Bau KKN dalam Sengketa TPI
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Bau KKN dalam Sengketa TPI

Rabu, 7 Juli 2010 | 15:05 WIB
Oleh : B1

Akankah Presiden bersuara juga tentang sengketa kepemilikan saham Televisi Pendidikan Indonesia alias TPI belakangan ini? Perkara yang bersinggungan dengan soal Sisminbakum, sistem administrasi badan hukum di Kementerian Hukum yang sedang diusut oleh Kejaksaan Agung?

Perkara saham TPI menyiratkan yang dulu populer disebut sebagai KKN, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Ada putri mantan presiden; ada sejumlah PT, tapi pemiliknya sama, atau mereka punya hubungan keluarga. Bukan mustahil di sini ada kerugian negara.
Seberapa kuat bau KKN dalam perkara ini? Silakan mengikuti kronologis sengketa Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Harry Tanoesoedibjo berikut ini.
Ketika TPI Berdiri
23 Januari 1991
Presiden Soeharto meresmikan TPI, yang didirikan oleh PT Citra Lamtoro Gung Persada, milik Tutut, putri sulung presiden. Peresmian tv swasta ini dilangsungkan di TVRI, setasiun tv pemerintah.
TPI adalah tv swasta kedua setelah RCTI (mulai siaran 1989, 24 Agustus 1990 resmi menjangkau seluruh Indonesia). RCTI didirikan oleh PT Bimantara Citra yang presiden direkturnya Bambang Trihatmojo, anak kedua Soeharto.
Medio 1997
Indonesia krisis ekonomi
21 Mei 1998
Presiden Soeharto mengundurkan diri, menunjuk Wakil Presiden B.J. Habibie sebagai penggantinya. Peraturan tentang izin media massa dicabut. Siapa saja, kapan saja boleh bikin media, dan tak ada pembredelan.
20 Oktober 1999
Pertanggung -jawaban B.J. Habibie ditolak MPR. Karena itu ia tak mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam pemilu 1999. Dari hasil pemilu 1999 itu MPR memilih Abdurrahman Wahid sebagai presiden, dan Megawati wakil presiden.
23 Juli 2001
MPR menurunkan Abdurahman Wahid sebelum masa kepresidennya habis, karena beberapa hal, antara lain niatnya akan membubarkan DPR.
Sidang MPR pada hari ini sepakat memilih Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri sebagai presiden. Sementara itu krisis ekonomi belum pulih juga.
Tutut dan TPI Dibelit Utang
Pada 2002
Dengan perkembangan sosio-politik seperti itulah krisis-ekonomi pun membelit TPI juga. Tahun ini utang TPI Rp1,634 triliun. Sementara itu Tutut, sang pemilik, juga memiliki utang PKPS di Bank Yama, di Indosat, utang pajak, dan BPPN.
Tutut terancam dipenjarakan jika tidak bisa memenuhi kewajiban pembayaran utangutangnya.

Dalam situasi genting itu Tutut meminta bantuan Harry Tanoesoedibjo, US$ 55 juta konon untuk membayar utang-utang dan untuk penyertaan modal di TPI. Kompensasinya, 75 persen saham TPI.
Mengapa Harry Tanoe? Dia pendiri PT Bhakti Investama (1989), perusahaan investasi. Pada 2001 PT Bhakti masuk ke PT Bimantara Citra, dan segera berperan besar.
Pada 2002 Harry Tanoe diangkat menjadi presiden direktur Bimantara, menggantikan Bambang Trihatmojo.
23 Agustus 2002
Tutut dengan Harry Tanoe menandatangani investment agreement. Tutut atas nama PT Cipta Lamtoro Gung Persada, tapi Harry Tanoe tak membawa PT Bimantara, melainkan PT Berkah Karya Bersama, anak perusahaan PT Bhakti Investama.
Februari 2003
Penandatanganan addendum surat kuasa pengalihan 75 persen saham TPI kepada PT Berkah dari PT Cipta Lamtoro Gung Persada.
Awal Masalah
20 Desember 2004
Tak begitu jelas sebabnya , Tutut melayangkan surat ke Harry Tanoe ( PT Berkah) berniat menguasai TPI kembali, dan menyatakan siap membayar 75 persen saham yang sudah dimiliki PT Berkah
7 Maret 2005
Harry Tanoe menggelar rapat internal PT Berkah untuk menanggapi surat Tutut 20 Desember 2004 itu. Rapat ini menghasilkan tiga opsi yang akan ditawarkan kepada Tutut.
Opsi pertama, PT Berkah menjual 75 persem saham TPI kepada Tutut dengan harga Rp 630 miliar.
Opsi kedua, PT Berkah membeli 25 persen saham TPI yang dimiliki Tutut dengan harga Rp 210 miliar.
Opsi ketiga, jika Tutut tidak juga menentukan pilihan dari opsi tersebut sampai tanggal yang ditentukan (17 Maret), kepemilikan 75 persen saham TPI tetap pada PT Berkah, Tutut 25 persen.
17 Maret 2005
Tutut tidak memberikan pilihan, melainkan pada hari ini menggelar RUPS sendiri yang membatalkan adendum 23 Februatri 2003, dan memutuskan 75 persen saham TPI kembali ke tangan Tutut dari PT Berkah.
18 Maret 2005
PT Berkah menggelar RUPS, memutuskan kepemilikan PT Berkah tetap 75 persen dan Tutut 25 persen.
(Semua perubahan di perusahaan harus dilaporkan ke Kementerian Hukum untuk disahkan. Kala itu pelaporan itu diharuskan lewat sistem internet yang disebut Sisitem Administrasi Badan Hukum atau Sisminbakum. Sistem ini dikelola swasta, PT Sarana Reka Dinamika dan koperasi pegawai Kementerian Hukum. Komisaris PT Sarana adalah Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, sepupu Hary Tanoesudibjo.
Kabarnya laporan RUPS yang diadakan Tutut, 17 Maret 2005, tak bisa dikirimkan ke Sisminbakum; sistem eror. Sedangkan laporan RUPS PT Berkah, 18 Maret, tentang perubahan kepemilikan saham TPI, masuk ke Sisminbakum).
21 Maret 2005
Keluar surat keputusan Dirjen Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum, mengesahkan perubahan kepemilikan saham TPI yang dilaporkan PT Berkah.
Inilah agaknya yang dijadikan dasar Harry Tanoe (PT Berkah) untuk seterusnya menguasai TPI.
2006
75 persen saham TPI milik PT Berkah dibeli PT Media Nusantara Citra yang presiden direkturnya Harry Tanoe.
Desember 2009
Tutut menulis surat ke Kementerian Hukum, meminta klarifikasi surat pengesahan perubahan kepemilik saham TPI, surat tertangal 21 Maret 2005.
(Pada 2008 Kejaksaan Agung mengusut dugaan korupsi di Sisminbakum. Terdakwa antara lain dirjen Administrasi Hukum Umum yang terkait dengan pembentukan Sisminbakum. Agaknya diusutnya perkara Sisminbakum ini mengingatkan Tutut tentang tak bisa dikirimkannya laporan RUPS yang diadakannya pada 17 Maret 2005.
Siti Hardiyanti pun melayangkan surat ke Kementerian Hukum, Desember 2009, meminta klarifikasi masalah perubahan kepemilikan saham TPI, yang disahkan Kementerian ini pada 21 Maret 2005)
8 Juni 2010
Berdasarkan surat Tutut pada Desember 2009, Kementerian Hukum dan HAM memeriksa surat pengesahan perubahan kepemilikan saham TPI yang diterbitkan pada 21 Maret 2005.
Hasilnya, dikeluarkan surat No. AHU: AH.03.04/114 A, tertanggal 8 Juni 2010. Isinya antara lain, mencabut surat pengesahan perubahan kepemilikan TPI yang dikeluarkan pada 21 Matret 2005 karena ada kesalahan prosedur.
Selanjutnya ...
Maka, kedua pihakmengajukan tafsir masing-masing.
Pihak Harry Tanoe menilai surat pembatalan tertanggal 8 Juni 2010 terhadap surat pengesahan kepemilikan saham TPI pada 2005, tidak sah.
Pihak Tutut, surat dimaksud sah, dan karena itu kepemilikan saham TPI kembali kepadanya.
Pendapat Dirjen Adminstrasi Hukum Umum Aidir Amin Daud, surat keputusan 8 Juni 2010 sah, karena menyangkut soal prosedur, bulan substansi.
Soal substansi, siapa yang sah memiliki saham TPI, itu urusan pengadilan.

Sumber: -


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS