Logo BeritaSatu

Jalan Sunyi Cendekiawan Daniel Dhakidae

Sabtu, 10 April 2021 | 02:15 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / HA

Jakarta, Beritasatu.com - Dua hal kontras acap terjadi dalam hidup manusia. Ada orang baik yang hidupnya tidak sukses secara ekonomi dan sosial meski sudah bekerja ekstra keras. Di lain pihak, ada banyak orang jahat yang justru meraih sukses di bidang ekonomi dan sosial walau tidak perlu bekerja keras. Kontras ini kerap dilihat sebagai sebuah absurditas dan membuat orang baik kecewa dan mungkin ragu menjadi orang baik. Apalagi, banyak kejadian yang menunjukkan orang baik lebih cepat kehilangan nyawa, sedangkan orang jahat memperoleh kekayaan material, kerap mendapatkan publikasi luas, dan panjang umur.

Apa pun masalah yang terjadi dan konsekuensi pahit yang menimpa, menjadi orang baik adalah pilihan hidup yang benar. Pilihan hidup yang diputuskan setelah mendengarkan suara hati yang murni. Hati nurani yang belum terkontaminasi oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Hati nurani yang selalu berkata: “Dahulukan kepentingan umum, hak setiap warga negara, dan hak asasi manusia.”

Semujur-mujurnya orang jahat, jauh lebih mujur menjadi orang baik. Kita tidak boleh takut dan putus asa menjadi orang baik. Tidak ada absurditas dalam perjuangan menjadi orang baik di jalan sunyi. Kita tidak boleh mundur dari pilihan menjadi orang baik. Kendati tidak mendapatkan apresiasi dan kontraprestasi yang wajar, kita harus senantiasa tekun bekerja di jalan sunyi untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Kontras ini dijelaskan kembali oleh Romo Setyo Wibowo SJ saat membawakan renungan singkat pada misa suci dan pemberkatan jenazah almarhum Dr Daniel Dhakidae di RSPAD Gatot Subroto, Rabu (7/4/2021).

“Jalan salib adalah jalan sunyi. Salib adalah wahyu Tuhan yang membebaskan kita dari ketakutan akan derita dan maut. Salib adalah wahyu Tuhan untuk mendorong kita berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan, bekerja dengan jujur, mempertahankan integritas, dan bisa terus bergerak mewujudkan komitmen terhadap kemanusiaan,” papar Romo Setyo Wibowo.

Daniel mengembuskan napas terakhir, Selasa (6/4/2021), pukul 07.24 WIB di RS MMC Kuningan setelah mengalami serangan jantung pada pukul 03.00 dini hari. Jenazah disemayamkan di rumah duka RS Gatot Subroto Jakarta dan dimakamkan Rabu (7/4/2021) pagi di Kampung Kandang, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Daniel, kata Romo Setyo, adalah cendekiawan yang memilih jalan sunyi. Sebagai penulis, pemikir, dan peneliti, ia bekerja dalam diam seumur hidupnya. Ia bukan figur yang mengejar popularitas dengan tampil di televisi dan media sosial.

Namun, karya dan cara hidupnya memberikan kontribusi terhadap peradaban bangsa. Ketangguhannya dalam menjaga independensi sebagai ilmuwan--dengan tetap menjaga jarak dengan kekuasaan politik dan kekuatan uang--membuat dirinya sukses melahirkan produk berkualitas yang sepenuhnya demi kepentingan nasional dan kemanusiaan. Bagi Romo Setyo, lewat karya dan contoh hidupnya, Daniel sudah memanggul salibnya. Jalan sunyi yang dilaluinya adalah jalan salib.

“Jalan sunyi adalah jalan sebagai saksi Tuhan dan perjalanan sebagai saksi Tuhan akan membuahkan kebaikan dan keselamatan,” ungkap Romo Setyo.

Yesus yang tidak bersalah rela dipersalahkan dan setia memikul salib hingga wafat di kayu salib. Semua orang yang memberikan seluruh hidupnya untuk kebaikan bagi sesama akan memperoleh keselamatan.

”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” kata Yesus (Yohanes 14:6). Jalan salib adalah jalan Yesus. jalan kebenaran dan kehidupan. Salib membebaskan manusia dari absurditas atau usaha yang sia-sia. Tidak ada penderitaan yang sia-sia. Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Tidak ada pemanggulan salib yang sia-sia.

Lahir di Toto-Wolowae, Nagekeo, Flores, NTT, 22 Agustus 1945, Daniel meninggalkan rumah orang tua pada usia 11 tahun. Pada dua tahun terakhir sekolah rakyat (SR), ia harus meninggalkan kampung halamannya, Wekaseko, untuk melanjutkan pendidikan kelas V dan VI SR di Danga, Mbay, kini ibu kota Kabupaten Nagekeo. Selepas SR, ia ke Seminari Mataloko hingga kelas VII dan selanjutnya ke Seminari Tinggi Ritapiret di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Hanya bertahan dua setengah tahun dan baru di level novisiat dan tahun awal pendidikan filsafat, Daniel ke Yogyakarta, belajar di Fisipol Universitas Gadjah Mada, jurusan ilmu administrasi negara.

Setelah tamat tahun 1975, Daniel ke Jakarta. Di ibu kota, ia sudah memiliki sejumlah teman seperjuangan sebagai aktivis Malari, di antaranya dokter Hariman Siregar dan Dr Sjahrir (almarhum). Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) adalah aksi demo mahasiswa menentang rezim Orde Baru yang otoriter dan terlalu lemah menghadapi investasi asing yang tidak fair. Aksi demo ini memicu kerusuhan sosial serius. Sejumlah aktivis ditangkap dan dipenjara.

Sesuai minatnya, mulai 1976 Daniel bekerja sebagai redaktur Prisma, majalah milik Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ia kemudian dipercayakan sebagai pemimpin redaksi dan pemimpin umum hingga 1984 untuk selanjutnya ke Cornell University dan memilih Department of Government, Ilmu Politik, Ithaca, New York, dengan mengambil spesialisasi di bidang comparative politics sebagai major dan political thought (filsafat politik) dan Southeast Asia studies sebagai minor. Suami Lily Muliati Sanusi itu meraih master of arts bidang ilmu politik tahun 1987 dan PhD tahun 1991.

Disertasinya berjudul "The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry". Disertasi tersebut mendapat penghargaan The Lauriston Sharp Prize pada tahun yang sama, karena dinilai telah memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu.

Setelah lulus dari Cornell University, Daniel bergabung dengan Kompas pada 1991 dan dipercaya sebagai kepala litbang Kompas sejak 1994 hingga 2006. Selain aktif di bidang akademis dan penelitian, Daniel juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan Tifa, sebuah lembaga nonprofit yang fokus kepada isu-isu strategis di Indonesia.

Pada 2009, Daniel kembali mengaktifkan majalah Prisma di tengah gempuran media digital. Selain menjadi pemimpin redaksi, pada tahun 2011, ia merangkap menjadi pemimpin umum. Meneliti dan menulis adalah kegemaran hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dalam status sebagai pemimpin redaksi majalah yang menjadi bacaan wajib kaum terpelajar pada dekade 1970-an hingga paruh pertama dekade 1990-an.

Cendekiawan Sejati
Kepergian Daniel mendapatkan respons dari berbagai kalangan, baik yang mengenalnya sebagai keluarga, sahabat, rekan kerja, teman diskusi, maupun yang hanya mengenalnya lewat bacaan.

“Daniel seorang sahabat saya lebih dari 40 tahun. Saya selalu mengagumi Daniel. Ia mengomentari dengan kritis setiap isu penting di Indonesia. Generasi kami masih ingat Prisma di tahun 1970-an dan 1980-an, majalah yang wajib dibaca para intelektual Indonesia. Ia kritis dan low profile. Tulisannya tak pernah klise,” ungkap Romo Franz von Magnis Suseno lewat pesan WhatsApp yang dibacakan Romo Setyo Wibowo.

Di mata Dr Rizal Ramli, menko perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Daniel Dhakidae merupakan sosok cendekiawan dengan integritas akademik tidak tergoyahkan. Firm, tetapi enak untuk menjadi sahabatnya. “Daniel sahabat lama sejak ketika kami sama-sama di redaksi Prisma,” ujar aktivis mahasiswa era 1970-an itu. Daniel dan Rizal Ramli menulis pengantar buku Frans Seda "Simponi Tanpa Henti".

“Daniel seorang intelektual yang pantang menyerah dan tanpa pernah lelah. May he rest in peace,” demikian Rizal.

Sejak menderita sakit, kuartal kedua 2019, Daniel tetap bekerja memimpin Prisma hingga akhir hayatnya dan menyelesaikan tulisan tentang 50 tahun Prisma. Majalah Prisma dan LP3ES akan berulang tahun pada Agustus nanti.

Jalan Sunyi Cendekiawan Daniel Dhakidae

Daniel Dhakidae, demikian Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Wijayanto, merupakan sosok multidimensi. Meski bidang studi resmi yang dipelajarinya di UGM dan Cornell University adalah ilmu pemerintahan, ia menulis dengan baik berbagai masalah politik, sosial, media massa, budaya, dan sastra.

“Meninggalnya Daniel merupakan kehilangan besar bagi Prisma dan LP3ES,” katanya.

Tokoh Islam liberal, Ulil Abshar Abdalla mengaku sangat sedih atas kematian Daniel. Ia menilai Daniel sebagai salah satu intelektual di Indonesa yang sangat memengaruhi pemikirannya sebagai anak muda di era 1970-an hingga 1990-an. “Tulisan Bung Daniel merupakan salah satu yang membentuk formasi pemikiran saya, terutama tulisannya di Prisma,” kata Ulil.

"Requiescat In pace Bung Daniel Dhakidae. Persahabatan intelektual kita tak pernah berakhir. Terima kasih semua karya intelektualmu Bung, juga canda tawa dan kegigihanmu kala berdebat. Salam demokrasi, kami berkeras menjaga demokrasi, mendemokratisasikan demokrasi," tuilis juru bicara Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman dalam cuitan di akun Twitter-nya, Selasa (6/4/2021).

Majalah Prisma dan LP3ES nyaris identik dengan Daniel. Selama belajar di luar negeri ia tetap menulis di Prisma dan setelah pensiun dari Kompas ia kembali memimpin Prisma sebagai pemimpin redaksi dan premimpin umum.

“Hampir seluruh hidupnya ‘diwakafkan’ ke LP3ES dan Prisma,” ujar Prof Didik Rachbini, ketua Dewan Pengurus LP3ES.

Hidup Daniel memang tidak bisa dilepaskan dari Prisma. Setelah pensiun dari Prisma dia kembali memimpin majalah ini. Meski berbeda dari zaman keemasannya di era 1970-an hingga 1980-an, di tangannya Prisma bisa tetap terbit selama setengah abad.

Prisma dan LP3S adalah legenda intelektualisme pada zamannya, karena seluruh pemikir terbaik di negeri ini menulis di majalah tersebut. Sumitro Djojohadikusumo, Emil Salim, Subroto, Taufik Abdullah, Franz Magnis, Dorodjatun Kuntjorojakti, Juwono Sudarsono, Arief Budiman, Ignas Kleden, Nurcholis Madjid, Mochtar Pabottingi, Kuntowijoyo, dan sebagainya, menulis di Prisma.

Arsip Prisma dari tahun 1971 hingga 2021 lebih dari layak dijadikan bahan pelajaran untuk mengetahui arus sejarah pemikir dan pemikiran Indonesia di bidang politik, sosial, dan budaya selama setengah abad. Daniel menjadi besar sebagai intelektual karena bergumul dengan arus pemikiran besar itu.

Pergumulan intelektual Daniel tidak lain adalah pergumulan intelektual Prisma dan LP3ES. Dalam pergumulan itu, dia menjadi motor dari kehebatan Prisma. Prisma memberikan pengaruh terhadap bangsa ini selama hampir tiga dekade, 1970-an, 1980-an, dan 1990–an.

Didik menggambarkan Daniel dengan tiga kata, yakni: toleran, egaliter, dan independen. Sebagai individu, Daniel dinilai sangat toleran. Pergaulan dan pertemanan Daniel menembus batas primordial. Saat pertama bergabung di Prisma dan LP3ES, ia bekerja sama dengan rekan-rekannya yang lebih senior dan berbeda, seperti Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, dan Aswab Mahasin.

Daniel menikah dengan wanita pujaannya, Lily Muliati Sanusi, yang beragama Islam hingga akhir hayat. Lily sudah terlebih dahulu berpulang, 29 Juli 2019. Di KTP tertulis Daniel beragama Islam.

“Saya menyebutkan Daniel mewakafkan hidupnya untuk Prisma dan LP3ES karena dalam KTP ia tertulis beragama Islam,” canda Didik.

Didik menyebut Daniel sebagai intelektual egaliter. Dia meminta teman-temannya untiuk tidak memanggil dirinya Bapak. Karena dalam keseharian, panggilan Bapak merefleksikan hierarki dan itu dekat dengan feodalisme.

“Itu yang ditekankan Daniel kepada saya sambil tertawa,” kenangnya.

Daniel, kata Didik, menganjurkan rekannya menyapa dengan “Bung” agar lebih egaliter dan ada semangat juang. “Intinya, dia memberitahukan rekannya untuk menegakkan kultur egaliter mulai dari dalam pikiran dan jauhkan sikap feodal. Sikap feodal selalu dilawannya karena dinilai sebagai biang kemunduran bangsa,” papar Didik.

Feodalisme gaya Orde Baru sangat dibencinya. Dia menjadi intelektual yang keras terhadap pemerintahan Orde Baru. Dalam diskusi keseharian, kata Didik, Daniel sangat kritis terhadap pemerintahan era mana pun yang bersikap feodalistis dan otoriter.

Untuk menjaga independensinya dalam menulis tentang kepentingan nasional dan kemanusiaan, Daniel berusaha menjaga jarak dengan penguasa dan pemilik modal. Seorang cendekiawan harus menjaga jarak dengan kekuasaan dan kekuatan uang guna menjaga independensi dan agar tetap bisa memberikan pandangan yang jernih.

“Ia selalu berdiri sebagai intelektual yang menjaga jarak, bahkan sangat jauh dengan kekuasaan,” jelas Didik.

Sejak tahun lalu, kata Didik, Daniel bersama Wijayanto, Nasir Tamara, dan dirinya, sudah menengarai demokrasi dan kekuasaan di Tanah Air yang tidak lagi berjalan lurus, melainkan justru turning around.

“Intinya, saya ingin membedakan Daniel dengan bintang-bintang intelektual yang ada dan bergembira ria di sekitar dan di dalam kekuasaan,” ungkap Didik.

Didik mengaku mengenal Daniel sejak tahun 1980-an ketika dirinya manjadi bagian dari LP3ES, yakni bekerja di litbang LP3ES. Daniel menjadi bagian dari majalah Prisma yang pada masanya menjadi jurnal para intelektual di Indonesia.

“Bagi saya pribadi, kepergian Daniel adalah kehilangan besar karena dia teman diskusi kami di kantor LP3ES-Prisma,” jelas Didik. Menjelang 50 tahun LP3ES dan Prisma, 19 Agustus 2021, Daniel ikut mempersiapkan buku. Adiknya, Nikolaus Namai, yang mendampingi dia selama sakit hingga wafat menjelaskan, tulisan 50 tahun Prisma dan LP3ES sudah dirampungkan Daniel beberapa hari sebelum mengembuskan napas terakhir.

Banyak orang mengenal Daniel lewat tulisannya di Prisma dan Kompas. Namun, teman dekatnya seperti Hariman Siregar bisa dihitung dengan jari. Salah satu yang cukup dekat dengan Daniel, meski jauh beda generasi tetapi pernah bekerja di Prisma, adalah Agus Sudibyo, ahli media massa yang kini menjadi anggota Dewan Pers.

“Orangnya dingin dan cuek sekali. Itu kesan pertama saya tentang Daniel Dhakidae. Dia sudah menjadi orang besar dalam jagat intelektual di negeri ini ketika kami bertemu pertama kali. Sementara saya masih mahasiswa culun yang mencoba mencuri-curi pengetahuan dan perhatian dari senior sesama keluarga UGM di Jakarta,” jelas Agus.

“Saya sempat kehilangan harap untuk bisa dekat dengan senior satu ini. Namun, ini tak berjalan lama. Setelah saya memberanikan diri untuk berbicara dan menunjukkan kesungguhan untuk ‘berguru’, Bang Daniel menjadi sosok yang bertolak belakang. Dia begitu peduli dan ringan tangan. Dia mau menjadi pendengar yang baik, motivator yang tak kenal waktu, tempat curhat yang selalu membuka diri. Dia membantu saya dalam banyak hal, secara intelektual, secara jaringan dan finansial,” kenang Agus.

“Saya yakin, kebaikan dan keringantanganan itu diberikan Bang Daniel kepada banyak juniornya yang lain, dengan berbagai latar belakang. Selamat berpulang manusia langka. Semoga damai di surga! Keunikan dan kebaikanmu, abadi dalam ingatan kami,” tulis Agus dalam WhatsApp.

Kepergian Daniel Dhakidae merupakan kehilangan bagi bangsa Indonesia, paling tidak rekan seperjuangannya yang kritis dan selalu menjaga jarak dengan rezim penguasa. Hingga akhir hayatnya, ia tetap memelihara posisinya sebagai cendakiawan dengan segala konsekuensi.

"Daniel adalah sosok yang tepat disebut cendakiawan sejati," ujar rekan seperjuangannya ketika mendengar kabar pemimpin redaksi majalah Prisma itu meninggal dunia.

Seperti kata penyair WS Rendra, cendakiawan adalah mereka yang berumah di atas angin. Mereka tidak mau dekat dan berutang budi pada penguasa dan pemilik modal. Kedekatan membuat mereka kehilangan kebebasan untuk berekspresi dan independensi untuk membela mereka yang tertindas, tertinggal, dan terlupakan.

Cendakiawan Prancis, Julien Benda, dalam bukunya La Trahhison des Clercs, menulis tentang kaum intelektual di negerinya yang lebih mementingkan nilai praktis daripada nilai moral. Ia mengecam para intelektual yang menjual diri dan melacurkan ilmunya untuk mendapatkan posisi politik. Daniel jauh dari itu semua. Ia sukses merawat kecendakiawanannya hingga akhir hayat.

Scripta Manent
Daniel adalah cendekiawan yang mengutamakan kualitas, bukan kuantitas. Buku yang ditulisnya tidak banyak, tetapi semuanya memukau dan memberikan sumbangan besar terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Dalam buku “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” (2003) misalnya, Daniel menguak sisi gelap sejarah Indonesia yang selama ini menjadi pelajaran anak bangsa. Ia membongkar seluruh konspirasi sejarah yang selama ini menutup kebenaran.

Tanpa buku "Cendakiawan dan Kekuasaan", tidak ada pihak yang berani menguak kebohongan sejarah. Sejarah bangsa akan tetap gelap dan narasi yang ditulis justru semakin mendorong bangsa ini saling membenci. Sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para cendekiawan. Ke depan, peran para cendekiawan kian dituntut. Mereka harus independen dan nonpartisan agar kebijakan penguasa dan kiprah pemilik modal tetap selalu dikritisi.

Dalam buku "Menerjang Badai Kekuasaan" (2015), Daniel menggambarkan dengan menarik sejumlah paradoks kekuasaan politik. Paradoks pertama, “Kekuasaan Kaum Tak Berkuasa”. Pada bagian ini, Daniel menjelaskan keanggunan sosok Soe Hok Gie, Poncke Princen, Toety Azis, Pramoedya Ananta Toer, dan Rusli. Mereka tidak memegang kekuasaan politik. Namun, penguasa yang memiliki semua otoritas justru melihat mereka sebagai ancaman.

Paradoks kedua, “Kekuasaan Kaum Terbuang”. Daniel menggambarkan posisi Rohimah, Taufik, Kusni Kasdut, dan Henky Tupanwael yang dipandang sebagai sosok dari dunia gelap. Mereka adalah penjahat yang harus dibuang dari masyarakat. Namun, mereka justru berkuasa dalam dunia "gelap” untuk kepentingan dunia “terang”.

Pada paradoks ketiga, “Kaum Berkuasa dan Ke-tak-kuasa-an”, Daniel mengulas tentang posisi Mohammad Hatta, Margono Djojohadikoesoemo, Sam Ratulangi, Frans Seda, Abdurrahman Wahid, dan Soekarno. Separuh dari mereka lebih menunjukkan tragedi kekuasaan itu sendiri. Tragedi itu terletak pada ketidakberdayaan mereka yang sesungguhnya sangat mampu memecahkan soal demi harkat kemanusiaan.

Ada sejumlah judul buku yang ditulis Daniel dengan menarik di antaranya "Perempuan, Politik, dan Jurnalisme" (1994) dan "Social Science and Power in Indonesia" (2004), yang disuntingnya bersama Vedi Renandi Hadiz, profesor di Department of Sociology, National University of Singapore.

Sebagai analis media massa, politik, sosial, dan kebudayaan, Daniel tidak pernah berhenti meneliti dan menulis. Banyak mahasiswa era 1970-an hingga dekade 1990-an yang selalu mengikuti tulisan Daniel di Prisma, Kompas, dan Tempo. Meski tidak mengajar rutin di universitas, ia acap diminta untuk menguji para calon doktor, dalam dan luar negeri.

Verba volant, scripta manent, kata pepatah Latin, yang artinya: pesan lisan akan hilang, tetapi tulisan akan abadi. Tulisan Daniel akan menjadi sumbangan besar bagi ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa ini.

Hosana
Daniel adalah petarung sejati. Pada pukul 03.00 WIB, Selasa (6/4/2021), ia memanggil adik kandungnya yang tidur di lantai atas rumahnya di kawasan Larangan, Ciledug, Tangerang. Ketika Nikolaus Namai sampai ke ruang tidurnya, Daniel sudah duduk di kursi. Ia mengeluh perih di dada dan kesulitan bernapas. Ia minta segera diantar ke rumah sakit.

“Kak Daniel berjalan sendiri ke mobil dan sesampai di Rumah Sakit MMC, ia juga turun dan berjalan sendiri ke UGD. Sesampai di UGD, ia langsung membaringkan diri di tempat tidur yang tersedia,” jelas Nikolaus.

Dalam perjalanan hingga di saat berbaring di UGD, kata Nikolaus, ia hanya menyebut berulang-ulang satu kata, yakni hosana. “Hosana, hosana, hosana,” kata Nikolaus mengenang abangnya.

Pada pukul 07.24 WIB, menjelang dipindahkan ke ICU, Daniel mengembuskan napasnya yang terakhir. Tidak ada seruan lain selain hosana. Ia pun pergi dengan tenang di usia 76 kurang empat bulan. Wajahnya tidak menampakkan kesedihan.

Jalan Sunyi Cendekiawan Daniel Dhakidae

Hosana adalah seruan warga Yerusalem ketika Yesus memasuki kota itu untuk merayakan Paskah. Ketika orang banyak itu melihat Yesus memasuki Yerusalem, mereka berseru: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Matius 21: 9)

Secara harfiah, hosana berarti “Kami mohon selamatkanlah kami!” Hosana sering dianggap sebagai pernyataan pujian seperti kata haleluya. Namun, arti kata hosana yang sebenarnya adalah permohonan untuk keselamatan.

Pada Minggu (4/4/2021) dini hari, dalam perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta untuk penerbangan ke Sumba, NTT, saya mengirim ucapan selamat Paskah kepada Kakak Daniel. Putra sulung budeku itu merespons.

[4:43 AM, 4/4/2021] Primus Dorimulu: Kak Daniel, Selamat Paskah. Salam sehat dan damai.
[9:05 AM, 4/4/2021] Dhaniel Dhakidae: Happy Easter Ade Primus dan damai untuk seluruh keluarga.

Cendekiawan sejati itu tetap setia melangkah di jalan sunyi hingga akhir hayatnya untuk mengembangkan peradaban serta membela kebenaran dan keadilan. Jalan sunyi adalah jalan salib dan jalan salib bukan sebuah absurditas, melainkan jalan menuju keselamatan.

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Roma 6:5). Mereka yang setia memikul salibnya akan bangkit bersama Yesus.

Selamat jalan, Kak Daniel. Sampai jumpa di keabadian.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Dede Yusuf Pertanyakan Aksi Represif Aparat dalam Tragedi Kanjuruhan

Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf mempertanyakan aksi represif aparat keamanan dalam tragedi Kanjuruhan.

NEWS | 4 Oktober 2022

DPR Setujui 9 Komisioner Komnas HAM Periode 2022-2027

DPR menyetujui sembilan nama komisioner Komnas HAM periode 2022-2027 dalam sidang paripurna yang digelar di gedung DPR, kompleks Parlemen, Jakarta.

NEWS | 4 Oktober 2022

Pangkogabwilhan II Novyan Samyoga Meninggal Dunia, Ini Sosoknya

Kadispenau Marsekal Pertama Indan Gilang Buldansyah mengatakan, Marsdya Novyan Samyoga meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena sakit.

NEWS | 4 Oktober 2022

Presiden PKS: Anies Baswedan Mampu Menjadi Simbol Perubahan

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mampu menjadi perubahan untuk Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyambut positif langkah Partai Nasdem.

NEWS | 4 Oktober 2022

Masyarakat Papua Diharapkan Tinggalkan Kediaman Lukas Enembe

Masyarakat Papua diharapkan dapat memberi ruang kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memeriksa Gubernur Papua, Lukas Enembe.

NEWS | 4 Oktober 2022

Dipanggil Polisi, Rizky Billar Diminta Kooperatif

Rizky Billar diminta kooperatif saat dipanggil polisi. Rizky diminta memenuhi panggilan polisi terkait KDRT yang dia lakukan terhadap sang istri, Lesti Kejora.

NEWS | 4 Oktober 2022

Barang Bukti Kasus Tewasnya Brigadir J, Ada 3 Pistol

Polri melimpahkan barang bukti kasus tewasnya Brigadir J, Salah satu barang bukti yang dilimpahkan, adalah pistol.

NEWS | 4 Oktober 2022

NEC Indonesia akan Tampilkan Solusi Keuangan Digital di WFIS 2022

PT NEC Indonesia (NEC Indonesia) akan menampilkan solusi keuangan digitalnya termasuk solusi electronic Positive Identification (ePID)di gerai NEC pada acara “World Financial Innovation Series (WFIS) 2022” yang akan digelar pada 4-5 Oktober 2022 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta.

NEWS | 4 Oktober 2022

Moeldoko Sebut Lahan di Bima Cocok untuk Budidaya Sorgum

Moeldoko menyebutkan lahan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai cocok untuk budidaya tanaman sorgum.

NEWS | 4 Oktober 2022

Nasdem Calonkan Anies, Wagub Riza: Itu Hak Setiap Parpol

Nasdem mengusung Gubernur Anies Baswedan sebagai calon presiden pada Pemilu 2024. Wagub Riza menilai, keputusan itu merupakan hak setiap parpol.

NEWS | 4 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Tingkatkan Pasokan Listrik, PLN Gandeng Kejari Kota Bekasi

Tingkatkan Pasokan Listrik, PLN Gandeng Kejari Kota Bekasi

NEWS | 21 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings