Restorasi dan Semangat Preservasi Film
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Fukuoka Film Festival 2017

Restorasi dan Semangat Preservasi Film

Sabtu, 7 Oktober 2017 | 20:56 WIB
Oleh : Dewi Ria Utari / AB

Mengembalikan sejarah sering kali terdengar mustahil. Namun dalam perfilman, upaya itu coba dilakukan sejumlah pihak dengan merestorasi film-film klasik. Tema restorasi ini menjadi salah satu pembicaraan yang mengemuka dalam "Fukuoka International Film Festival" yang diselenggarakan Focus on Asia Fukuoka International Film Festival Committee dengan The Japan Foundation Asia Center pada 15-24 September lalu.

Berlangsung di Canal City Hakata, di Fukuoka, Jepang, diskusi bertema restorasi ini mengambil titik tolak dari upaya pertama perfilman Thailand merestorasi film Santi Vina. Film 35 mm berwarna pertama ini diproduksi negara tersebut pada 1954.

Hadir dalam diskusi tersebut, pembicara dari Thailand dan Indonesia. Dari Thailand tampil Sanchai Chotirosseranee (dari Thai Film Archive), dan dari Indonesia, Lisabona Rahman (film preservation consultant). Simposium ini berlangsung setelah pemutaran film Santi Vina yang berlangsung pada 21 September.

Dalam simposium tersebut, Sanchai menceritakan proses penyelamatan film Santi Vina yang pernah meraih dua Golden Harvest Award untuk kategori "Best Cinematography" dan "Best Art Direction" saat film itu mengikuti edisi pertama Film Festival in Southeast Asia di Tokyo pada Mei 1954. Film Santi Vina juga meraih penghargaan khusus dari Association of Motion Picture Producers of America untuk kategori "The Feature Picture which will Best Disseminate Asian Culture and Increase Understanding of Asia by the West”.

Meski meraih banyak penghargaan, materi asli Santi Vina menghilang selama bertahun-tahun. Namun pada 2014, negatif asli dari film itu ditemukan di British Film Institute dan cetakan film itu juga ditemukan di China Film Archive dan di Gosfilmofond di Rusia.

Restorasi format 4K kemudian dikerjakan dari hasil gambar dari kamera awal dan negatif suara. Sementara negatif warna yang asli telah melapuk dan semuanya berwarna kekuningan. Print yang ditemukan di China Film Archive kemudian digunakan sebagai referensi dalam proses merestorasi.

Pengalaman restorasi Santi Vina ini ditambahkan dengan pengalaman restorasi film di Indonesia yang disampaikan Lisabona. Ia mengambil contoh keberhasilan Indonesia merestorasi film Lewat Djam Malam dan Tiga Dara.

“Restorasi film di Indonesia berhasil dilakukan karena kolaborasi berbagai pihak, yang mana hal ini merupakan efek besar dari perhatian publik Indonesia terhadap film-film lama yang akan direstorasi,” ujar Lisabona.

Kalangan perfilman Indonesia melakukan strategi yang melibatkan publik untuk memberi perhatian terhadap sejumlah isu restorasi film.

Lisa menjelaskan material film-film lama di Indonesia umumnya berasal dari Sinematik Indonesia yang didirikan Misbach Yusa Biran pada 1975. Sinematik Indonesia merupakan sebuah institusi independen mengarsipkan film-film Indonesia.

“Koleksinya tidak banyak yang berupa negatif, tetapi ia mendapatkan banyak kopi film dari Perfini,” ujar Lisabona.

Sejauh ini sudah ada tiga film lama yang direstorasi di Indonesia. Selain Lewat Djam Malam dan Tiga Dara, juga ada film Darah dan Doa yang telah direstorasi pada 2013. Melihat animo masyarakat Indonesia untuk melihat kembali film-film lama, telah disiapkan sejumlah judul yang akan direstorasi. Namun, Lisabona menyarankan fokus utama para pemerhati film hendaknya diarahkan pada perawatan film.

“Restorasi itu mahal harganya. Masih banyak hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan. Lebih baik jika kita melakukan preservasi ketimbang restorasi,” ujarnya.

Focus on Asia Fukuoka International Film Festival merupakan festival film yang diluncurkan pada 1991 yang bertujuan untuk melakukan pertukaran budaya dengan negara-negara Asia lainnya. Penyelenggara festival ini melakukan perjalanan untuk melakukan riset dan memilih film-film yang akan diseleksi untuk ditampilkan di Fukuoka. Sejak 2015, festival film ini didukung sepenuhnya oleh The Japan Foundation Asia Center.

Tahun ini, terpilih 63 film dari 22 negara dan wilayah. Dari Indonesia, tampil film Ben & Jody yang merupakan sekuel dari film Filosofi Kopi. Saat pemutaran film ini pada 24 September, studio 5 United Cinemas Canal City dipadati sekitar 70 persen penonton. Sayangnya jumlah penonton ini tak cukup untuk mengantarkan film ini meraih Audience Award yang tahun ini didapatkan film Bad Genius dari Thailand.




BAGIKAN


BERITA LAINNYA

Telah Hadir MyDio Sing, Aplikasi Digital Musik Berbasis Video Karaoke

Sebuah aplikasi layanan digital musik berbasis video karaoke dengan musik dan video orisinil telah hadir, diberi nama MyDio Sing.

HIBURAN | 7 Oktober 2017

Louis Vuitton Gandeng Emma Stone

Bintang La La Land itu sepakat untuk menjalin kerja sama dengan Louis Vuitton selama dua tahun.

HIBURAN | 7 Oktober 2017

Mike Lewis dan Kelly Tandiono Terpikat Kreasi RO$EGOLD

Koleksi Vicky Supit dan Joven dinilai membawa hawa baru bagi dunia fashion di Indonesia.

HIBURAN | 7 Oktober 2017

Slamet Rahardjo Anggap Penghargaan sebagai Beban

Slamet Rahardjo kembali mendapat nominasi Piala Citra untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik.

HIBURAN | 7 Oktober 2017

Streetwear Edgy, Hasil Kolaborasi Ibu dan Anak

RO$EGOLD menyuguhkan busana kasual dalam material berkualitas dan kaya akan detil.

HIBURAN | 7 Oktober 2017

Marshanda Lebih Selektif Pilih Pendamping

Marshanda mengaku tidak pernah berhenti dalam mencari pendamping hidup.

HIBURAN | 6 Oktober 2017

Sam Aliano Minta KPI Cekal Nikita Mirzani

Aktris dan model iklan Nikita Mirzani dilaporkan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia Muda (PIM) ke KPI.

HIBURAN | 6 Oktober 2017

Rio Dewanto Senang Koleksi Sepatu Mahal

Rio Dewanto mengaku nyaman menggunakan sepatu boots Timberland

HIBURAN | 6 Oktober 2017

Thamrin City Bisa Menjadi Rumah Batik Nasional

Tidak lengkap ke Jakarta tanpa mengunjungi Thmarin City.

EKONOMI | 6 Oktober 2017

Anggy Umbara Garap Film 5 Cowok Jagoan

Sukses menggarap film 3 (Alif Lam Mim) pada Oktober 2015 lalu, MVP Pictures dan sutradara Anggy Umbara kembali bekerja sama dalam satu produksi. Film yang berjudul 5 Cowok Jagoan akan meramaikan industri perfilman akhir tahun ini.

HIBURAN | 5 Oktober 2017


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS