuk sekolah, saya selalu coba dua hal. Pertama, selalu open mind untuk belajar. Saya memang senang mempelajari hal-hal baru. Kedua, saya selalu open untuk dikasih challenge.

Kalau misalnya dikasih tanggung jawab yang lebih, mindset saya selalu bilang bisa. Tentunya saya pelajari ilmunya, supaya saya benar-benar bisa.

Ketiga, saya coba untuk terus menjaga kepercayaan orang. Untuk itu, saya selalu berupaya untuk bekerja dengan baik, jujur, dan berintegritas.

Gaya kepemimpinan Anda?
Memimpin itu kan intinya bagaimana bisa menggerakkan resource, termasuk kolega. Tugas pemimpin harus bisa menjelaskannya. Nah, itu coba saya lakukan di Bukalapak. Saya menjelaskan tujuannya. Kenapa kami mau ke sana? Itu saya jelaskan melalui cara-cara yang bisa dipahami. Apalagi anak-anak sekarang susah dipaksa.

Bisnis kan mau menambah revenue, menjaga biaya, menjaga karyawan, menjaga infrastruktur, menjaga investor, menjaga pelanggan. Hal-hal seperti ini harus dijelaskan. Penjelasannya harus bisa diterima. Itu yang selalu saya coba.

Saya juga berusaha untuk lebih accessible. Teman-teman bisa datang, open untuk mengutarakan pendapat. Sebab, saya kan tidak tahu semuanya, mereka yang tahu.

Saya juga sampaikan bahwa mereka bisa sampaikan ke saya kalau keberatan atau enggak setuju. Yang penting bisa mendapatkan hal terbaik.

Yang terkahir, ketika sudah berkomitmen, make decision, ya saya akan meminta mereka untuk akuntabel. Kalau ada data yang berubah, atau situasi berubah, pasti kami duduk lagi.

Strategi Anda memajukan Bukalapak?
Ini mungkin sedikit berbeda dengan tempat saya yang dulu (Bukopin). Di bidang teknologi ini luas sekali kesempatannya. Kalau cerita growth, saya di sini sudah bertemu banyak orang. Ini kok sepertinya bisa dikerjakan. Sekarang ini kami mesti lebih disiplin aja, mana yang akan dikerjakan atau yang menjadi prioritas, sebab pasarnya masih luas.

Perdagangan di ritel e-commerce saja enggak sampai 10%, mungkin hanya 5%. Jadi, masih banyak yang dikerjakan. Kami juga tahu, masih banyak sekali barang hasil produksi UMKM yang belum terlihat. Padahal, kalau mendapatkan akses pasar, atau mendapatkan bantuan, bisa jadi demand-nya bisa mengglobal.

Jadi, yang pertama, challenge-nya besar, opportunity-nya besar. Kami harus mengatur ritme dan resources ini, sehingga teman-teman bisa fokus.

Kami banyak sekali bertemu dengan pihak pemerintah maupun UMKM. Mereka sangat ingin masuk ke platform online. Itu kan peluang sebenarnya.

Kedua, mengingatkan teman-teman bahwa Bukalapak punya misi tersendiri. Kami berdayakan UMKM. Kami fokus di situ, semua resources, kami fokus di situ.

Strategi kami adalah open minded terhadap banyak peluang, mana yang diprioritaskan mendapat effort supaya bisa tereksekusi dengan baik. Saya harus menyampaikannya secara baik misi perusahaan kepada karyawan, untuk menjaga motivasi mereka.

Seberapa menarik bisnis e-commerce/marketplace di Tanah Air?
Dengan banyaknya peluang, pasarnya sangat menjanjikan. Perdagangan itu kan sangat luas. Selama ini selalu ada yang ingin memonopoli perdagangan, tetapi itu tidak selalu berhasil.

Misalnya seaerch engine, namanya Google. Sekarang setiap orang punya. Google itu kan di seluruh dunia, tetapi di tiap wilayah berbeda-beda, karena memang agak sulit untuk memonopoli pasarnya. Terus yang offline, ada minimarket. Ada minimarket bersebelahan, produknya sama, tetapi masih jalan juga. Kami sebagai pelaku sangat optimistis.

Kesan Anda setelah masuk Bukalapak?
Ada dua kesan yang menarik bagi saya. Pertama, secara personal, untuk kali pertama dalam hidup saya bekerja di perusahaan, saya termasuk yang paling tua di sini. Di kantor sebelumnya, untuk level ini, saya merasa yang paling muda. Di sini, saya mungkin termasuk yang paling tua. Mungkin top 30 dari 2.100 karyawan. Ini menarik bagi saya.

Kedua, saya bertemu banyak pejabat pemerintah. Di situ saya melihat banyak sekali harapan terhadap e-commerce, khususnya Bukalapak.

Banyak sekali yang dapat kita kerjakan bersama. Saya juga selalu menyempatkan diri bertemu para pelapak dan mitra. Kalau mendengar cerita mereka, misalnya berkat Bukalapak mereka bisa mencari nafkah, income bertambah, itu menjadi energy booster bagi saya.

Obsesi Anda untuk industri e-commerce/marketplace Indonesia?
Bukalapak kan punya sekitar 80 juta user, baik pelapak, mitra, maupun pengguna. Perinciannya 5 juta pelapak, 3,3 juta mitra, dan 70 juta pengguna online. Kalau yang beli dari mitra, kami enggak hitung.

Dari situ, kami mendengar cerita, hidupnya berubah karena menggunakan platform kami. Cita-cita saya simple, saya ingin Bukalapak tetap ada sampai 100 tahun lagi. Masih gede dan masih memberikan manfaat.

Mas Zacky sudah melewati 10 tahun memimpin perusahaan ini. Katanya hanya 4% perusahaan bisa bertahan lebih dari 10 tahun. Jadi, saya dapat, udah lewat. Terus hanya ada 433 unicorn di dunia. Terus hanya 0,0045% perusahaan yang bertahan selama 100 tahun.

Ini tantangan. Oleh karena itu, saya ingin ikut bersama teman-teman membangun fondasi ke depan, sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu.

Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?
Ini tantangannya. Minimal kalau pagi saya mengantar anak ke sekolah. Bergantian karena sekolahnya berbeda-beda. Saya juga coba bagi waktu weekend untuk diri saya sendiri dan keluarga, minimal untuk makan bersama, mengobrol, atau do something.




BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Bekerja dengan Hati

Seseorang yang bekerja dengan hati akan memiliki banyak hal positif, seperti empati, simpati, rasa memiliki perusahaan, tanggung jawab, dan integritas.

FIGUR | 3 Maret 2020

Berjuang untuk Konservasi Lingkungan

Ida Saparida, dinobatkan sebagai pahlawan konservasi oleh Disney Conservation Fund.

FIGUR | 9 Februari 2020

Bawa Kopi Janji Jiwa Mendunia

Billy akan membuka cabang di beberapa negara di Asia Tenggara tahun depan.

FIGUR | 26 Desember 2019

Sang Dermawan

Penghargaan kepada TP Rachmat merupakan apresiasi terhadap kontribusinya bagi sesama.

FIGUR | 7 Desember 2019

Anak PKH yang Sukses Berlaga di Kompetisi Sains Dunia

Berayahkan seorang tukang becak penerima PKH, Anton sukses membuktikan bahwa ia mampu bersaing di berbagai kompetisi sains internasional.

FIGUR | 30 November 2019

Menikmati Pertemanan dengan Bakteri

Pratiwi Pujilestari Sudarmono astronot perempuan pertama di Indonesia kini berprofesi menjadi profesor ahli mikrobiologi

FIGUR | 28 November 2019

Bangun Pendidikan Daerah 3T dengan Aplikasi

Ia melibatkan komunitas anak muda Maluku Tenggara untuk terlibat langsung melatih para guru agar melek teknologi.

FIGUR | 15 November 2019

Dari Sales ke Kursi CEO

Salah satu kiat yang ia yakini adalah menerapkan komunikasi yang terjaga baik.

FIGUR | 6 November 2019

Selalu Bekerja dengan Hati Senang

17 tahun berkarier dalam industri tepung, Budianto Wijaya, Presiden Director PT Bungasari Flour Mills Indonesia, mengaku hati yang senang adalah kunci sukses.

FIGUR | 10 Oktober 2019

Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT

Anak-anak didikannya banyak diterima di perguruan tinggi terbaik di NTT. Bahkan sebagai besar berhasil diterima di Universitas Nusa Cendana.

FIGUR | 10 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS