Kasus Gayus Bidik Dirjen Pajak
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.204 (-2.06)   |   COMPOSITE 6290.8 (-32.05)   |   DBX 1362.34 (-1)   |   I-GRADE 180.342 (-1.16)   |   IDX30 506.102 (-3.59)   |   IDX80 136.192 (-1.32)   |   IDXBUMN20 397.025 (-3.48)   |   IDXESGL 139.555 (-0.83)   |   IDXG30 142.425 (-1.56)   |   IDXHIDIV20 448.193 (-3.29)   |   IDXQ30 145.469 (-0.81)   |   IDXSMC-COM 298.549 (-2.25)   |   IDXSMC-LIQ 357.569 (-6.36)   |   IDXV30 134.488 (-2.08)   |   INFOBANK15 1048.13 (3.23)   |   Investor33 435.467 (-1.63)   |   ISSI 181.572 (-2.16)   |   JII 618.362 (-9.56)   |   JII70 218.204 (-3.25)   |   KOMPAS100 1215.76 (-9.91)   |   LQ45 948.468 (-7.11)   |   MBX 1702.13 (-9.99)   |   MNC36 323.237 (-1.37)   |   PEFINDO25 323.55 (-1.68)   |   SMInfra18 308.555 (-4.24)   |   SRI-KEHATI 369.754 (-1.01)   |  

Kasus Gayus Bidik Dirjen Pajak

Senin, 20 September 2010 | 15:10 WIB
Oleh : B1

Rekening senilai Rp 28 miliar diblokir. Anehnya, pihak-pihak pemberi dana tak diperiksa. Termasuk ‘gelapnya’ sosok sang aktor utama.

Kasus Gayus Tambunan terus "memakan korban". Setelah beberapa aparat kepolisian masuk pengadilan, kini dirjen pajak ikut dibidik.

"Seharusnya dirjen pajak diperiksa, kenapa dia menandatangani laporan bawahannya? Apakah dia dibodohi? Dibohongi oleh bawahannya? Adakah permainan? Ya bongkarlah. Jangan satu orang saja Gayus jadi korban," kata Adnan Buyung Nasution, pengacara Gayus Tambunan, seusai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini.
Bagi Adnan, kliennya dianalogikan sebagai korban lantaran masih ada pihak-pihak yang tidak diperiksa. Adnan juga menunjukkan diagram asal muasal uang senilai Rp28 miliar yang ada di rekening Gayus kepada majelis hakim. Ia berharap, pihak penyidik segera memeriksa “traffic money” ini.
Pada diagram, salah satunya tertera bahwa uang tersebut berasal dari PT Kaltim Prima Coal senilai US$ 500 ribu. Sejumlah uang ini diberikan kepada Gayus, sebagai “upah” membantu mengurus surat ketetapan pajak perusahaan tersebut.
Data berikutnya menyebutkan PT Bumi Resources juga pernah mengajukan banding pajak. Pada simpul inilah, Gayus menjalankan perannya dan mendapat ‘uang lelah’ senilai US$ 500 ribu. Sementara dari PT Arutmin dan KPC yang terantuk masalah sunset policy, Gayus diberi uang senilai US$2 juta.
Jika selama ini, santer disebut beberapa perusahaan milik keluarga Bakrie terlibat dalam kasus ini, maka Adnan menambahi bahwa perusahaan lain juga harus diperiksa.
"Tidak saja dari perusahaan Bakrie. Tapi periksa juga perusahaan lain,” tegas pria yang akrab disapa Abang tersebut.
Dana dari Langit?
Pada intinya, persidangan lanjutan kasus Gayus ini, menitikberatkan pada lemahnya kinerja penyidik Polri. Pasalnya, aparat kepolisian tak menguak asal muasal uang senilai Rp28 miliar yang berada di rekening Gayus.
Pasalnya, siapa-siapa saja yang memberikan uang kepada Gayus, dinilai sangat penting untuk membongkar kasus ini sampai ke akar-akarnya. Jangan hanya main blokir rekening, seperti yang dialami Gayus sekarang ini.
"Dari siapa-siapa dana itu? Kan tidak datang dari langit? Rekening diblokir dengan alasan kejahatan. Kejahatannya apa? Tidak dibuka sama sekali" urai Adnan.
Meski sekarang ini, beberapa nama masuk jerat hukum terkait kasus Gayus, namun Adnan menganggap semua itu belum final. Apalagi diperiksanya Ajun Komisaris Polisi Sri Sumartini [salah satu penyidik Polri], Kompol Arafat Enani dan Hakim Muhtadi Asnun, belum menunjukkan aliran dana yang signifikan.
"Itu juga tidak sampai Rp 1 miliar" cetusnya.
Diakui Adnan, kliennya telah memberikan US$ 700 ribu atau sekitar Rp 7 miliar kepada Haposan Hutagalung [mantan pengacara Gayus]. Sejumlah uang tersebut diberikan Gayus, agar dirinya tidak ditahan.
Selain itu, Gayus juga berharap petugas tidak menyita rumah miliknya yang terletak di Kelapa Gading. Terakhir, uang Rp 7 miliar tadi diberikan Gayus kepada Haposan, untuk melicinkan harapannya agar petugas tidak menyidik dan segera membuka blokir atas rekeningnya senilai Rp28 miliar di Bank Mandiri.
Dalam eksepsinya, Adnan juga menyatakan surat dakwaan jaksa tidak cermat. Lantaran tidak mengurai dengan jelas siapa pelaku utama dari kasus ini.
Sebelumnya, jaksa mendakwa Gayus bersama Humala S.Leonardo Napitupulu, Maruli Pandopotan Manurung, Jhony Marihot dan Bambang Heru Ismiarso. Sementara “aktor utamanya” justru tak tersentuh.
“Ini merupakan pembodohan rakyat melalui proses penyidikan dan penuntutan" kata Adnan.

Sumber: -


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS