Covid-19 dan “Revolusi” Pendidikan
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Covid-19 dan “Revolusi” Pendidikan

Opini: Seto Mulyadi
Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Rabu, 6 Mei 2020 | 08:00 WIB

Rasanya, belum pernah ada transformasi pendidikan yang berlangsung sehebat seperti saat ini. Virus corona, makhluk yang menjadi musuh dunia itu, kini justru menghasilkan efek revolusioner bagi dunia pendidikan, termasuk dunia pendidikan di Tanah Air. Semua orang seolah diharuskan melakukan sekian banyak penyesuaian yang--kontras dengan sifat destruktif virus--justru berlangsung konstruktif.

Pertama, semua sekolah mendadak menjelma sebagai lembaga berbasis teknologi informasi. Dulu, IT-based system merupakan salah satu bahan sekolah mempromosikan dirinya. Sekarang, kelebihan itu kehilangan keistimewaannya. Eksesnya, karena kegiatan belajar mengajar mengandalkan aplikasi interaktif, setiap keluarga harus mengalokasikan anggaran ekstra untuk menyediakan paket data internet bagi putra-putri tercinta. Masyarakat dari kelas ekonomi bawah sangat mungkin mengalami kesulitan untuk itu.

Kedua, telah sejak lama digaungkan bahwa keberhasilan pendidikan juga menuntut adanya partisipasi aktif sektor dunia usaha dan masyarakat. Di samping dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, masyarakat sesungguhnya masih mencari-cari bentuk keterlibatan yang dapat mereka lakukan.

Kini, berkat pandemi Covid-19, ruang partisipasi itu terbuka menjadi sangat lebar. Orang-orang yang selama ini tidak menekuni dunia pendidikan tiba-tiba muncul jiwa pendidiknya. Dengan kreatif, mereka berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan di rumah. Juga dengan menggunakan aplikasi interaktif komputer. Menjelmalah ungkapan: “pendidikan untuk semua, semua untuk pendidikan”.

Ketiga, khususnya sekolah-sekolah swasta menyelenggarakan program belajar yang lebih berorientasi individual. Kurikulumnya tetap sama, misalnya, pendidikan kesehatan jasmani. Namun pendekatan dan prosesnya dimodifikasi besar-besaran, yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada siswa untuk gerak badan selama sekian menit di rumah masing-masing. Dipadukan dengan mata pelajaran kesenian, kegiatan olah raga harus direkam siswa dengan sentuhan animasi secantik mungkin. Unik dan asyik, memang. Tapi tetap saja ada orangtua yang mengeluh sambil berkelakar, “Senamnya memang hanya lima belas menit. Tapi memvideokannya sampai tuntas memerlukan waktu lebih dua jam.”

Menelusuri kembali lini masa, pendidikan berbasis rumah sebetulnya sudah bermunculan sejak tahun tujuh puluhan. Sementara praktik kerja dari rumah, sering diistilahkan sebagai SOHO alias small office home office, baru marak satu dasawarsa kemudian seiring dengan kemajuan teknologi komputer portabel.

Pendidikan berbasis rumah bermula ketika tokoh pendidikan, John Holt, menggugat pendidikan (sekolah) konvensional yang dipandangnya menjadikan siswa-siswa sebagai karyawan yang patuh. Penyeragaman siswa berlangsung sedemikian parah, sehingga mengerdilkan bahkan mematikan kekhasan serta potensi individual.

Holt secara tajam menggalakkan program tidak menyekolahkan anak-anak. Tidak menyekolahkan (unschooling), namun tetap menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak. Kampanye memerdekakan pendidikan anak-anak itu terwakili oleh nama jurnal yang diterbitkan oleh Holt: Growing without Schooling.

Perubahan “Mindset”
Pendidikan atau sekolah berbasis rumahan bukan sekadar menutup pintu sekolah lalu memindahkan kelas ke rumah. Agenda terpenting adalah mengubah mindset, bahwa, alih-alih guru, orangtualah yang harus lebih dominan. Alih-alih sekolah, rumah adalah tempat ternyaman guna memperoleh ilmu pengetahuan baru. Alih-alih membandingkan pencapaian belajar antarsiswa, pemetaan sekaligus pengembangan karakteristik dan potensi individual setiap anak yang patut lebih dikedepankan.

Dengan pendekatan sedemikian rupa, situasi pandemi Covid-19 sesungguhnya tidak mengejutkan bagi para peserta homeschooling. Para homeschoolers tetap berproses seperti yang sudah mereka lakukan selama ini. Bedanya, mereka ber-homeschooling berdasarkan perencanaan matang, sementara berjuta siswa dan keluarga Indonesia sejak dua bulan lalu mulai ber-homeschooling berdasarkan paksaan keadaan.

Karena belajar seperti biasanya, maka praktis tidak ada perubahan pada kurikulum homeschooling. Sasaran pendidikan tetap sama. Para orangtua pun tetap mendampingi buah hati mereka sebagaimana lazimnya.

Berbeda dengan sekolah-sekolah konvensional yang boleh jadi terpaksa merevisi target-target program pendidikannya. Orangtua pun tidak sedikit yang harus melewati tahap keguncangan psikologis saat adanya peran “baru” yang harus mereka pikul.

Apa pun itu, saya lebih memilih untuk melihat hikmah dari Covid-19. Bukan hanya wabah penyakitnya yang mengglobal, tapi pendidikannya juga ikut berrevolusi secara global pula.

Filosofi Ki Hajar Dewantara
Sejenak, di atas saya sebut transformasi pendidikan akibat Covid-19 sebagai “revolusi” atau perubahan besar yang berlangsung secara tiba-tiba. Namun sejujurnya, apakah itu semua merupakan praktik yang sungguh-sungguh baru dalam pendidikan?

Andai kita lebih memahami sejarah, jauh bermasa-masa sebelum Holt membangun pergerakan homeschooling, Ki Hajar Dewantara sudah lebih dulu meletakkan fondasi berpikir tentang pendidikan berbasis rumah tersebut. Yaitu melalui sesanti beliau, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Filosofi yang dikemukakan Ki Hajar sekitar satu abad lalu itu ternyata baru mewujud hari ini. Dunia pendidikan, di belahan dunia mana pun, hari ini menyeragamkan pendekatan mereka: homeschooling atau sekolah-rumah. Penyeragaman yang justru lebih menghargai kemanusiaan anak didik selaku insan yang penuh dengan keunikan.

Di tengah badai Covid-19, tanpa sadar, lewat homeschooling, seluruh manusia--tak terkecuali anak-anak--digembleng untuk membangun alpha mindset. Yakni, keyakinan sekaligus kerendahan hati bahwa kita tetap mampu belajar serta menjadikan segala sesuatunya lebih baik. Tiada lain, kancah bagi mekar dan berseminya alpha mindset itu adalah rumah.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS