Kampung Kawa, Ikon Baru Pariwisata Flores
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Kampung Kawa, Ikon Baru Pariwisata Flores

Minggu, 20 September 2020 | 18:35 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / AB

Jakarta, Beritasatu.com - Manggarai Barat punya komodo. Manggarai punya Waerebo. Ngada punya Bena. Ende punya Kelimutu. Sikka punya Teluk Maumere. Flores Timur punya Samana Santa. Nagekeo punya apa sebagai ikon pariwisata?

Pertanyaan ini acap diajukan orang saat berdiskusi tentang pariwisata Flores. Apalagi, Flores, satu dari tiga pulau besar di NTT, sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata premium dan Labuan Bajo, Manggarai Barat, dengan Komodo National Park, sudah diposisikan pemerintah sebagai destinasi wisata superpremium.

Bagaimana Nagekeo? Apakah tak ada destinasi yang layak menjadi ikon kabupaten? Kalau memang ada, bagaimana pengembangannya?

"Ada beberapa. Salah satunya adalah Kampung Adat Kawa," ujar Yohanes Niku, pelaku pariwisata asal Nagekeo, menjawab pertanyaan Beritasatu.com, Minggu (20/9/2020).

Emanuel Satu bersama seorang wisatawan mancanegara.

Dia yakin, Kawa akan bersaing dengan Bena dan Waerebo, bahkan bisa melampauinya. Pemandu wisata ini tidak asal bicara, sekadar membela kabupaten tempat kelahirannya. Ia sudah membawa 29 wisatawan mancanegara (wisman) ke Kawa, kampung adat yang terletak di punggung Gunung Amegelu.

Dua wisman, masing-masing, berasal dari Italia dan Kanada, sedangkan 27 lainnya dari Prancis. "Para turis senang sekali diajak ke Kawa," ungkap Yohanes, ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) cabang Nagekeo.

Terletak di lereng Gunung Amegelu bagian selatan, Kampung Kawa, Desa Labolewa, Kecamatan Aesesa, menjadi spot foto yang sangat strategis. Dari kampung yang dibangun sebelum Portugis masuk Flores abad ke-17 itu, pelancong akan mendapatkan pemandangan menawan saat melemparkan pandangan ke arah timur, selatan, hingga ke barat.

Memandang ke arah timur, Gunung Toto dan Wuse yang tampak membiru. Juga dataran Madawitu yang subur. Tepat di depan mata pelancong ada Gunung Manungae. Di Lembah Manungae dan Amegelu bakal dibangun salah satu waduk terbesar di NTT dengan luas 410 hektare.

Ke arah barat ada Gunung Ebulobo--dengan ketinggian 2.124 meter dari permukaan laut--yang acap berasap dan Gunung Inerie yang meruncing indah di ketinggian 2.245 meter dari permukaan laut.

Di bagian paling barat, berjajar pegunungan nan kokoh. Para turis acap mengabadikan suasana sunset, saat matahari tenggelam di sela-sela pegunungan. Seiring dengan redupnya matahari, suhu udara di Kampung Kawa perlahan menurun hingga di bawah 23 derajat celsius.

Asyiknya Hiking
Kampung Kawa dan jalan menuju kampung adat ini dikitari hamparan padang rumput, diselingi pohon perdu. Kondisi ini memberikan keleluasaan kepada pelancong untuk memandang jauh ke arah selatan, timur, dan barat Gunung Amegelu.

Ada jalan raya sepanjang 6,7 km yang bisa dilewati mobil hingga ke Kampung Kawa. Namun, wisman lebih senang hiking dan trekking. Mereka berjalan kaki, menanjak, dari jalan utama, Boamaso, ke Kawa lewat jalur pejalan kaki sambil melihat panorama padang sabana, serta ternak sapi dan kuda yang sedang merumput. Waktu tempuh sekitar satu setengah hingga dua jam untuk berjalan santai.

Sebelum mencapai Kampung Kawa, pejalan kaki melewati dua dataran tinggi, yakni Lambo dan Malaledu. Dua dataran menjadi spot foto yang menarik bagi wisatawan.

Dengan suhu udara 20-29 derajat celsius dan angin sepoi-sepoi sepanjang tahun, Kampung Kawa cukup sejuk meski ketinggian dari permukaan laut hanya 600 meter. Puncak Amegelu 1.373 meter dari permukaan laut.

Kampung Kawa mudah dijangkau wisatawan yang melintas di jalur utama Trans-Flores bagian tengah-selatan. Ketika sampai di pertigaan Aegela, pelancong yang datang dari arah timur sudah bisa melihat Kawa dari kejauhan. Wisatawan yang datang dari arah barat bisa melihat Kawa dari kejauhan sejak Kampung Raja, Boawae.

Dari Aegela, Ndora, tempat peristirahatan yang bakal dibangun rest area, pelancong yang hendak ke Kampung Kawa mengambil jalan ke utara menuju Mbay, ibu kota Nagekeo. Hanya lima menit, mobil dari Aegela sudah mencapai pertigaan, jalan menuju Mbay dan Kawa. Turis yang ke Kawa mengambil jalan kiri.

Untuk mencapai Kampung Kawa, turis bisa berjalan kaki sekitar tujuh kilometer dari jalan utama, Aegela-Mbay. Jalan yang bisa dilewati mobil sudah sampai di kampung yang berusia 500 tahun ini.

Bersejarah
Disebut kampung adat karena 12 rumah yang kini masih dihuni terbuat dari bahan lokal. Beratapkan alang-alang, berdindingkan kayu dan bambu. Semuanya rumah panggung. Tercatat 13 rumah adat di Kampung Kawa yang masih tampak antik. Satu rumah yang sudah roboh belum sampat dibangun kembali.

Seperti umumnya rumah adat di Flores, rumah adat di Kawa adalah juga rumah kolong dengan tiang yang ditancap dalam ke tanah. Atap rumah, semuanya, dari alang-alang. Dinding dan lantai terbuat dari kayu dan sebagian dari bambu.

Rumah dibangun mengitari halaman yang luas, tempat warga berkumpul, bermain, dan menjalankan ritual adat. Di salah satu sudut kampung ada tiang kayu bercabang dua yang disebut Peo, simbol persatuan suku-suku yang mendiami Kampung Kawa.

Setiap tahun ada ritual adat tinju yang diadakan di tengah kampung. Para petinju dari berbagai kampung di Nagekeo diundang. Acara tinju digelar di tengah kampung. Malam hari ada tarian yang disebut Teke.

Kawa menyimpan kisah heroik masa lalu. Di kampung ini, Nipado, pemimpin Perang Watuapi bersembunyi dari pengejaran Belanda. Perang Watuapi 1915-1916 menginspirasi pemberontakan melawan Belanda di seluruh wilayah Flores.

Dari tempat persembunyian, Nipado terus mengobarkan semangat perang. Meski disebut Perang Watuapi, perlawanan terhadap Belanda dilakukan oleh seluruh etnis Toto, baik yang berada di utara, timur, selatan, maupun di tengah. Di Toto bagian tengah dan selatan, ada Kepa Biu, di Toto bagian timur ada Deru Gore, dan di Toto bagian utara ada Daca Dhosa, kepala Kampung Watuapi.

Watuapi menjadi medan pertempuran paling sengit dan berdarah. Pasukan bersenjata api Belanda dilawan oleh pasukan berkuda berani mati. Padang terbuka dan kebiasaan berburu melahirkan pria-pria terampil menunggang kuda bersenjatakan tombak.

Di Kawa, kata Ignas Sengsara, Nipado tidak tinggal di rumah mertuanya, melainkan di gua agar terhindari dari pemantauan mata-mata Belanda. Meski demikian, Kawa tetap dianggap tidak aman. Nipado pun selalu berpindah-pindah.

"Dua istri Nipado, Gade dan Nago, berasal dari Kawa," kata Ignas, salah satu cicit Nipado.

Hal menarik lain dari Kawa adalah "batu gong", batu menyerupai gong yang berbunyi nyaring saat dipukul. Ada juga bekas tapak kaki manusia raksasa yang oleh orang Kawa disebut jinga beli.

Jumlah penduduk Kawa saat ini sudah mencapai 448 jiwa lebih dan banyak tinggal di luar Kampung Kawa. Sejak tahun 1950-an, sebagian orang Kawa turun ke Madawitu untuk bersawah. Pada 1980-an, mereka menetap di sepanjang jalan di Boamaso dan yang meninggalkan Kawa semakin banyak.

Di mata Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, Kawa mempunya keunggulan. Selain otentik, unik, juga memiliki lanskap dan pemandangan yang indah. Ada Amegelu di belakangnya, gunung yang menyimpan beberapa satwa langka. Pemda Nagekeo sedang menyusun sebuah master plan pariwisata Nagekeo agar wisatawan dapat menikmati alam dan budaya setempat dengan aman dan nyaman.

Jalan raya keliling gunung Amegelu akan dibangun agar wisatawan dapat memilih jenis transportasi yang ramah lingkungan. Masyarakat akan menyediakan kuda dan sepeda. Pelancong diberikan alternatif: berkuda, bersepeda, joging, atau sekadar berjalan kaki. Alam yang berbukit dan pada sabana menjadi lokasi yang cocok untuk camping.

"Tantangan kami saat ini adalah kesiapan SDM dan infrstruktur, mulai dari air, jalan, listrik, hingga jaringan telepon," papar Don Bosco.

Saat ini, pemda sedang merampungkan rencana induk sistem penyediaan air minum (RISPAM), pendataan sumber air, mulai dari debit, elevasi, dan jarak dari permukiman.

Bukan Hanya Kawa
Dua kali mengunjungi Nagekeo, Dirut Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina mengaku terkesan. Nagekeo memiliki sejumlah destinasi wisata eksotik. "Pajoreja-Ebulobo dan Kawasan Weworowet bagus banget dan punya konten lokal kelas tinggi," tulis Shana dalam percakapan lewat WhatAapp dengan Beritasatu.com pada akhir pekan lalu.

"Saya pernah dua kali bertemu bupati Nagekeo di Mbay," ujar Shana.

Dia juga sempat ke Weworowet atau kaki Gunung Sangabenga, dalam sebutan Lape dan Dhawe. "Seru sekali untuk wisata adventure, ya. Melihat dan makan daging domba, tetapi sayang, katanya domba sudah tidak ada lagi," tambah dirut BOBLBF itu.

"Kami siap support. Nagekeo cantik dan otentik banget. Belum lagi ada kampung Kawa dan lain-lain. Sangat cocok market-nya untuk wisata premium," ungkap Shana.

Bupati Nagekeo, demikian Shana, menyatakan rencananya untuk mendorong ritual tinju adat sebagai objek wisata. Hampir setiap kampung adat di Nagekeo memiliki jadwal tinju setiap tahun. Ola Mbay, Tutu Bhada, Boawae, dan Olaia, misalnya, memiliki acara tinju adat tahunan.

Dalam rencana Pemda Nagekeo, kata Don Bosco, Kampung Kawa akan dikembangkan bersama dengan Kampung Ngegedhawe, Kampung Ola Lape, Olaia, dan Labo.

"Lima kampung ini terletak di punggung Amegelu," kata Don Bosco, Minggu (20/9/2020).

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do bersama istri disambut di Kampung Adat Kawa.

Kampung Olaia terletak di bagian timur Amegelu. Di atas Olaia ada Ngegedhawe. Di Kotajogo lereng Amegelu menghadap utara ada Kampung Ola Lape. Di kaki Gunung Amegelu bagian barat ada sejumlah kampung Rendu. Pemda Nagekeo berencana membangun jalan lingkar Amegelu untuk mendorong pariwisata.

Tinju--atau etu dalam bahasa lokal--merupakan atraksi paling ditunggu masyarakat Nagekeo. Petinju tangguh datang juga dari Soa, Ngada. Dalam sejarah tinju di Nagekeo selama 75 tahun Indonesia merdeka, orang Rendu menjadi penyumbang terbesar petinju tangguh.

Atraksi "etu" remaja.

Nama Boro-Bela, dua kakak-beradik dan Repa adalah legenda tinju adat asal Rendu. Dalam hampir satu dekade, Boro hanya bisa dikalahkan oleh Bela, dan Bela hanya bisa dikalahkan oleh Boro. Setelah era Boro-Bela, muncul Repa, petinju kelas berat yang sekali pukul lawan dan sike--atau orang yang bertugas sebagai penopang petinju--, terjungkal sekaligus.

"Di Nagekeo ada 26 kampung adat yang menyelenggarakan tinju adat secara rutin," papar bupati Nagekeo.

Pemda akan membuat calendar event agar pelancong mendapatkan informasi lengkap mengenai ritual tinju selama setahun.

Selain Kawa, Nagekeo memiliki banyak objek wisata menarik. Yang menonjol adalah tinju adat yang diadakan di berbagai kampung, kampung adat di sekeliling Gunung Amegelu dan Gunung Ebulobo, irigasi Mbay, Gunung Weworowet, wisata laut Kotajogo-Kinde, dan sejumlah destinasi di pantai selatan Nagekeo, seperti Pantai Enegara dan Tonggo.

Di selatan Gunung Ebulobo, ada Kampung Pajoreja yang eksotik, sedangkan di utara Ebolobo, ada Kampung Gero dan Er'isa.

"Saya biasa membawa tamu ke Kawa dan Gero," ujar Yohanes.

Gero disukai turis karena dari kampung ini, pelancong bisa melihat keindahan Gunung Ebulobo dan Amegelu sekaligus.

Wisata laut yang kini tengah dirintis adalah anjangsana dengan kapal menyusuri hutan bakau dari Pelabuhan Kotajogo ke Pulau Kinde. Dari Kotajogo, tamu dibawa ke Nanga, sebuah teluk yang setengah ditutup oleh Pulau Nusa. Perjalanan dari Kotajogo ke Pulau Kinde di Kaburea sekitar satu jam. Terletak persis di pintu masuk Teluk Kaburea, Pulau Kinde memberikan panorama menawan. Semua tamu yang pernah ke Kinde selalu menyatakan niat untuk kembali.

Sawah di irigasi Mbay seluas 6.000 hektare juga memiliki daya pesona. Dengan jalan raya mulus di sepanjang saluran sekunder, irigasi Mbay menjadi tempat asyik untuk bersepeda. Setiap jengkal tanah di sawah Mbay menjadi spot foto menarik. Hamparan sawah dengan latar belakang Gunung Amegelu merupakan bagian dari objek foto yang indah.

Di Mbay juga ada tiga lokasi gua yang dibangun Jepang pada Perang Dunia II untuk melindungi diri gempuran Sekutu. Gua Jepang di Nagewaja, Aeramo, dan Penginanga, perlu dikeruk agar bisa menampakkan keaslian. Selain gua, landasan bandara di Marapokot adalah saksi bisu posisi strategis Mbay pada masa pndudukan Jepang dilihat dari geostrategi.

Leading Sector
Pemerintah sudah menemukan destinasi wisata superprioritas, yakni Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, Danau Toba, dan Likupang. Kelima destinasi tersebut nantinya memiliki segmentasi berbeda-beda, seperti ada superpremium sampai menengah ke bawah.

Hal tersebut terkait dengan kesiapan pertemuan G-20 dan ASEAN Summit pada 2023 di Labuan Bajo. Selain melihat Komodo National Park dan biawak purba di Pulau Komodo dan Rinca, delegasi G-20 akan mengunjungi sejumlah objek wisata di daratan Flores. Yang sudah disebut dalam rundown acara adalah Waerebo, Manggarai.

Dengan kondisi alam yang umumnya bergunung dan berbukit curam, Flores bukanlah wilayah pertanian yang ideal. Luas lahan pertanian rata-rata kurang dari setengah hektare per petani. Flores umumnya dihuni para petani subsistence, petani dengan hasil pertanian yang hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari.

Sangat tepat ketika pemerintah menetapkan pariwisata sebagai leading sector pembangunan ekonomi di NTT. Meski tidak semua bupati di Flores menetapkan pariwisata sebagai leading sector, Pemprov NTT sudah menunjukkan arahnya. Dalam visi pembangunannya, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do menyebutkan pariwisata sebagai leading sector karena sektor ini memiliki forward dan backward linkages yang luas terhadap sektor lain, terutama sektor pertanian, tempat mayoritas penduduk Nagekeo menggantungkan nasib.

Pariwisata juga merupakan bisnis yang quick yielding. Pariwisata menggerakkan bisnis informasi dan komunikasi, transportasi, perdagangan, pergudangan, perhotelan, properti, dan hiburan. Pariwisata juga menarik sektor pertanian dalam arti luas dan berbagai jenis industri.

Tidak semua bisnis pariwisata membutuhkan modal besar. Membangun biro perjalanan dan homestay tidak membutuhkan biaya besar dan modal bisa kembali dalam beberapa tahun, bahkan dalam hitungan bulan.

Saat ini, Nagekeo tengah berbenah, membangun objek wisata, infrastruktur, akomodasi, emenitas, pertanian, dan industri kerajinan. Semuanya dijalankan bersama agar pariwisata berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat. Pangan dan suvenir yang disediakan di penginapan berasal dari masyarakat setempat. Program pariwisata dijalankan bersamaan dengan kampanye "buying Nagekeo", bela dan beli produk Nagekeo.

“Mewujudkan Nagekeo yang Sejahtera, Nyaman, dan Bermartabat Melalui Pembangunan Sektor Pertanian dan Pariwisata” adalah visi bupati dan wakil bupati Nagekeo periode 2018-2023. Pariwisata membutuhkan hospitality atau keramahtamahan dan kualitas pelayanan level dunia, karena tamu yang diharapkan datang dari berasal dari berbagai belahan dunia.

Pelancong yang turun di Labuan Bajo harus juga diarahkan ke Flores mainland. Di Nagekeo ada Kampung Adat Kawa sebagai ikon baru pariwisata Flores.

Selamat datang di Kampung Adat Kawa.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Selain Bunaken, Olly Sebut Keindahan Mangatasik Tak Kalah Menawan

Provinsi Sulut memiliki banyak spot destinasi wisata bawah laut yang menawan.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Imbas Pandemi, Isyana Sarasvati Rajin Masak untuk Suami

Isyana didapuk menjadi brand ambassador Masako.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Ayudia C Kembali Hadirkan 50 Gaya Hijab Minimalis

Ayudia C melibatkan warganet dan menggali apa yang dibutuhkan untuk menunjang gaya modest mereka sehari-hari dalam adaptasi kebiasaan baru.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Ajinomoto Tunjuk Isyana Sarasvati sebagai Brand Ambassador Masako

PT Ajinomoto Indonesia memilih penyanyi Isyana Sarasvati sebagai brand ambassador baru untuk produk bumbu penyedap rasa Masako.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Bali I Miss U Ajak Wisatawan Berwisata dengan Protokol Kesehatan

Kampanye Bali I Miss U diluncurkan untuk mengajak masyarakat patuh berwisata sehat dengan menerapkan protokol kesehatan berkonsep Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability (CHSE) atau Kebersihan, Kesehatan, Keamanan, dan Ramah Lingkungan sesuai arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Burger King Luncurkan Whooper Tanpa Pewarna Sintetis dan Penyedap Rasa

Restoran Burger King meluncurkan varian baru Whopper yang dibuat tanpa pewarna sintetis dan penyedap rasa.

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Pernah Tertipu Investasi Bodong, Indra Kenz Bangkit Jadi Trader Sukses

Indrakenz sempat menghebohkan di media sosial lewat kontennya tentang kemewahan dan kesuksesan dengan jargonnya,"Murahkan? di aplikasi TikTok.

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Kopi Brand Lokal Paling Diburu Selama Pandemi

Belanja online menjadi salah satu cara masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya di masa pandemi Covid-19.

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Bisnis Sepatu Bayi Masih Eksis di Tengah Pandemi Covid-19

Usaha sepatu anak Cullinan Jeremy banjir pesanan di masa pandemi Covid-19

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Cantik Alami dengan "Keajaiban" Pansela

Ketika melakukan riset, para pakar di Pansela memang memfokuskannya pada jenis kulit wanita Indonesia.

GAYA HIDUP | 17 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS