Logo BeritaSatu

Ratusan Siswa SD Tingga Kelas, Sistem Pendidikan Indonesia Tidak Konsisten

Selasa, 11 Oktober 2016 | 12:11 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta - Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmat Wahab menyayangkan, kebijakan guru dan sekolah yang masih memberlakukan budaya tidak naik kelas pada anak kelas 1-3. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015/2016, terdapat 422.082 orang siswa SD yang tidak naik kelas.

Rochmat menegaskan, budaya tidak naik kelas yang masih diterapkan menunjukkan ketidakonsistenan pendidikan Indonesia. Pada saat bersamaan, pemerintah menghapus Ujian Nasional (UN). Namun di sisi lain, pemerintah tetap menerapkan sistem tidak naik kelas.

Hal ini menunjukkan, pendidikan untuk anak kelas 1-3 tidak memiliki standar yang jelas. Padahal, anak usia 0-9 tahun tidak dapat dipaksa untuk belajar dengan keras. Dalam artian, dipaksa belajar pengetahuan sesuai kurikulum. Anak dengan usia yang masih muda harus diberi kebebasan. Sehingga, kurikulumnya harus alamiah.

“Jika benar ada banyak sekolah yang masih memberlakukan sistem tinggal kelas, tentu tidak konsisten dengan arah pendidikan kita. Di satu sisi, pemerintah menghapus UN agar tidak membebani siswa, tapi di sisi lain siswa tetap dibebani dengan sanksi tidak naik kelas,” kata Rochmat kepada SP, Selasa (11/10).

Selanjutnya, Rochmat berharap dengan terkuaknya kasus ini, pemerintah akan menetapkan standar khusus untuk pendidikan sekolah dasar (SD) khusus kelas 1-3. Menurut dia, sistem pendidikan untuk anak usia di bawah sembilan tahun harus menggunakan pendekatan yang tidak terlalu formal. Artinya, jangan tidak dipaksakan dengan materi yang berat.

Rochmat berharap anak dididik secara alamiah. Misalkan untuk anak kelas dua dan tiga, pada pelajaran bahasa Indonesia, guru tidak boleh mendidik anak untuk segera mampu membedakan predikat dan subjek. Anak harus dididik senatural mungkin sehingga tidak menjadi sebuah beban.

Masih banyaknya anak yang tidak naik kelas, menurut Rochmat, adalah murni karena kesalahan guru. Sebab guru tidak dapat mengenali murid-muridnya dengan baik. Guru mengajar tidak sesuai dengan kondisi anak, sehingga terjadi pemaksaan sistem pendidikan pada anak.

Untuk itu, ia mengharapkan, pemerintah harus lebih memperhatikan guru yang mengajar untuk kelas awal, Pasalnya, jika terjadi penyimpangan, tentu akan merusak sistem pendidikan nasional secara keseluruhan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

TAG: 
BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Anggota TNI Tewas


# Medina Zein


# Vaksinasi Covid-19


# Piala Thomas


# Timnas Indonesia


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Kabar Kudeta di PKB, Cak Imin: Enggak Pernah Dengar

Kabar Kudeta di PKB, Cak Imin: Enggak Pernah Dengar

NEWS | 11 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings