Logo BeritaSatu

Mempercepat Vaksinasi Covid-19 di Tengah Kekhawatiran Varian Baru Virus dan Isu Penggumpalan Darah

Kamis, 18 Maret 2021 | 12:43 WIB
Oleh : Happy Amanda Amalia / PYA

Jakarta, Beritasatu.com – Sekitar 40 juta dosis diperkirakan telah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis maupun berbentuk bulk atau bahan baku. Dengan jumlah dosis sebanyak itu diharapkan proses vaksinasi Covid-19 berjalan lancar. Apalagi kini semakin banyak fasilitas dan akses vaksinasi, seperti bertambahnya lokasi vaksinasi dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan usaha swasta.

Menanggapi hal itu, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, ahli vaksin pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) mengatakan bahwa program vaksinasi yang telah dijalankan pemerintah sudah berjalan baik.

Advertisement

“Aksesnya dan sarananya sudah bagus. Di kota-kota besar seperti Jakarta, bandung, dan Surabaya), sudah berjalan lancar. Pemda-pemda juga sudah menjalankan dengan baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, pada Kamis (18/3).

Namun, masalahnya terletak pada warga masyarakat di mana masih banyak warga yang masih malas dan memilih menunggu dipanggil untuk menjalani vaksinasi. Padahal sekarang sudah tersedia jalur untuk pendaftaran. Begitu pula pada lansia. Sejauh ini masih banyak lansia yang belum divaksin. Ini karena lansia belum banyak mendapatkan bantuan agar bisa divaksinasi.
“Tidak ada yang bantu ngurus dari keluarganya,” tambah Sri Rezeki.

Padahal di luar negeri, vaksinasi lansia dibantu oleh swasta. Oleh karenanya, anggota keluarga yang lebih muda sebaiknya membantu, karena vaksinasi lansia hanya berlangsung dua hari saja: pada saat suntikan dosis pertama dan kedua.
Di samping itu, masyarakat tak perlu khawatir dengan adanya varian-varian baru virus Covid-19 yang sudah ditemukan di Indonesia. Sebab, semua virus pasti akan bermutasi.

“Dampak varian baru itu terhadap efek vaksin baru diketahui dalam jangka panjang,” kata Sri Rezeki, seraya menambahkan, bahwa yang jelas adanya varian tersebut jangan sampai menunda dan menghambat vaksinasi.

Begitu pula mengenai adanya penangguhan sementara penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca gegara isu penggumpalan darah. Pasalnya, kata Sri, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan aman. Penggumpalan darah merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol. Tidak divaksin pun, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah.

“Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin Covid-19) juga punya risiko tromboemboli (penggumpalann darah),” tuturnya.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi jadi tertunda-tunda akibat isu penggumpalan darah. Ini mengingat angka kasus penggumpalan akibat vaksin Covid-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1%. “Lain halnya jika kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi. Kita perlu kawatir,” katanya.

Sementara itu dokter I Made Cock Wirawan, dokter umum yang berpraktek Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar, Bali, mengatakan bahwa vaksinasi yang sudah dilakukan pemerintah sejauh ini sudah berjalan baik. Tenaga vaksinator juga jauh dari mencukupi, karena ada ribuan tenaga kesehatan yang diperbantukan dari TNI dan Polri.

Namun, Made menilai vaksinasi ini masih jauh dari harapan, karena jumlah vaksin yang sudah digunakan masih terbatas. Begitu pula proses vaksinasi yang relatif lambat bila dibandingkan dengan besaran sasaran yang ingin dicapai, dan kecepatan yang diharapkan. Ia melihat pada waktu vaksinasi tahap pertama, sempat terhambat, tetapi sekarang sudah lancar.

Made menekankan, “Karena lama kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin ini belum diketahui, maka dibutuhkan kecepatan proses pencapaian herd immunity,” ucap dokter yang akun Twitternya @blogdokter memiliki 1,8 juta pengikut itu.

Ia menambahkan, temuan varian baru virus Covid-19, seperti varian B1.1.7 turut memengaruhi percepatan vaksinasi. “Sebab dari beberapa penelitian dan pendapat ahli, vaksin yang saat ini dipakai masih bisa digunakan untuk (mencegah) varian baru Covid-19. Jadi, belum dperlukan penghentian vaksinasi,” kata Made, yang pernah bekerja sebagai dokter umum di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Sedangkan mengenai vaksin AstraZeneca, lanjut Made, perlu dilakukan review ulang terhadap studi klinis yang dilakukan AstraZeneca. “Langkah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang melakukan review pemakaian vaksin AstraZeneca sudah benar,” ujarnya.

Namun ia mengaku bahwa WHO dan AstraZeneca sudah memberikan penjelasan tentang kasus-kasus yang terjadi.

Sejauh ini data Kemenkes RI per 17 Maret 2021 menunjukkan, sebanyak 1.431.713 dari 1.468.764 tenaga medis sebagai penerima vaksinasi tahap pertama, sudah mendapatkan vaksinasi tahap pertama atau sekitar 97,48%. Sedangkan yang sudah disuntik dosis kedua sebanyak 1.208.113 tenaga medis (82,25%). Kemudian lansia yang menjadi penerima vaksin kedua berjumlah 21.553.118 orang. Namun yang sudah divaksin dosis pertama 836.628 (3,88%), dan yang menerima dosis kedua sebanyak 6.600 orang (0,03%).

Sementara itu, penerima vaksin tahap kedua yang berasal dari kelompok pekerja publik ditargetkan sebanyak 17.327.169 orang. Dari jumlah tersebut 2.436.907 orang sudah divaksin dosis pertama (14,06%) dan sebanyak 661.427 orang yang baru divaksin dosis kedua (3,82%). Bila ditotal, dari tiga kelompok tadi yang berjumlah 40.349.051 target, baru 4.705.248 orang yang sudah disuntik vaksin dosis pertama (11,66%) dan 1.876.140 orang (4,65%) yang sudah diinjeksi vaksin dosis kedua.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah orang divaksinasi terus dilakukan, seperti dengan memperbanyak lokasi vaksinasi dan menggandeng dunia usaha untuk melakukan vaksinasi drive thru. Selain itu juga pemerintah dan dunia usaha mendatangkan sejumlah vaksin Covid-19 dari luar negeri, baik melalui bilateral maupun multilateral seperti lewat lembaga internasional. Antara lain, dari Sinovac dan Sinopharm (Tiongkok), Moderna dan Pfizer (Amerika Serikat), dan AstraZeneca (Inggris). Bahkan ada berbagai tawaran dari beberapa produsen vaksin lain, seperti vaksin Sputnik V dari Rusia.

Sementara itu dari dalam negeri, sejumlah peneliti kini mengembangkan vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara yang bertujuan membantu pemerintah dalam penyediaan vaksin sehingga dapat mempercepat penanggulangan pandemi Covid-19.

Sejauh ini kedua calon vaksin itu masih menjalani ujicoba untuk melihat efektivitas, efikasi, dan keamanan. Meskipun kedua vaksin tersebut buatan dalam negeri, bukan berarti mendapatkan pengecualian dalam pemenuhan kajian ilmiah yang telah ditentukan oleh Badan POM. Semua itu dilakukan agar masyarakat yang natinya menggunakan vaksin tersebut merasa nyaman dan aman.

"Selama vaksin tersebut dibuat berdasarkan kaidah kaidah penelitian pembuatan vaksin dan tentu saja mendapatkan persetujuan dari BPOM," ujar Made.

Di luar itu, pemerintah terus menegakkan pentingnya mematuhi 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker), dan gencar melakukan 3T (test, tracing dan treatment), di mana kedua hal itu harus berjalan beriringan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# OTT Bupati Pemalang


# Brigadir J


# Bharada E


# Putri Candrawathi


# Prabowo Subianto


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Sering Asam Lambung, Pakar Kuliner Ini Jalankan Diet Gluten Free

Sering Asam Lambung, Pakar Kuliner Ini Jalankan Diet Gluten Free

LIFESTYLE | 3 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings