Logo BeritaSatu

Pelecehan Online, Situs Web Ini Digunakan untuk “Membungkam” Suara Wanita Muslim Berpendidikan di India

Sabtu, 10 Juli 2021 | 11:10 WIB
Oleh : Surya Lesmana / LES

New Delhi, Beritasatu.com - Pekan lalu, belasan wanita Muslim di India menemukan bahwa mereka telah disiapkan dalam daftar untuk dijual secara online.

Hana Khan, seorang pilot komersial yang namanya ada dalam daftar tersebut, mengatakan kepada BBC, dia mengetahui hal itu ketika seorang teman mengiriminya tweet.

Tweet itu mengarahkannya ke "Sulli Deals", sebuah aplikasi dan situs web yang telah mengambil gambar wanita yang tersedia untuk umum dan membuat profil, menggambarkan wanita sebagai "promo hari ini".

Halaman arahan aplikasi memiliki foto seorang wanita tak dikenal. Di dua halaman berikutnya, Khan melihat foto-foto teman-temannya. Di halaman setelah itu dia melihat dirinya sendiri.

"Saya menghitung 83 nama. Mungkin ada lebih banyak lagi," katanya.

"Mereka mengambil foto saya dari Twitter dan itu memiliki nama pengguna saya. Aplikasi ini berjalan selama 20 hari dan kami bahkan tidak mengetahuinya. Ini membuat saya merinding."

Aplikasi itu berpura-pura menawarkan pengguna kesempatan untuk membeli "Sulli", istilah slang yang menghina yang digunakan oleh kelompok Hindu sayap kanan untuk wanita Muslim. Tidak ada lelang nyata dalam bentuk apa pun, tujuan aplikasi ini hanya untuk merendahkan dan mempermalukan.

GitHub, platform web yang menghosting aplikasi open source tersebut, menutupnya dengan cepat setelah ada keluhan. "Kami menangguhkan akun pengguna setelah penyelidikan laporan aktivitas semacam itu, yang semuanya melanggar kebijakan kami," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Tetapi pengalaman itu telah membuat para wanita terluka. Mereka yang tampil di aplikasi ini semuanya Muslim vokal, termasuk jurnalis, aktivis, artis, atau peneliti. Beberapa telah menghapus akun media sosial mereka dan banyak lainnya mengatakan mereka takut akan pelecehan lebih lanjut.

"Tidak peduli seberapa kuat Anda, tetapi jika foto Anda dan informasi pribadi lainnya dipublikasikan, itu membuat Anda takut, itu mengganggu Anda," kata wanita lain kepada BBC Hindi.

Tetapi beberapa wanita yang detailnya dibagikan di aplikasi ini telah bersumpah untuk melawan. Belasan dari mereka telah membentuk grup hatsApp untuk mencari, dan menawarkan dukungan dan beberapa dari mereka, termasuk Hana Khan, telah mengajukan pengaduan ke polisi.

Warga, aktivis, dan pemimpin terkemuka juga telah berbicara menentang pelecehan tersebut. Polisi mengatakan, mereka telah membuka penyelidikan tetapi menolak untuk mengatakan siapa yang berada di balik aplikasi tersebut.

Orang-orang yang membuat aplikasi menggunakan identitas palsu, tetapi Hasiba Amin, koordinator media sosial untuk partai oposisi Kongres, menyalahkan beberapa akun yang secara teratur menyerang Muslim, terutama wanita Muslim, dan mengklaim mendukung politik sayap kanan.

Ini bukan pertama kalinya, kata Amin, perempuan Muslim menjadi sasaran dengan cara ini. Pada 13 Mei, ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, sebuah saluran YouTube menayangkan "Idul Fitri lelang" langsung wanita Muslim dari India dan Pakistan.

"Orang-orang menawar lima rupee dan 10 rupee, mereka menilai wanita berdasarkan bagian tubuh mereka dan menggambarkan tindakan seksual dan mengancam pemerkosaan," kata Hana Khan.

“Amin memberi tahu saya bahwa pada hari itu, sebuah akun anonim mencoba "melelang" dia di Twitter. Beberapa orang lain, satu bernama @sullideals101, bergabung, ia mempermalukan saya dan menggambarkan tindakan seksual yang kotor", kata Hana Khan.

Dia percaya bahwa mereka yang mencoba melelangnya di Twitter adalah orang yang sama yang berada di balik aplikasi Sulli Deals dan saluran YouTube, yang sejak itu telah dihapus oleh platform tersebut.

Para pegiat mengatakan, pelecehan online memiliki kekuatan untuk "meremehkan, merendahkan, mengintimidasi, dan akhirnya membungkam perempuan".

Sebuah laporan Amnesty International tentang pelecehan online di India tahun lalu menunjukkan, semakin vokal seorang wanita, semakin dia menjadi sasaran. Kondisi ini sama seperti perempuan kulit hitam yang di Inggris dan Amerika Serikat. Perempuan dari agama minoritas dan kasta yang kurang beruntung lebih banyak dilecehkan di India.

Nazia Erum, penulis dan mantan juru bicara Amnesty di India, mengatakan, ada beberapa wanita Muslim di media sosial dan mereka "diburu dan dihantui".

"Aksi yang ditargetkan dan direncanakan ini adalah upaya untuk mengekang suara dari wanita Muslim berpendidikan yang mengekspresikan pendapat mereka dan berbicara menentang Islamofobia. Ini adalah upaya untuk membungkam mereka, mempermalukan mereka, untuk mengambil ruang yang mereka tempati," katanya.

Amin mengatakan para pelaku pelecehan "tidak takut karena mereka tahu mereka akan lolos begitu saja”.

Dia menunjuk beberapa kasus baru-baru ini terhadap Muslim yang didorong oleh pendukung partai BJP yang berkuasa di India.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: bbc.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Disanksi Demosi 4 Tahun, AKBP Raindra Tak Ajukan Banding

 AKBP Raindra Ramadhan Syah tidak mengajukan banding saat putusan sanksi demosi empat tahun imbas dari kasus tewasnya Brigadir J

NEWS | 28 September 2022

Kasus Brigadir J, AKBP Raindra Disanksi Demosi 4 Tahun

Mantan Kasubdit 1 Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Raindra Ramadhan Syah disanksi demosi 4 tahun terkait kasus tewasnya Brigadir J

NEWS | 28 September 2022

Jokowi Diberi Gelar Dada Ma Dopo Malomo oleh Sultan Ternate

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Kesultanan Ternate, yaitu Dada Ma Dopo Malomo

NEWS | 28 September 2022

Gobel: Mendikbudristek Tak Paham Kebutuhan Indonesia

Wakil Ketua DPR Bidang Korinbang, Rachmat Gobel mengkritik pernyataan Mendikbudristek Nadiem Makarim tentang keberadaan tim bayangan

NEWS | 28 September 2022

Komisi III Gelar Fit and Proper Test 2 Calon Pimpinan KPK

Komisi III DPR akan menggelar fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan dua calon pimpinan KPK pengganti Lili Pintauli Siregar

NEWS | 28 September 2022

Sidang Putusan, KPK Yakin Eks Dirjen Kemendagri Dinyatakan Bersalah

Eks Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Mochammad Ardian Noervianto bakal menghadapi sidang dengan agenda pembacaan putusan

NEWS | 28 September 2022

Jokowi Dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Kesultanan Ternate

Jokowi dianugerahi gelar kehormatan adat Kesultanan Ternate pada acara yang diselenggarakan di Kedaton Sultan Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

NEWS | 28 September 2022

Program Vaksinasi Covid-19 Diperluas untuk WNA

emerintah memperluas program vaksinasi Covid-19, yakni tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga menyasar WNA.

NEWS | 28 September 2022

Dapat Kewarganegaraan Rusia, Edward Snowden Tak Ikut Perang Ukraina

Presiden Vladimir Putin telah memberikan kewarganegaraan Rusia kepada pelapor Badan Keamanan Nasional AS (NSA) Edward Snowden.

NEWS | 28 September 2022

Anggaran Pemilu 2024 KPU Kota Bogor Capai Rp 4,1 Miliar

Pemerintah mengucurkan anggaran Rp 4,1 miliar untuk penyelenggaraan Pemilu 2024 kepada KPU Kota Bogor

NEWS | 28 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Surplus APBN


# Kompor Listrik


# AKBP Arif Rachman


# Lukas Enembe


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Disanksi Demosi 4 Tahun, AKBP Raindra Tak Ajukan Banding

Disanksi Demosi 4 Tahun, AKBP Raindra Tak Ajukan Banding

NEWS | 12 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings