Kebebasan Finansial
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Kebebasan Finansial

Tajuk: Investor Daily
Daily news and information on financial markets and investments.

Rabu, 16 September 2020 | 07:56 WIB

Krisis senantiasa melahirkan kemiskinan dan pengangguran baru. Begitu pula krisis pandemi Covid-19 yang disebut-sebut lebih dahsyat dari krisis moneter 1998 dan krisis finansial global 2008. Di Indonesia, pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat sekitar 7 juta orang harus kehilangan pekerjaan.

Krisis Covid juga membuka mata kita betapa ada puluhan juta orang dan keluarga yang tidak memiliki dana darurat atau tabungan sama sekali. Mereka hanya mengandalkan penghasilan harian, yang belum tentu mencukupi kebutuhan hidup.

Kian maraknya bisnis gadai swasta dan antrean orang yang mengajukan pinjaman darurat ke pegadaian merefleksikan kemendesakan akan kebutuhan uang. Demikian pula kian masifnya bisnis peer to peer lending dengan persyaratan yang amat mudah, menjadi sasaran empuk kelompok masyarakat bawah yang terdesak kebutuhan dan butuh pinjaman cepat cair.

Berbagai fenomena tersebut juga menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat kita tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik. Mereka tidak disiplin dalam menabung atau memberikan proteksi terhadap risiko kehidupan yang dihadapi. Apalagi untuk bicara tentang kebebasan finansial, itu terlalu jauh, bahkan banyak yang tak terpikirkan sama sekali.

Namun, itu bukan cuma tipikal masyarakat Indonesia. Masyarakat Amerika Serikat yang sangat maju dan ekosistem finansialnya sangat canggih pun kelabakan menghadapi pandemi Covid-19. Sebuah survei terbaru menunjukkan, sekitar 40% orang Amerika tidak ada uang untuk berjaga-jaga, meskipun hanya US$ 400. Utang kartu kredit mencapai tingkat tertinggi dan mereka tidak mampu bayar. Sekitar dua pertiga penduduk AS tidak lulus tes literasi keuangan level basic.

Atas dasar fakta tersebut, krisis Covid-19 sekarang ini merupakan momentum yang tepat untuk mengingatkan pentingnya merencanakan keuangan untuk menciptakan kebebasan finansial. Di Indonesia, tingkat inklusi keuangan sudah lumayan tinggi, tetapi tingkat literasi mereka rendah. Akibatnya, mereka bukan hanya tidak memahami pentingnya perencanaan keuangan, namun yang lebih fatal, mereka sering terjerat oleh berbagai produk investasi ilegal.

Literasi keuangan dan perencanaan keuangan terlebih-lebih amat penting bagi kaum milenial. Meski belakangan investor milenial sudah melek pasar modal, bukan jaminan mereka memahami pentingnya kebebasan finansial. Mengacu data di Bursa Efek Indonesia, jumlah investor usia muda dan milenial meningkat signifikan. Per 30 Juni 2020, jumlah investor di bawah 30 tahun mencapai 45,74% dari total investor. Sedangkan kelompok investor usia 31-40 tahun tercatat 24,57%.

Kaum milenial selaku pelaku ekonomi penting saat ini harus memiliki perencanaan keuangan yang cerdas. Sebab, berbagai survei yang dilakukan oleh bank dan asuransi membuktikan bahwa kaum milenial lebih rentan secara finansial. Banyak milenial yang tidak sadar bahwa investasi pensiun 15 tahun lebih awal akan mendapatkan hasil 4 kali lipat. Banyak kaum milenial yang tak mampu membeli rumah atau apartemen sederhana.

Milenial juga disebut-sebut tidak mempersiapkan dana darurat. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk jalan-jalan dan berbelanja. Kebanyakan mereka menabung kalau ada uang sisa, padahal seharusnya menabung itu bukan dari uang sisa, tetapi menyisihkan uang untuk menabung dahulu, baru menggunakan uang sisa untuk kebutuhan lain.

Itulah sebabnya, literasi keuangan harus dikuasai oleh kaum milenial agar mereka mampu mewujudkan kebebasan finansial (financial freedom). Ada beberapa strategi untuk hal itu, antara lain menentukan tujuan keuangan sejak awal, memahami kondisi keuangan terutama kewajiban yang mesti dipenuhi, memulai investasi dan menabung sejak dini, melunasi utang, dan mempersiapkan dana darurat.

Selain menaikkan literasi keuangan, masyarakat termasuk milenial harus menghindari jebakan investasi yang menyesatkan alias ilegal. Keputusan untuk berinvestasi harus mengacu pada legalitas dan logis. Harap diingat bahwa investasi ilegal biasanya menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat. Investasi itu menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru. Investasi ilegal biasanya menjanjikan aset aman dan jaminan pembelian kembali, padahal tidak ada investasi yang tidak berisiko.

Dalam konteks itulah, pemerintah, otoritas terkait, lembaga keuangan, dan para pemangku kepentingan penting untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi tentang literasi keuangan. Masyarakat, khususnya kaum milenial, harus dididik sejak dini pentingnya disiplin menabung dan berinvestasi, merencanakan keuangan secara baik, dan menghindari tawaran investasi ilegal.

Dengan menyiapkan perencanaan keuangan sejak dini, setiap individu akan lebih siap dan resilien menghadapi krisis yang bisa datang sewaktu-waktu. Dalam perspektif lebih makro, jika masyarakat berdisiplin merencanakan keuangannya, stabilitas sistem keuangan akan terjaga, dan perekonomian akan lebih tahan dalam menghadapi guncangan.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS