Logo BeritaSatu

Ini Mengapa Gim Lokal Sulit Bersaing di Negeri Sendiri

Senin, 17 September 2018 | 20:59 WIB
Oleh : Herman / YUD

Jakarta - Hasil penelitian lembaga riset industri gim global, Newzoo menyebutkan, nilai industri gim di Indonesia pada 2017 mencapai USD 880 juta. Sayangnya dari jumlah yang besar tersebut, kontribusi pengembang gim lokal tak sampai satu persen. Sebagian besar masih didominasi oleh gim-gim buatan pengembang luar negeri seperti dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.

Dipaparkan oleh Operational Manager Asosiasi Game Indonesia (AGI), Jan Faris Majd, salah satu tantangan terbesar pengembang gim lokal untuk bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah penerimaan masyarakat yang belum begitu baik terhadap gim lokal. Banyak yang tidak tahu kalau pengembang gim lokal juga bisa menciptakan gim-gim yang menarik. Padahal di luar negeri, khususnya di negara-negara Eropa, gim buatan pengembang asal Indonesia mendapatkan sambutan yang cukup baik karena keunikannya.

"Masyarakat di Indonesia justru lebih mengenal gim buatan pengembang luar. Contohnya gim Mobile Legends. Hampir semua pemilik smartphone rasanya memainkan gim ini," kata Jan Faris Majd, di Jakarta, Senin (17/9).

Di Indonesia, lanjut Jan, para gamers yang jumlahnya sekitar 44 juta kebanyakan merupakan mobile gamers, di mana mereka mendapatkan gim tersebut dari Play Store maupun App Store yang persaingannya sangat ketat.

"Di App Store dan Playstore, setiap harinya ada ribuan gim baru yang masuk. Jadi memang untuk saingan agak susah, apalagi kalau tidak punya dana marketing yang cukup. Kebanyakan gim lokal juga belum mendapatkan akses development kit untuk bisa masuk di konsul gim ternama seperti Nintendo Switch atau PlayStation," kata Jan.

Permasalahan lainnya, masih banyak pengembang gim lokal yang belum berbadan hukum. Sehingga sulit untuk mendapatkan kesempatan mengikuti pameran gim di luar negeri yang difasilitasi oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf).

"Secara kualitas, sebetulnya banyak juga gim-gim lokal yang menarik. Tetapi memang perlu lebih banyak diperkenalkan kepada masyarakat. Contohnya melalui acara Game Prime yang kami adakan bersama Bekraf. Acara-acara semacam ini harus lebih banyak dilakukan," tuturnya.

Mengirim pengembang gim lokal ke luar negeri untuk mengikuti pameran gim berskala internasional juga perlu dilakukan. Menurut Direktur Pengembangam Pasar Luar Negeri Bekraf, Bonifasius Wahyu Pudjianto, upaya ini telah beberapa kali dilakukan oleh Bekraf dan mulai membuahkan hasil. Misalnya saja pengembang gim lokal Lentera Nusantara Studio yang diikutsertakan di acara Game Connection 2018 di San Fransisco. Dalam acara itu, Lentera Nusantara berhasil mendapatkan publisher gim global yaitu Aksys Games. Pada 2019 nanti, gim yang dikembangkannya yaitu Ghost Parade juga akan dirilis dalam platform PlayStation 4 dan Nintendo Switch.

"Bekraf akan terus mendukung pelaku ekonomi kreatif subsektor aplikasi dan pengembang gim Indonesia, sehingga ke depannya bisa bersaing di pasar global dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Bonifasius.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Jokowi Ukraina


# Pengawasan Intelijen


# MyPertamina


# Roy Suryo


# Mars


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Muhidin Said Ambruk Saat Paripurna DPR karena Hipertensi

Muhidin Said Ambruk Saat Paripurna DPR karena Hipertensi

NEWS | 3 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings