Logo BeritaSatu

Kesehatan Jiwa di Indonesia Masih Terabaikan

Rabu, 25 Juli 2018 | 23:09 WIB
Oleh : Dina Manafe / FER

Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan satu dari empat orang di dunia terjangkit gangguan jiwa atau neurologis. Saat ini, ada sekitar 450 juta orang mengalami ganggan mental. Hampir satu juta orang melakukan bunuh diri setiap harinya.

Di Indonesia, data Riskesdas 2013 dikombinasi dengan data rutin dari Pusdatin menunjukkan, gejala depresi dan kecemasan sudah diidap orang Indonesia sejak usia 15 tahun. Persentase depresi mencapai 6 persen atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.

Kondisi ini diperkirakan ada kaitannya dengan banyaknya kekerasan yang dialami anak Inonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, tiap tahun angka kekerasan terhadap anak meningkat. Pada tahun 2017 saja, terjadi 3.700 kasus, dan hampir 70 persen pelakunya adalah orang tua sendiri. Anak-anak rentan gangguan kejiwaan akibat pengalaman traumatis yang diterima dari otang tua sendiri, maupun di sekolah dan lingkungan masyarakat akibat perundunggan atau bullying.

Gangguan jiwa juga dipicu oleh faktor sosial, seperti kemiskinan, lingkungan, dan bencana alam. Tsunami di Aceh menyisakan depresi, dan gempa di Yogyakarta berdampak meningkatnya angka depresi masyarakat. BNPB menyebutkan peristiwa bencana alam akibat perubahan iklim terus meningkat ke depan. Artinya akan semakin banyak orang depresi dan terganggu kesehatan jiwanya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina, Dr Fatchiah E Kertamuda, MSc, mengatakan, belum ada perhatian serius terhadap masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Upaya penanganan terhadap orang dengan gangguan kejiwaan masih jauh dari harapan. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia baru memilki 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 orang psikiater 0,33 per 100.000 penduduk, dan perawat jiwa 6.500 orang atau 2 persen per 100.000 penduduk. Sementara, standar WHO untuk tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1 per 30 orang.

"Di Indonesia banyak keterbatasan, misalnya terapis atau ahli yang berkecimpung di dunia kesehatan jiwa sangat kurang. Rumah sakit yang menangani kesehatan jiwa juga terbatas," kata Fatchiah di Jakarta, baru-baru ini.

Bahkan, kata Fatchiah, beberapa provinsi sama sekali belum melayani gangguan jiwa. Di sisi lain, masih banyak pasien yang dipasung. Meski pemerintah telah melarang pemasungan sejak 1977, berdasarkan laporan Human Right Watch Indonesia, masih ada 18.000 orang dipasung karena penyakitnya dianggap sebagai kutukan atau kerasukan setan.

"Kesehatan jiwa tidak bisa kita abaikan. Perlu sinergi semua pihak, terutama keluarga agar kondisi gangguan jiwa tidak makin parah. Yang terjadi sekarang ini kebanyakan pasien diterapi sudah dalam kondisi parah," kata Fatchiah.

Universitas Paramadina sendiri, lanjut dia, siap berkerja sama semua pihak untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat maupun pemangku kepentingan terhadap masalah kesehatan jiwa.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Adik Jokowi Menikah


# Yeremia Rambitan


# Joe Biden


# Alex Noerdin


# KRL


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Keren, G-Land Banyuwangi Jadi Lokasi World Surf League 2022

Keren, G-Land Banyuwangi Jadi Lokasi World Surf League 2022

LIFESTYLE | 10 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings