3 Pemuka Agama Abrahamik Berbagi Pengalaman “Tinggal Seatap”
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

3 Pemuka Agama Abrahamik Berbagi Pengalaman “Tinggal Seatap”

Kamis, 22 Agustus 2019 | 21:32 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / AB

Jakarta, Beritasatu.com - Tiga pemuka agama Abrahamik dari Islam, Kristen, dan Yahudi, mengikuti program antariman yang digagas oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), yaitu melakukan perjalanan ke komunitas masing-masing, termasuk tinggal di rumah mereka. Program yang diberi nama “The 1.000 Abrahamic Circle” itu melibatkan pemuka agama Islam dari Indonesia, pemuka agama Kristen dari Selandia Baru, dan pemuka agama Yahudi dari Amerika Serikat (AS).

Ketiga pemuka agama itu adalah ustaz Oji Fahruroji dari Pesantren Peradaban Dunia Jagad Arsy, rabi Eliot Baskin dari Kuil Emanuel Denver, Colorado, yaitu sinagoge tertua dan terbesar di kawasan Pegunungan Rocky, AS, dan pendeta Ryhan Prasad dari Gereja Presbiterian Khandallah Selandia Baru. Ketiganya mengunjungi kota tempat tinggal dari masing-masing mereka selama sepekan sehingga total waktu yang dihabiskan dalam program tersebut adalah tiga pekan.

“Saya tumbuh dan besar di komunitas Islam, sekolah di sekolah Islam, sekarang mengajar di pesantren. Secara otomatis, saya hanya memiliki satu perspektif, yaitu perspektif orang Islam, terlebih saya belum pernah bertemu orang Yahudi di Indonesia,” kata ustaz Oji dalam acara bertajuk “The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at the Grassroots” di Bengkel Diplomasi FPCI, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Ustaz Oji mengakui proses bertumbuh di lingkungan konservatif Islam membuatnya memiliki prasangka bahkan kebencian terutama kepada orang Yahudi. Namun, pikirannya mulai terbuka saat bertemu, berbicang, dan tinggal seatap dengan orang Yahudi lewat program Abrahamic Circle. Dia juga menyadari persentase persamaan antara orang Islam dan orang Yahudi justru lebih besar dibandingkan perbedaannya.

“Bertemu mereka secara pribadi, tinggal di rumahnya, dan pergi besama. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa Yahudi tidak seperti apa yang orang sangka tentang mereka,” kata ustaz Oji.

Dia menambahkan program ini bukan bertujuan saling mengintervensi agama, tetapi memperbaiki komunikasi lewat dialog, diskusi, dan melihat langsung kehidupan keagamaan masing-masing. Menurutnya, pertemuan dengan pemuka agama Yahudi dan Kristen sudah seperti membangun keluarga.

“Islam ajarkan, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Jadi saya katakan maaf atas apa yang saya pikirkan, kecemburuan, dan prasangka,” tambah ustaz Oji.

Sementara itu, rabi Eliot mengatakan program Abrahamic Circle sangat transformatif. Dia mengaku sempat khawatir saat akan menyambut ustaz Oji di Bandara Internasional Denver, Colorado.

“Dia (ustaz Oji, Red) memberikan saya pelukan erat. Saya khawatir karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim, tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, hanya sedikit sekali komunitas Yahudi, bahkan di negara-negara lain tersembunyi,” kata rabi Eliot.

Sedangkan pendeta Ryhan mengatakan kabar baik dari ketiga agama Abrahamik ini harus disebarkan ke dunia. Dia juga mengakui sangat menikmati keramahan saat berada di Pesantren Jagad Arsy.

Mantan wakil menteri luar negeri Indonesia sekaligus inisiator “The 1.000 Abrahamic Circle” (1.000 Lingkaran Abraham), Dino Patti Djalal mengatakan program tersebut bertujuan mempromosikan persahabatan pada tingkat akar rumput di antara agama-agama Abraham atau dikenal juga sebagai agama Samawi. Ketiga pemuka agama ini adalah lingkaran pertama, lalu akan diteruskan sampai 1.000 lingkaran selama 10 tahun. Targetnya, 3.000 pemuka agama Abrahamik dari 40 negara bisa mengikuti program ini.

“Kita banyak mendengar proses antariman, interfaith secara internasional, tetapi ini mengalami kelesuan karena pesertanya sama, prosesnya sama, pidatonya juga sama, sementara di akar rumput, ketegangan dan negativisme antarpemeluk agama Kristen, Islam, dan Yahudi secara global semakin tinggi,” kata Dino yang juga mantan duta besar RI untuk AS.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Mahasiswa Papua Kembalikan Minuman Beralkohol Kiriman Polisi

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua dan Solidaritas Peduli Kemanusiaan mengembalikan minuman beralkohol pemberian polisi.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Geledah Rumah Kabid SDA Dinas PUPKP Yogya, KPK Sita Uang Rp 130 Juta

Tim penyidik KPK menyita uang sebesar Rp 130 juta saat menggeledah rumah Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPKP Kota Yogyakarta Aki Lukman Nor Hakim

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Kemtan Luncurkan Inovasi Bioplastik dari Tapioka

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan royalti sebesar Rp 8 miliar untuk para peneliti yang berhasil melahirkan inovasi-inovasi baru.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Aktivitas Pelajar di Kota Sorong Kembali Normal

Aktivitas sekolah di Sorong, Papua Barat kembali normal pada Jumat (23/8/2019).

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Cipayung Plus: Aparat Harus Ungkap Aktor Intelektual Penyerangan Asrama Papua di Surabaya

Kelompok Cipayung Plus berharap agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan mahasiswa Papua

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Perjuangkan Lahan, Warga Lampung Timur Minta Bertemu Moeldoko

Berharap mendapatkan rekomendasi dari Ditjen Planologi dan Data Lingkungan KLHK.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Revolusi Industri 4.0, Gita Gutawa: Pendidikan Harus Beradaptasi

Sistem pendidikan secara utuh harus ikut beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mulai dari kurikulum, cara mengajar, sistem pengajaran,dan sebagainya.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Tertimpa Pohon, Anggota Pemadam Kebakaran Hutan di Batanghari Kritis

Asmara dalam kondisi kritis usai tertimpa pohon saat memadamkan api di kawasan hutan Taman Raya Sultan Thaha Syaifuddin, Batanghari, Jambi.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Kasus Aspidum Kejati DKI, KPK Cegah 6 Orang

KPK mencegah enam orang bepergian ke luar negeri terkait kasus dugaan suap pengurusan perkara penipuan investasi yang menjerat mantan Aspidum Kejati DKI.

NASIONAL | 23 Agustus 2019

Warga Kupang Berterima Kasih kepada Presiden Jokowi

Sertifikat gratis bukti kepedulian terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.

NASIONAL | 23 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS