Logo BeritaSatu

IDI: Rangkaian Pengobatan yang Tepat Selamatkan Deddy Corbuzier

Selasa, 24 Agustus 2021 | 23:59 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Tim Pedoman dan Protokol Kesehatan dari Tim Mitigasi PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Eka Ginanjar menilai, rangkaian pengobatan satu sama lain yang saling mendukung menyelamatkan ilusionis sekaligus YouTuber Deddy Corbuzier dari kematian akibat Covid-19 dan badai sitokin.

Diketahui Deddy terpapar virus Covid-19 dan hampir meninggal dunia karena terjadi badai sitokin dalam tubuhnya. Kemudian ia dinyatakan negatif namun paru-parunya mengalami kerusakan hingga 60%. Namun diakui saturasinya masih normal.

“Saya kurang tahu pasti fakta di lapangannya bagaimana dan apa yang telah dilakukan oleh tim dokter yang merawatnya saat di rumah sakit. Namun pastinya tim dokter melakukan yang maksimal. Terkait saturasinya normal bisa juga karena adanya bantuan oksigen tepat waktu,” katanya kepada Beritasatu.com, Selasa (24/8/2021) malam.

Diakui, adanya bantuan oksigen tentu membantu pasien Covid-19 agar saturasinya terkontrol dengan baik. Namun yang pasti badai sitokin terjadi pada orang-orang yang mengalami penyakit penyerta atau komorbid dan virus di dalam tubuhnya cukup banyak.

“Selain itu Deddy juga terbantu oleh daya tahan tubuhnya yang kuat dan pola hidup sehat selama ini yang dilakukan serta terlatih cukup baik hingga mencapai pemulihan. Jadi ada beberapa faktor yang menentukan, seperti obat yang diberikan, dukungan yang didapat saat berada di rumah sakit seperti bantuan oksigen, selalu dikontrol oleh dokter dan perawat serta sebagainya,” ungkap dr Eka.

Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) itu menuturkan terkait apa penyebab Deddy terpapar dari virus biasa, Covid-19 varia delta atau varian jenis lain, hal ini harus dibuktikan dahulu secara medis.

Menurutnya, varian delta atau varian lain itu menimbulkan gejala yang sama. Varian delta hanya lebih kepada penyebarannya yang disinyalir lebih cepat. Mulai dari virus masuk ke dalam tubuh, merusak paru-paru dan sel-sel tubuh. Setelah itu mulai timbul gejala inflamasi atau peradangan sampai minggu kedua atau hari kelima hingga ketujuh. Bila semakin parah, akan timbul badai sitokin.

Badai sitokin muncul maka pasien dalam kondisi kritis. Makanya pasien Covid-19 bisa meninggal karena badai sitokin yang membuat organ vital tubuh terganggu seperti terjadinya gumpalan darah, banyaknya cairan, paru-paru rusak dan sebagainya. Oleh karena itu tata laksana di minggu awal itu sangat penting diketahui dan upaya mengatasinya pengobatan secepat mungkin dilakukan.

Dr Eka menjelaskan, seseorang bisa lolos dari badai sitokin dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya saja pengobatan yang terkontrol dan optimal dari tenaga kesehatan dan ada faktor daya tahan tubuh yang kuat. Semua itu menjadi faktor yang membuat pemulihan lebih cepat.

“Kita tak bisa mengklaim, dia bisa lolos dari kematian akibat badai sitokin karena daya tahan tubuh yang kuat dan pola makan sehat, atau karena oksigen saja. Semua rangkaian satu sama lain yang saling mendukung. Jadi ada yang selamat dan ada juga yang tidak selamat,” urai dr Eka.

Berdasarkan pantauannya, selama ini banyak korban seperti yang dialami Deddy Corbuzier namun tidak terselamatkan karena telat melakukan pengobatan, saat kondisi tubuh sudah semakin parah. Misalnya saja orang yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah tanpa kontrol yang ketat, telat ke datang ke rumah sakit, atau bahkan tidak menyadari gejala yang dialami.

Maka dari itu, ia pun menyarankan pada pasien Covid-19 sebaiknya melakukan terapi oksigen sedini mungkin karena gejala yang masih ringan di awal minggu membuat terselamatkan. Tetapi akan lain hal ketika terlambat dilakukan saat oksigen tubuh sudah turun, saturasinya dibawah 90, sudah alami sesak napas yang berat. Kondisi ini masuk kritikal dan banyak yang tak selamat, walaupun ada juga yang bisa selamat karena banyak faktor yang mempengaruhi.

“Makanya ketika isoman penting sekali terpantau dan tahu ciri-ciri saat yang tepat untuk kapan harus datang atau masuk ke rumah sakit atau isolasi terpusat. Jangan menyatakan masih sehat-sehat saja dan kuat, karena dalam Covid ini ada situasi happy hypoxia yakni penurunan kadar oksigen dalam darah namun tidak merasakan sesak napas,” jelasnya.

Hal ini berbahaya karena bisa menipu. Akan lebih baik pasien segera ke rumah sakit. Bila positif dan jelang minggu kedua dan alami demam yang tidak turun-turun dan ada sesak, secepatnya ke rumah dating untuk dapatkan pertolongan dan dirawat.

Sementara untuk long Covid, hal ini tidak bisa dibedakan mana orang yang terkena dan tidak. Hal ini sangat tergantung pada kerusakan organ yang terjadi baik saat terpapar maupun dirawat. Untuk kasus Deddy ia tergolong cepat dalam pemulihan seminggu hingga dua minggu. Namun ada juga yang sebulan hingga dua bulan, bahkan lebih.

“Yang lama itulah yang biasanya mengalami long Covid dan biasanya ada komorbid dan badan tidak sehat seperti yang biasanya terkena paru, jantung dan lainnya. Sementara kalau badannya sehat maka pemulihannya cepat,” kata dr Eka.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# MotoGP 2022


# Ukraina


# Persik


# Sirkuit Formula E


# Holywings


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Update Covid-19: Tambah 864, Kasus Aktif Sentuh 16.174

Update Covid-19: Tambah 864, Kasus Aktif Sentuh 16.174

NEWS | 11 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings