Logo BeritaSatu

Nadiem: AKM Dirancang untuk Mengukur Capaian Peserta Didik

Kamis, 7 Oktober 2021 | 20:37 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / JEM

Badung, Beritasatu.com- Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, asesmen kompetensi minimum (AKM) dalam pelaksanaan asesmen nasional (AN) dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif, yaitu literasi dan numerasi. Salah satu yang ingin diukur dalam AKM adalah kemampuan bernalar dan daya analitis peserta didik.

"Kemampuan bernalar dan menganalisis siswa bukan dilihat dari materi pelajaran, melainkan bagaimana metode guru dalam mengajar sehingga berkontribusi terhadap kemampuan siswa dalam bernalar dan menganalisis," kata Nadiem meninjau pelaksanaan AN dan berdialog dengan warga sekolah di SMP Negeri I Kuta Selatan, Bali, Kamis (7/10/2021)

Dalam dialog tersebut, Made Parmili, guru mata pelajaran PPKN di SMPN 1 Kuta Selatan menilai AKM lebih menekankan pada literasi dan numerasi sehingga kurang terkait dengan kurikulum, sedangkan beban kurikulum cukup berat.

Menanggapi hal tersebut, Nadiem menjelaskan bahwa semua guru mata pelajaran memiliki kontribusi karena kemampuan literasi dan numerasi melekat di semua mata pelajaran.

“Jadi literasi itu bukan tentang mata pelajaran bahasa Indonesia. Numerasi bukan hanya tentang mata pelajaran matematika. AKM mengukur kemampuan bernalar di bidang literasi dan numerasi, yaitu kemampuan menganalisis informasi, kemudian memecahkan permasalahan dengan logika. Ini adalah kompetensi minimum yang penting, dan guru berperan dalam itu semua. Guru berkontribusi terhadap kemampuan anak-anak bernalar,” terang Nadiem.

Ia menyebutkan, metode mengajar guru menjadi salah satu faktor penentu dalam mengembangkan kemampuan bernalar siswa, misalnya bagaimana anak-anak terbiasa memberikan opini di dalam kelas atau bagaimana mereka melakukan analisis. Metode mengajar yang aktif dan menarik akan mampu menciptakan kelas menjadi lebih hidup.

“Kita mendorong ke arah itu. Jadi bukan soal mata pelajaran, tetapi kemampuan mendasar, yaitu kemampuan bernalar. Itu yang kita tes,” katanya.

Pada kesempatan sama, Nadiem juga memuji implementasi peraturan gubernur (pergub) Bali tentang mengenakan busana adat setiap hari Kamis. Pasalnya, pergub tersebut bukan hanya pakaian adat Bali, tetapi juga bisa dari daerah lainnya. Menurut Nadiem, kebijakan tersebut sangat baik untuk menumbuhkan nilai-nilai kebinekaan, toleransi, dan nasionalisme.

Ia menyebutkan, kebijakan tersebut selaras dengan AN menjadi survei yang pertama kali menyetarakan nilai-nilai Pancasila, kebinekaan, dan akhlak, melalui pertanyaan-pertanyaan dalam survei.

AN juga menjadi alat pertama untuk mengetahui tingkat toleransi yang hasilnya akan diberikan terbatas kepada kepala sekolah.

“Jadi tingkat toleransinya seperti apa, atau ada indikasi seperti apa, nanti itu semua dilaporkan ke kepala sekolah supaya ditindaklanjuti dan didiskusikan dengan guru-guru,” ujarnya.

Selain itu, hasil AN juga menjadi data dan informasi untuk sekolah, agar bisa melakukan perbaikan-perbaikan untuk sekolahnya.

Terkait metode survei yang digunakan dalam AN, Nadiem menegaskan bahwa secara statistik hasil AN akan tetap representatif. Dalam hal ini, kepala sekolah dan guru tidak perlu khawatir mengenai peserta AN l yang jumlahnya hanya 45 siswa per sekolah dan sudah ditentukan nama-namanya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Jumlah itu yang secara agregat menentukan kira-kira nilai rata-ratanya seperti apa. Jadi tidak perlu khawatir. Secara sampling akan representatif karena kita pakai aturan statistik yang sangat kuat,” tandasnya.

Pada kesempatan sama, Kepala SMPN 1 Kuta Selatan, I Made Antara mengatakan, sebanyak 45 siswa Kelas XIII di SMPN 1 Kuta Selatan mengikuti AN pada 6-7 Oktober 2021.

Pada 6 Oktober 2021, para peserta mengerjakan AN untuk literasi dan survei karakter, sedangkan pada 7 Oktober 2021 mengerjakan numerasi dan survei lingkungan belajar. Secara umum, pelaksanaan AN di SMPN 1 Kuta Selatan berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada persiapan khusus.

“Pelaksanaannya dimulai sejak kemarin, lancar dan tidak ada masalah. Internet juga tidak ada masalah. Kami juga tidak melakukan persiapan khusus. Jadi seperti saran Mas Menteri (Mendikbudristek), kita tidak perlu menyiapkan secara khusus, apalagi anak-anak peserta AN diambil secara acak dari pusat (Kemendikbudristek). Jadi kita hanya mengondisikan anak-anak dan membuat jadwal sesi pertama, kedua, dan seterusnya,” ujar I Made Antara.

Ia menyebutkan, berbeda dengan siswa, AN yang diikuti oleh guru SMPN 1 Kuta Selatan sudah dimulai sejak 4 Oktober 2021. Ada 61 guru yang mengisi survei lingkungan belajar. Para guru juga diberikan fleksibilitas dalam mengisi survei, sehingga survei bisa dikerjakan secara bertahap dan dari mana saja.

“Ada yang mengisi di rumah atau di sekolah. Jadi kan sudah dibagikan link (tautan), kemudian mereka mengerjakan dengan gawai masing-masing. Ada juga yang mengisi sambil bekerja di sekolah karena menjadi panitia AN. Jadi dari mana pun bisa mengerjakan survei, hanya anak-anak yang datang serentak ke sekolah untuk AN,” kata I Made Antara.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Malaysia Open


# Rusia


# Roy Suryo


# Tjahjo Kumolo Meninggal


# Ayu Anjani


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Indonesia dan Vietnam Kritik Jadwal Piala AFF U-19 2022

Indonesia dan Vietnam Kritik Jadwal Piala AFF U-19 2022

BOLA | 5 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings