Indonesia Masuk 10 Besar Korban Perbudakan Modern
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Indonesia Masuk 10 Besar Korban Perbudakan Modern

Jumat, 21 Oktober 2016 | 14:59 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Tangerang Selatan - Berdasarkan data Global Slavery Index 2016, secara global diperkirakan terdapat 48,5 juta orang di dunia ini yang menjadi korban perbudakan modern. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Terbuka (UT), Ida Zubaidah, mengatakan, korban perbudakan modern ini paling banyak berasal dari lima negara dengan total 58%. Indonesia sendiri masuk 10 besar dari total jumlah tersebut.

Ida menyebutkan, terdapat 736.100 orang di Indonesia yang menjadi korban. Dalam hal ini, penyumbang terbesar angka perbudakan antara lain perdagangan orang, eksploitasi seksual, dan buruh migran seperti yang terjadi di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Dijelaskan Ida, terjadinya perbudakan modern karena kepemilikan dan kontrol atas seseorang sedemikian rupa sehingga secara nyata menghilangkan kebebasan individual orang tersebut. Tujuannya jelas, yakni mengeksploitasi melalui tenaganya, pengelolaan hidupnya, memperoleh keuntungan darinya, pemindahan, dan bahkan penghilangan.

“Perbudakan modern termasuk perbudakan dan praktik serupa perbudakan. Misalnya melalui jeratan utang, pernikahan paksa, penjualan atau eksploitasi anak, perdagangan orang dan kerja paksa,” kata Ida pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Universitas Terbuka (UT) bertajuk “Indonesia yang Berkualitas Sosial Tanpa Diskriminasi” di Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang, Banten, Rabu, (19/10).

Meski demikian, Ida mengatakan, isu perbudakan modern ini masih belum dianggap serius oleh negara. Negara lebih fokus menyelesaikan permasalahan politik. Padahal, perdagangan orang ini berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, perbudakan untuk pekerja imigran.

“Kita bayangkan pekerja imigran kita. Kita tidak fokus ke situ, mungkin karena tidak kena langsung ke kita. Mereka ini terkadang tidak menerima gaji, karena terjerat utang untuk membayar dokumen-dokumen seperti harus membayar visa dengan harga mahal, karena kurang informasi mereka tidak tahu. Seharusnya departemen tenaga kerja memberi informasi tetapi semua terlibat dalam hal ini. Ini menjadi sesuatu yang bisnis karena mereka mendapat rezeki dari situ, sehingga mereka tidak lagi menelusuri,” ucapnya.

Ida menyebutkan, seharusnya perbudakan modern menjadi fokus bersama. Pasalnya, dari total yang diekspos sebenarnya masih ada lagi namun tidak terkuak karena Indonesia tidak memiliki data. Sebab departemen yang bersangkutan tidak melakukan kajian mendalam. Banyak yang menggunakan data dari LSM yang memiliki kepentingan atau hasil survei dari luar negeri. Sehingga perbudakan ini tidak menjadi masalah serius. Padahal keadaannya sudah darurat.

Untuk itu, Ida menegaskan, perdagangan orang harus diperhatikan. Sebab berdasarkan data Organization for Migration atau Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), pada 2015, Indonesia menjadi negara terbesar ketiga dalam perdagangan orang. Sedangkan pada 2014 terdapat sekitar 4,5 juta orang bekerja di luar negeri. Mereka terdiri dari 1,9 juta orang yang diduga bermasalah dengan dokumen keimigrasian. 1 juta yang ilegal bekerja di Malaysia. Dari sisi gender, 70% perempuan bekerja di sektor domestik dan manufaktur, sedangkan 30% laki-laki bekerja di perkebunan, konstruksi, transportasi, dan jasa. Disinyalir pula, ada pekerja di bawah umur.

Ada pun bentuk eksploitasi yang diterima pekerja migran ini meliputi pembatasan kebebasan gerak dan komunikasi, penahanan dan pembatasan akses ke dokumen pribadi, pelanggaran kontrak kerja, kondisi kerja dan kondisi hidup yang buruk, pelecehan dan kekerasan, risiko kesehatan dan keselamatan, kurangnya perlindungan sosial, dan kerja paksa.

Mendatang, ia mengharapkan, isu sosial seperti perbudakan ini harus serius ditangani. Pasalnya ini menyangkut nyawa dan kelangsungan hidup warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan


BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# PON Papua


# Tukul Arwana


# Toko Obat Ilegal


# Piala Sudirman


# Suap Pejabat Pajak



TERKINI
Vaksin Covid-19 Aman dan Dibutuhkan Ibu Hamil dan Menyusui

Vaksin Covid-19 Aman dan Dibutuhkan Ibu Hamil dan Menyusui

KESEHATAN | 2 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings