Kronologis Cikeusik versi KontraS
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kronologis Cikeusik versi KontraS

Kamis, 10 Februari 2011 | 17:15 WIB
Oleh : B1

Sebelum penyerangan, hari polisi sempat sarapan bareng dengan warga Ahmadiyah dan meminta agar tidak melakukan perlawanan jika ada serangan.

Hasil pendampingan hukum Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), terhadap korban tragedi Cikeusik, Pandeglang Banten dan pemantauan awal terhadap kejadian yang menewaskan tiga orang Jamaah Ahmadiyah Indonesia, menyimpulkan aparat kepolisian dan pejabat publik lainnya melakukan pembiaran kekerasan terhadap Jamaah Ahmadiyah.
“Polisi (yang) ada di sekitar lokasi (penyerangan) mendiamkan saja,” kata Sekjen Federasi KontraS, Oslanm Purba dalam rilisnya yang di kirimkan, di Jakarta, hari ini.
Menurut Olan, peristiwa di Cikeusik tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi sudah ada “prolog” sebelumnya. Oleh karena itu KontraS menuntut agar Kapolri melakukan penyelidikan internal terhadap penyalahgunaan prosedur yang melingkupi tindakan keterlibatan serta pembiaran sejak sebulan sebelum terjadinya peristiwa hingga pasca peristiwa.
Berikut ini, temuan KontraS berkaitan dengan penyerangan yang terjadi pada hari Minggu (6/2) lalu.
Sebelum Kejadian
11November 2010
Dua warga Ahmadiyah, bernama Atep dan Ismail Suparman dipanggil ke kantor kecamatan. Lurah desa Umbulan, Kapolsek dan Camat Cikeusik minta pembubaran Ahmadiyah. Atep dan Suparman menolak dengan berusaha menjelaskan ajaran dan status hukum organisasi Ahmadiyah.

16 November 2010
Terjadi pertemuan kedua di lingkungan Muspida yang dihadiri perwakilan Kejaksaan, Polres, MUI dan Kepala Desa. Dalam pertemuan kembali Muspida meminta pembubaran ahmadiyah. Rapat gagal membuat kesepakatan. Ada pengerahan massa dari masyarakat.

Ulama-ulama Pandeglang bersama polisi dan Tentara menuntut Suparman membuat surat pernyataan pembubaran Ahmadiyah Cikeusik. Takbir bergema dalam rapat itu. Ada seorang ustad bernama Sohfwan mengancam, “Kalau masih ada orang Ahmadiyah, keselamatan warga terancam!”

Tak puas, para ulama dan Muspika [Musyawarah Pimpinan Kecamatan terdiri dari Camat, Dansek, Danramil dll] menuntut tiga hal: Ahmadiyah tidak akan mengadakan kegiatan kembali, membaur dengan masyarakat dan membubarkan diri.

18 November 2010
Warga Ahmadiyah diundang kembali oleh Muspika. Yang mengundang pertemuan adalah intel kejaksaan bernama Waluyo SH. Hadir Kepala Kejaksaan, Kodim, Polres, MUI, Depag, Ulama.

Ismail Suparman dipaksa untuk membuat pernyataan: 1. siap mentaati SKB, 2. siap mentaati penjelasan amir nasional, 3. siap bergabung dg masyarakat dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Ismail Suparman akhirnya membuat pernyataan resmi, tanda tangan bermateri: siap untuk menaati SKB Tiga Menteri dan berbaur dengan masyarakat dalam segi sosial.

29 Januari 2011
Seorang warga ahmadiyah yang berada di Serang, menerima SMS teror, yang lantas dia teruskan kepada kolega-kolega Ahmadiyah. Kanit intel Polsek Cikeusik mendapatkan informasi bahwa GMC (Gerakan Muslim Cikeusik) memberikan waktu satu minggu kepada Ahmadiyah cikeusik untuk bubar.

31 Januari 2011
Dia melaporkan ancaman-ancaman verbal ini ke-instansi pemerintah yakni Kesbangpol Kabupaten Pandeglang.

4 Februari 2011
Suratep (salah satu warga Ahmadiyah) menerima kabar bahwa “tanggal 5 atau 6 Februari akan ada serangan.”
21 warga Ahmadiyah Cikeusik mengungsikan diri. Tiga warga lain tetap di lokasi guna berjaga-jaga properti Ahmadiyah berupa rumah Suparman.

5 Februari 2011
Suratep dan Suparman “diamankan” kepolisian (polres Pandeglang).

Saat Kejadian
Minggu, 6 Februari 2011.
Sekitar pukul 10 pagi, massa berjumlah 1.500 orang menyerang lokasi Ahmadiyah di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang. Terjadi adu lempar. Terjadi perlawanan. Korban berjatuhan dari pihak Ahmadiyah. Ada tiga orang yang tewas. Sejumlah korban luka serius kini dievakuasi ke rumah sakit Serang.

Pagi sebelum peristiwa penyerangan, Polisi membawa Parman, istrinya dan Tatep. Parman mubaligh Ahmadiyah kelahiran Cikeusik sementara Tatep ketua Pemuda Ahmadiyah Cikeusik. Polisi membawa mereka ke Polres Pandeglang dengan alasan ingin meminta keterangan atas status imigrasi istri Parman, warga Filipina. Ketiga warga Ahmadiyah tersebut masih berada di Polres Pandeglang hingga peristiwa penyerangan berakhir.

Warga Ahmadiyah Cikeusik diungsikan ke rumah keluarga Parman, yang jaraknya sekitar satu jam dari lokasi. Warga Ahmadiyah berjumlah 25 orang, mayoritas orang tua dan anak-anak.

Berdasarkan informasi ini, pemuda-pemuda Ahmadiyah dari Jakarta dan Serang pergi menuju Cikeusik. Tujuannya, melakukan pengamanan terhadap warga Ahmadiyah yang masih menetap di Cikeusik. Mereka tiba 6 Februari, sekitar pukul 8. Mereka berjumlah 18 orang [plus 3 orang warga Cikeusik] berjaga-jaga di rumah Parman.

Pada saat itu ada 6 petugas polisi dari reserse kriminal di lokasi. Sekira pukul 9 pagi, datang satu mobil pick-up polisi dan dua truk Dalmas [pengendali massa]. Mereka makan pagi bersama dan mengobrol. Ada dialog antara warga Ahmadiyah dan polisi. Polisi minta mereka untuk segera meninggalkan lokasi dan tidak melakukan perlawanan jika ada serangan. Warga Ahmadiyah menolak, lalu perwakilan polisi meninggalkan lokasi karena menerima telepon. Sejak saat itu tidak ada dialog kembali, warga Ahmadiyah berkumpul di dalam rumah.

Pada pukul 10 pagi, massa dari arah utara mendatangi lokasi warga Ahmadiyah. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan golok. “Ahmadiyah hanguskan!” -“Ahmadiyah bubarkan” -“Polisi minggir! Kami yang berkuasa di sini!”

Polisi yang masih berada di sekitar lokasi mendiamkan saja. Saat mereka mendekati halaman rumah Parman, wakil Ahmadiyah yang berjaga-jaga menenangkan. Namun massa makin beringas. Terjadi pemukulan. Melihat ada 21 Ahmadiyah yang bertahan keluar dari rumah, massa sempat mundur. Namun gelombang massa kian besar dari arah belakang. Serangan makin bersemangat. Serangan ini diperbesar kemudian dari arah selatan.

Seorang saksi mata mengatakan: “Kita bertahan. Terjadi hujan batu. Mereka makin mendesak. Kita terpojok. Kita masuk ke sawah. Kita bubar. Kita dikejar. Dipukulin.”

Penyerang berusaha mengejar anggota Ahmadiyah. Yang tertangkap di sawah-sawah ditelanjangi kemudian dipukuli secara brutal bersama-sama. Penyerang membawa senjata tajam : golok, pedang dan tombak. Penyerang terus memukuli warga Ahmadiyah yang tertangkap, ada empat orang. Batu-batu juga digunakan untuk memukul korban hingga tewas. Tiga warga Ahmadiyah tewas di lokasi penyerangan dan satu orang kemudian berhasil selamat namun terluka parah.

Warga Ahmadiyah yang bisa melarikan diri pun menerima banyak luka senjata tajam dan memar. Sebagian besar tubuh mereka penuh sayatan golok, wajah rusak, luka lebam.

Sementara yang terluka berat berjumlah empat orang dan luka ringan satu orang:
Ferdiaz, umur 30 tahun. Luka bacok di punggung. Betis kanan. Luka lebam di seluruh tubuh kecuali kepala (karena pakai helm). Dia berujar: “Saya dibacok golok. Digebukin pakai batu bata, batu koral. Punggung terasa remuk.”

Deden Sujana, umur 45 tahun. Luka bacok di pergelangan tangan kanan bagian luar. Kondisi nyaris terputus. Luka bacok di kaki, paha, tangan kiri. Kondisinya kini setengah sadar.

Pak Baby dari Jelambar, Jakarta Barat, umur 45 tahun. Matanya bengkak. Hidung keluar darah. Mulut keluar darah. Luka dalam.

Masihudin. Luka bacok di beberapa bagian tubuh. Wajah bengkak. Mata lebam. Mulut jontor. Dia ditelanjangi oleh massa di sawah lalu dipukuli.

Apip, luka ringan. Kini mereka dalam evakuasi perawatan di rumah sakit Serang.

Setelah Kejadian
8 Februari
Enam anggota Ahmadiyah yang ditahan di Polres Pandeglang. Di BAP disebutkan sebagai Saksi dan mendapat pendampingan dari LBH Jakarta dan kemudian dibebaskan.

Dua anggota Ahmadiyah yang diamankan di Polsek Cikeusik, diperiksa dan dibuatkan BAP sebagai saksi dan didampingi LBH Jakarta untuk selanjutnya dikembalikan ke keluarga masing-masing

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: -

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# UFO


# Ezra Walian


# Varian Covid-19


# Ralf Rangnick


# Aliran Dana Teroris



TERKINI
Liverpool Bantai Southampton 4-0 di Anfield

Liverpool Bantai Southampton 4-0 di Anfield

BOLA | 4 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings