Logo BeritaSatu

LP3ES: Waspadai Tingginya Kesenjangan Ekonomi dan Sosial

Kamis, 10 September 2020 | 16:18 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia masih menjadi salah satu negara yang memiliki rasio kesenjangan ekonomi dan sosial yang cukup tinggi. Kondisi ini sudah terjadi sejak lama dan jurang kesenjangan tersebut semakin lama semakin melebar.

Advertisement

"Kesenjangan ekonomi dan keadilan sosial merupakan masalah krusial sejak indonesia merdeka," kata Tokoh eksponen Angkatan 66, yang juga pendiri Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Ismid Hadad, dalam diskusi dan peluncuran buku "Musuh Bangsa: Kesenjangan Sosial", di Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Kondisi ini, menurutnya, masih menjadi realitas masalah yang berkembang dan menjadi masalah perkembangan demokrasi ekonomi di Indonesia. Jika dibiarkan maka akan berdampak buruk terhadap upaya kemajuan dan pembangunan bangsa.

"Sampai saat ini tidak kunjung diatasi. Padahal indonesia mencantumkan keadilan sosial dalam fondasi Pancasila sila kelima. Masalah ini merupakan masalah yang sentral bagi bangsa," ujarnya.

Menurutnya, masalah kesenjangan sosial sejak zaman Orde Baru (Orba), selalu masuk dalam skala prioritas. Begitu pula di era reformasi dan menjadi prioritas program semua presiden.

"Sampai sekarang di zaman Presiden Jokowi, keadilan sosial selalu menjadi sasaran dan prioritas pembangunan nasional. Tapi bisa dilihat angka-angka statistik BPS masih ada rasio kesenjangan yang cukup tinggi," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, jika dilihat dari rasio kepemilikan tanah dan deposito di bank saja, rasio yang ada sesungguhnya sudah tidak bisa ditoleransi. Lebih jauh, jika dibandingkan negara lain, Indonesia masuk sebagai negara yang memiliki kesenjangan sangat tinggi.

Dikatakan Ismid, penyebab pokok permasalahan kesenjangan tersebut tentunya terkait sistem dan kebijakan ekonomi pemerintah yang pada dasarnya sejak lama sistem ekonominya berbasis pasar bebas.

"Sangat terkait dengan globalisasi dan kekuatan modal. Sistem ekonomi Pancasila memang sampai sekarang masih dianut dan berjalan, tapi sedikit dibumbui dengan program-program yang berbau pemerataan, semacam sistem sosialisme," katanya



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

TAG: 
BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Carlo Ancelotti


# Cacar Monyet


# Man City


# Parsindo


# Korea Utara


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Disdik DKI Beri Sanksi Tegas ke Guru Intoleran di Sekolah

Disdik DKI Beri Sanksi Tegas ke Guru Intoleran di Sekolah

NEWS | 4 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings