Logo BeritaSatu

Praktisi: Nasi Goreng, Kunci Skenario Pelaku Pembunuhan Amel

Minggu, 5 Desember 2021 | 19:25 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Praktisi hukum Ricky Vinando menyatakan bahwa nasi goreng dalam kasus pembunuhan Tuti dan Amalia Mustika Ratu menjadi kunci skenario pelaku pembunuh. Seperti diketahui telah lebih dari 100 hari kasus tewasnya Tuti dan Amalia (Amel) berlalu dan menyita perhatian masyarakat Indonesia.

Tetapi Polda Jabar masih belum bisa mengungkap kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat, tersebut. Adapun yang terkini, penyidik Polda Jabar kembali meminta keterangan dari Yosef, Yoris, Yanti, dan Danu, terkait pembunuhan Tuti dan Amalia di Mapolda Jabar pada Kamis (25/11/2021) lalu.

Dalam pemeriksan, Yosef dicecar 40 pertanyaan seputar aktivitasnya pada 17 Agustus dan 18 Agustus atau sebelum dan ketika menemukan kedua korban. Penyidik juga sempat memperlihatkan satu foto meja makan yang berisi nasi goreng di piring dan alumunium foil berisi makanan yang tidak diketahui jenisnya. Penyidik juga menanyakan tentang adanya puntung rokok di dalam asbak.

Mengenai nasi goreng yang ada di meja makan dalam rumah yang jadi TKP, Yosef melalui pengacaranya Fajar Sidik mengatakan Amel tidak pernah memasak, biasanya membeli secara online, belanja ke luar. Saat membeli makanan seperti nasi goreng, biasanya Amel tidak langsung menaruh makanannya itu di piring, tetapi meletakkan makanan berikut bungkusnya di atas piring. Namun hal tersebut disangsikan praktisi hukum Ricky Vinando.

"Mengenai itu, saya ragu total. Karena Amel sudah tiada, jadi itu tak bisa dikonfirmasi lagi kebenarannya. Yang paling tahu bagaimana kebiasaan Amel saat makan nasi goreng, apakah makanannya langsung ditaruh di piring atau makanan beserta bungkusnya diletakkan di atas piring, hanya Tuhan yang tahu soal kebiasaan Amel makan nasi goreng, bukan Yosef," kata Ricky melalui keterangan, Minggu (5/12/2021).

Bahkan Ricky juga mempertanyakan, setelah menjalani pemeriksaan ke-16 tersebut, Yosef yang menjadi saksi kunci, memberikan keterangan melalui pengacaranya yang lain yaitu Rohman Hidayat bahwa kalau melihat ada nasi goreng di meja makan rumah yang jadi TKP, maka Yosef tidak mungkin bikin nasi goreng di rumah Mimin.

"Pertanyaannya mengapa Yosef sampai pulang ke rumah Mimin pada 17 Agustus malam? Apakah karena tidak ada nasi goreng di TKP atau untuk berjumpa sama Mimin? Mimin, kan Mimin yang telepon, dijawab Yosef, sebentar, dan pulang benar ke rumah Mimin. Jadi, Yosef pergi dari TKP bukan karena soal nasi goreng, tapi karena ditelepon Mimin," papar Ricky.

"Tujuan Yosef ke rumah Mimin kan untuk bertemu dengan istri tersayang kan, Bu Mimin, tak ada urusan bikin nasi goreng di rumah Mimin, karena sangat tidak masuk akal kalau hanya demi masak nasi goreng sampai harus di rumah Mimin. Memangnya di rumah Yosef sama sekali tidak ada beras, tak pernah stok beras? Masa korban sebagai ibu rumah tangga tidak pernah masak nasi? Masak juga tak ada penanak nasi sampai Yosef harus masak nasi goreng dan numpang makan di rumah istri muda? Yang benar aja, saya tak yakin korban sejahat itu," imbuhnya.

"Apalagi Mimin pernah mengatakan saat Yosef sampai di rumahnya, Mimin sedang menonton televisi, tetapi saat itu Yosef bilang Mimin sudah tidur saat sampai di rumah Mimin. Itu saja tidak sinkron bagaimana bisa percaya soal bagaimana kebiasaan Amel saat makan nasi goreng. Bahkan Mimin tak pernah bilang Yosef bikin sendiri nasi goreng saat di rumah Mimin. Jadi, keterangan Yosef soal nasi goreng, saya patut sanksi, karena sangat tidak masuk di akal, korban tak ada beras di rumah, masak sampai tak ada lagi nasi di malam itu, kan bukan keluarga susah?"

Menurut Ricky apakah selama ini Yosef tidak pernah diberikan makan oleh anak dan istrinya sehingga istrinya masak nasi secukupnya saja dan beras disembunyikan. Sehingga tak masuk diakal tak ada stok beras dan tak ada nasi sampai membuat Yosef harus bikin nasi goreng di rumah istri mudanya, Mimin. Apalagi Yosef pernah mengatakan bahwa Amel adaah anak yang paling disayanginya, sehingga menurut Ricky menjadi tidak logis apabila Amel membuat Yosef sampai terpaksa harus numpang makan dan masak sendiri nasi goreng di rumah Mimin.

Menurut Ricky mengenai misteri nasi goreng, itu hanya bisa terjawab dengan sidik jari yang ada di piring itu, alumunium foil itu, dari itu akan ketahuan sidik jari siapa yang paling baru umurnya dan paling dekat dengan waktu terjadinya tindak pidana pada 18 Agustus 2021.

"Periksa juga saudara kandung korban Tuti Suhartini yaitu saksi Yanti dan periksa juga saksi Yoris kakak Amel, apa benar di rumah yang menjadi TKP tidak pernah terdapat beras? Karena kata Yosef, Amel tak pernah masak. Apa benar Amel tak pernah masak sampai membuat Yosef harus masak sendiri nasi goreng di rumah Mimin? Masa juga korban ibunya Amel tak pernah masak?" tanya Ricky.

"Jadi, piring dan aluminum foil yang jadi wadah nasi goreng dan makanan lainnya serta meja makan dan kursi, itu petunjuk terbaik untuk mengungkap siapa saja orang-orang yang terakhir bersama dua korban. Karena sidik jari yang umurnya baru dan terdekat dengan waktu terjadinya pembunuhan pasti ada di spot-spot tadi saya sebut, orang itulah patut diduga terlibat," ujar Ricky.

Ricky juga menjelaskan adanya orang yang bisa membawa nasi goreng itu karena diduga kuat kunci rumah sudah diambil terlebih dahulu sebelum kejadian. Hal ini merujuk kepada keterangan Yosef pada 18 Agustus pagi yang mengatakan kuncinya ada yang ambil. Sehingga berdasarkan keterangan Yosef, pelaku sangat gampang masuk ke dalam rumah karena rumah diduga tidak dikunci pada 17 Agustus 2021 malam menjelang kejadian pada 18 Agustus 2021.

"Jadi, nasi goreng itu adalah skenario pelaku, karena malam itu tidak ada petunjuk hukum Amel dan ibunya sempat keluar rumah," ujarnya.

Menurutnya, jika kunci tidak diambil sebelum kejadian, maka waktu terbunuhnya korban pertama menjadi sangat tak logis bisa dihabisi tepat saat korban sedang tidur pulas. Sehingga patut dipertanyakan juga bagaimana caranya pelaku bisa kamar korban pertama dan mengapa pelaku lebih memilih menghabisi korban pertama memakai papan penggilas pakaian, bukan dibekap menggunakan bantal?

Lanjut Ricky, secara psikologis, itu terkesan ada amarah yang luar biasa dari pelaku kepada korban pertama, sehingga penggilas pakaian dihantamkan ke kepala korban hingga berakibat tewas dengan tulang tengkorak kepala sampai retak. Karena jika dibekap pakai bantal, masih ada kemungkinan korban pertama bisa melihat pelakunya dan melakukan perlawanan.

"Dengan menggebuk kepala korban pakai papan penggilas pakaian, korban sudah tak bisa lagi melihat pelaku dan susah melawan karena sekali hantam saja sakitnya luar biasa, pendarahan hebat, terlebih lagi usia korban pertama sudah 55 tahun, dan dari cara membunuh tersebut, pelaku terkesan tak ingin korban pertama melihat siapa pelaku. Dirinya mempertanyakan bagaimana bisa tahu pada di atas jam 00:00 WIB korban pertama sudah tidur? Dan saat 18 Agustus pagi, saksi Yosef memberikan keterangan kepada para wartawan bahwa kunci rumah ada yang ambil," pungkas Ricky.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# MotoGP 2022


# Ukraina


# Persik


# Sirkuit Formula E


# Holywings


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Malaysia Open: Fikri/Bagas Menang Mudah, Shesar Raih Keberuntungan

Malaysia Open: Fikri/Bagas Menang Mudah, Shesar Raih Keberuntungan

SPORT | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings