Logo BeritaSatu

Otak Menggambarkan Siapa Kita

Rabu, 22 Januari 2014 | 14:46 WIB
Oleh : @charlesbonar / AB

Pada tulisan yang lalu saya berbagi pengalaman bahwa manusia dalam usia muda memiliki peluang yang lebih lebih besar untuk menjual gagasan. Oleh karena itu, selagi masih muda kita harus sering memerintahkan otak untuk lebih banyak bekerja. Selagi masih muda kita harus lebih sering bergerak, beraktivitas agar gerak tubuh kita jauh lebih lentur, dinamis, dan tidak kaku.

Ajak otak kita untuk lebih sering bergerak secara random (acak). Jangan kaku menggunakan satu pola berpikir saja. Jangan senang berada posisi nyaman atau bahkan pada posisi diam sama sekali.

Advertisement

Keakraban dan kebiasaan aktif berkomunikasi dengan otak akan menghindarkan kita dari jalan buntu dan memampukan kita berperan sebagai “pemberi-solusi” pada berbagai masalah.

Kebiasaan kita berbicara dengan otak secara pribadi (self-talk) sebetulnya akan membiasakan diri untuk lancar dan fasih berbicara (public speaking), karena kegiatan itu sejatinya sama dengan kebiasaan berbicara dengan orang lain, di mana Anda menempatkan otak pada posisi pihak lain yang sedang diajak bicara.

Berbagai ahli berbicara dari negara lain sering mengatakan bahwa teori public speaking meminta Anda melawan diri sendiri, atau lebih tepatnya melawan otak Anda sendiri. Yang dimaksud di sini adalah melawan kemalasan untuk menggunakan otak.

Minggu lalu saya baru pulang dari luar kota dengan pesawat terbang, sebelum duduk saya sempatkan ke toilet pesawat yang ada dekat dengan cockpit. Karena pintu cockpit tempat pilot dan kopilot bekerja belum tertutup sempurna, saya masih bisa melihat dengan jelas banyaknya instrumen panel elektronik dan dokumen kertas di sana. Saya kemudian menjulurkan tangan sedikit ke pintu cockpit, terasa sekali suhu pendingin udara di sana lebih dingin dibandingkan dengan di tempat duduk saya.

Dari tempat itu pula saya amati sepanjang penerbangan banyak instruksi dan informasi yang keluar dari cockpit, baik yang kemudian disampaikan oleh pramugari atau diinformasikan sendiri oleh kopilot, mulai dari sambutan selamat datang di penerbangan itu, perkiraan waktu tempuh, perkiraan waktu mendarat, perkiraan cuaca, berbagai perintah kepada kru pesawat, dan berbagai informasi lainnya uintuk penumpang. Saya kemudian menyimpulkan cockpit itulah yang menjadi “otak” dari penerbangan kami dari luar kota menuju ke Jakarta.

Di ruangan itu saya saksikan dari kejauhan tempat duduk terjadi berbagai proses lain, seperti evaluasi penerbangan, apakah waktu tempuh sesuai rencana atau tidak, apakah terjadi perubahan cuaca, dan lain-lain. Cockpit pesawat itu memberi gambaran kuat dan jelas kepada saya bahwa peranan pilot dan kopilot layakmya otak dalam diri manusia yang memainkan peranan penting bagi kemampuan berkomunikasi dan berbicara di depan publik.

Kreativitas
Dalam penerbangan itu saya merasa sangat senang dengan kopilot karena kreativitasnya berbicara membuat para penumpang tetap dalam posisi tenang, padahal kami sudah dibawa berputar-putar di awan selama 30 menit tanpa ada kepastian, mengingat pesawat yang digunakan belum mendapat izin untuk “landing” dari menara pengawas.
Kopilot pesawat rupanya sadar akan kondisi ini. Di samping ia berbicara menenangkan kami, ia mulai berusaha menunjukkan isi otaknya.

Ia membacakan beberapa headline koran hari itu yang mungkin dibacanya sebelum penerbangan, serta mengumumkan dua program social responsibility yang diusung maskapainya. Perusahaannya menyisihkan beberapa persen dari penghasilan perusahaan untuk korban banjir Jakarta. Sontak, penumpang yang sudah telanjur diam, karena kesal tidak kunjung mendarat, memberikan tepuk tangan atas informasi yang diberikan dan dibacakan lewat pengeras suara dalam pesawat.

Saya yakin kopilot melakukan tindakan itu karena sebelumnya ia telah melakukan proses pengamatan terhadap kondisi dalam pesawat. Dia membaca, lalu menulis apa yang akan dibacakannya. Ia dengan cepat memosisikan bila dirinya berada di pihak penumpang. Ia juga akan kesal dan kecewa berada di udara, tanpa ada kepastiaan kapan pesawat akan landing.

Proses kopilot berdialog dan berdamai dengan otaknya sendiri untuk diajak bekerja sama, ternyata berhasil membuatnya lebih produktif sekaligus menunjukkan kepada para penumpang pesawat, termasuk saya, bahwa ia bukan sekadar kopilot biasa. Ia adalah seorang kopilot yang cerdas. Kopilot tersebut menempatkan dirinya sebagai pemberi solusi, bukan sekadar penerbang pesawat komersial. Gaya bicara dan komunikasinya menggambarkan dirinya yang cerdas.

Public Speaking Tips & Action
1. Otak dan tubuh harus sering diajak terus bergerak dan bekerja.
2. Ajak otak berkomunikasi melalui aktivitas berbicara (self-talk).
3. Lawan kemalasan kita untuk menggunakan otak.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# OTT Bupati Pemalang


# Brigadir J


# Bharada E


# Putri Candrawathi


# Prabowo Subianto


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Gabriel Jesus Fantastis, Arsenal Bekuk Leicester 4-2

Gabriel Jesus Fantastis, Arsenal Bekuk Leicester 4-2

BOLA | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings